Laman

Rabu, 31 Mei 2017

Infeksi Gigi Picu Sakit Jantung dan Meningitis

Infeksi gigi picu sakit Jantung dan Meningitis, Seringkali dianggap sepele masalah pada daerah gigi dan mulut. Masyarakat kita banyak yang hanya menganggap luka atau infeksi yang terjadi pada gigi sebagai masalah yang biasa-biasa saja, yang akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Namun, siapa yang menira bahwa berawal dari infeksi di daerah mulut dapat menyebabkan penyakit baru lainnya yang akan timbul seperti jantung, bahkan hingga penyakit meningitis.

Infeksi Gigi Picu Sakit Jantung dan Meningitis

"Infeksi gigi picu sakit jantung dan meningitis. Oleh sebab itu, jika ada masalah yang ada di gigi dan mulut jangan dianggap kecil. Pada mulut dan gigi memang terdapat kuman, namun kumannya tidak bersifat patogen. Mereka sifatnya baru akan menyebabkan penyakit bila sudah memenuhi syarat akan terjadinya infeksi," jelas Mangatas Manalu, yang meruakan seorang dokter ahli penyakit dalam Rumah Sakit Mayapada.

"Selain itu, banyak juga masyarakat yang memiliki masalah pada mulut dan gigi lalu datang ke pihak yang tidak kompeten sehingga infeksi gigi picu sakit jantung dan meningitis. menjadi infeksi berat karena tidak sesuai dengan standar kemudian infeksi tersebut menyebar luas ke organ lain hingga mengharuskan agar dibawa ke Gawat Darurat.”

Itu bukan lelucon. Kisah Mangatas yang pernah menemukan seorang pasien yang terkena infective endocarditis atau radang yag terdapat pada lapisan dalam jantung. Dan ketika diteliti lebih lanjut untuk menemukan, apa penyebab penyakit tersebut, akhirnyapun di temukan keberadaan bakteri yang biasa ada di mulut manusia, bakteri itu bernama Streptococcus viridans, pada jaringan yang meradang.

Untuk penelusuran lebih lanjut, keberadaan bakteri yang terdapat pada mulut tersebut bersumber dari infeksi yang terjadi di sekitar gigi pasien sebelum terjadinya radang pada jantung. Infeksi yang terjadi sudah menyebar luas hingga bakteri kemudian bakteri itu berpindah melalui aliran darah dan menyerang jaringan yang ada di jantung.

Mangatas memaparkan, infeksi dan perpindahan bakteri tersebut memang jarang sekali terjadi. Namun, meskipun seperti itu tidak menutup kemungkinan adanya perpindahan bakteri, terutama bila syarat infeksi terpenuhi, yakni hanya dengan jumlah bakteri yang cukup untuk menginfeksi, adanya migrasi mikroba dari satu organ menuju ke organ lainnya, karena terjadinya kelemahan pada organ, adanya perubahan lingkungan yang mendukung untuk terjadinya infeksi, hingga bakteri yang mutan seperti bertambahnya resistensi bakteri akibat penggunaan antibiotik yang sembarangan.

Jumlah Dokter Gigi di Indonesia Masih Minim

Peluang besar untuk terjadinya infeksi akan semakin besar pada penanganan masalah pada gigi dan mulut bila tidak langsung dilakukan oleh pihak yang berkompeten pada bidangnya, dalam hal tersebut yang terjadi adalah tenaga medis kedokteran gigi. Dan ternyata untuk di Indonesia, dalam penanganan masalah gigi oleh tenaga ahlinya masih tergolong rendah sekali.

Berdasarkan data yang sudah diperoleh dari Kementerian Kesehatan yang dirilis sejak 2014, untuk jumlah seluruh penduduk Indonesia yang mengalami masalah pada gigi dan mulut meningkat dari 23 persen pada 2007 menjadi 26 persen pada 2013 lalu. Adapun kelompok usia yang sangat rentan dengan penyakit gigi dan mulut adalah pada usia lima hingga sembilan tahun, dan usia 45 hingga 54 tahun.

Namun, adanya kenaikan jumlah penduduk di Indonesia dengan masalah gigi ternyata masih memiliki kemampuan yang masih cukup rendah dalam menjangkau tenaga medis yang berkualitas.Hal itu dapat dilihat dari capaian effective medical demand (EMD) yang hanya mencapai 8,1 persen pada 2013. EMD yang merupakan persentase penduduk yang memiliki masalah dengan gigi dan mulut lalu mendapat pelayanan medis dalam 12 bulan terakhir.

"Banyak berbagai macam jenis penyakit yang tiba-tiba muncul akibat dari meluasnya infeksi pada gigi dan mulut, seperti infective endocarditis, yakni radang selaput otak atau meningitis. Kedua penyakit itu pernah ditemukan. Kemudian infeksi dapat pindah ke paru sehingga menyebabkan pneumonia. Atau yang lainnya seperti ke kandung kemih, jantung dan ginjal. Jika terjadi infeksi gigi tidak bisa dianggap remeh," jelas Mangatas.

Perkataan Mangatas tersebut didukung dengan temuan yang dilakukan oleh Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung lalu dipublikasikan dalam Sari Pediatri pada 2013 lalu. Penelitian yang dilakukan tersebut menyebutkan bahwa anak dengan riwayat infeksi gigi memiliki risiko sebanyak 2,7 kali lebih tinggi mengalami Henoch Scholenim Purpura atau HSP dibanding pada anak yang tidak infeksi gigi. Pengertian HSP itu sendriri adalah penyakit peradangan pembuluh darah yang umum diderita oleh anak yang berusia dibawah 10 tahun, dengan memiliki potensi kerusakan ginjal.

Pergeseran Penyakit Akibat Infeksi

Farichah Hanum yang merupakan Ketua Umum Persatuan Dokter Gigi Indonesia atau PDGI mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran tren penyakit yang di akibatkan oleh infeksi yang ada di dunia. Pada abad 1900, penyakit infeksi yang terjadi cenderung menular seperti kolera. Namun, sudah memasuki milenium baru ini, untuk penyakit infeksi yang terjadi lebih didominasi karena Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti penyakit stroke, jantung, serta diabetes yang dapat menyebabkan kematian hingga 58 persen.

"Masalahnya itu adalah faktor risiko PTM itu ada yang sama dengan penyebab penyakit di rongga mulut. Sehingga bila penanganan infeksi yang berada pada rongga mulut baik, maka risiko PTM yang terjadi secara bersamaan akan berkurang," tutur Farichah.

"Mulut yang merupakan pintu masuk ribuan kuman walaupun tidak menyebabkan penyakit. Tapi untuk rongga mulut ini adalah cermin juga dari tubuh, penyakit yang ada di tubuh dapat dilihat dari mulut,” jelasnya.

Menurut Mangatas, “Beberapa pencegahan akan terjadinya infeksi yang mengerikan dapat dilakukan sejak dini, seperti agar mengurangi konsumsi gula yang tinggi karena gula dapat membuat kondisi mulut menjadi asam dan sangat memudahkan terjadinya infeksi.

Selain itu, dengan meggosok gigi secara teratur sesudah sarapan dan sebelum tidur dengan menggunakan pasta gigi. Kemudian membersihkan gigi dengan cara yang aman, seperti dengan menggunakan dental floss.

Terakhir, Farichah kembali mengingatkan kepada semua pihak untuk selalu rutin mengecek kondisi gigi ke dokter gigi setiap enam bulan sekali dalam rangka pencegahan dan deteksi dini kerusakan gigi dan mulut. Hal tersebut akan bermanfaat guna mencegah penyebaran infeksi menjadi penyakit yang lebih berbahaya lagi. 

Selasa, 30 Mei 2017

Vaksin Untuk Bayi dan Anak Dijamin Oleh Kemenkes

Vaksin untuk bayi dan anak, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr Mohamad Subuh, MPPM, mengatakan bahwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menjamin vaksin untuk bayi dan anak Indonesia aman dilakukan karena merupakan produksi dalam negeri yang keamanannya cukup diawasi dengan ketat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Vaksin Untuk Bayi dan Anak Dijamin Oleh Kemenkes

Sementara, BPOM untuk setiap dua tahun akan dilakukan pengkajian oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Ia menerangkan, imunisasi merupakan upaya aktif untuk menimbulkan antibodi atau kekebalan spesifik yang efektif dalam mencegah penularan penyakit tertentu dengan cara memberikan vaksin, khususnya vaksin untuk bayi dan anak. Setelah imunisasi Antibodi yang terbentuk akan bermanfaat untuk melindungi tubuh dari serangan bakteri dan virus tersebut di masa yang akan datang.

Kemenkes menegaskan bahwa, pemerintah itu wajib memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Undang-undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009. Bagi siapa saja yang melanggar peraturan tersebut harus dikenakan sanksi. Jadi wajib berikan vaksin untuk bayi dan anak.

“Kemenkes memberikan jaminan vaksin untuk bayi dan anak Indonesia aman, karena vaksin yang diperoleh merupakan produksi dalam negeri yang keamanannya sudah diawasi ketat oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), sedangkan BPOM itu sendiri sendiri setiap 2 tahun akan di-review oleh WHO,” jelasnya.

Ini merupakan salah satu kegiatan prioritas pemerintah dan merupakan aset yang sangat penting untuk dapat mencapai salah satu target dalam Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu dengan mengakhiri kematian bayi dan balita yang dapat dicegah, dengan upaya yang dilakukan oleh seluruh negara untuk berusaha menurunkan angka Kematian Neonatal setidaknya hingga 12 per 1.000 KH dan angka Kematian Balita 25 per 1.000 KH. Dimana untuk target capaian yang sudah ditetapkan pada Tahun 2019 mendatang adalah 93% anak yang berusia 0-11 bulan di Indonesia sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

“Imunisasi yang juga merupakan salah satu intervensi kesehatan yang paling sukses dan hemat biaya. Imunisasi dapat mencegah antara 2 sampai 3 juta kematian untuk setiap tahun dan apabila cakupan imunisasi telah berhasil ditingkatkan maka jumlah kematian yang dapat dicegah akan bertambah lagi sekitar 1,5 juta kematian,” tutur dr. Subuh.

Dari berbagai macam penyakit yang ada, Penyakit-penyakit yang Dapat Dicegah Dengan pemberian Imunisasi (PD3I), yakni tuberkulosis, difteri, pertussis (batuk rejan), tetanus, hepatitis B, polio, campak, pneumonia (radang paru) dan meningitis (radang selaput otak) semuanya itu merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Haemophilus influenzae tipe b, diare yang disebabkan infeksi rotavirus, serta PD3I lainnya seperti influenza dan meningitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri meningokokus.

“Kami akan mengajak kepada seluruh masyarakat seperti tokoh agama dan tokoh masyarakat RT/RW, ibu-ibu PKK, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dunia usaha, termasuk seluruh kaum cendikiawan untuk dapat ikut serta dalam meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan anak bangsa dengan melalui pemberian imunisasi,” ujar dr Subuh.

Senin, 29 Mei 2017

Kenali Vaksin Terbaru di 2017 ini

Kenali vaksin terbaru di 2017 ini, Para ibu si buah hati, sudahkah buah hati Anda yang tercinta diimunisasi? Kalau belum, maka sudah waktunya untuk melakukan imunisasi dan menambah pengetahuan tentangnya. Perlu diketahui oleh para ibu, ada tiga vaksin baru di tahun 2017 ini. Ketiga vaksin itu masuk dalam Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Dengan demikian, totalnya itu ada delapan vaksin yang dapat dan perlu diberikan pada anak.

Kenali Vaksin Terbaru di 2017 ini

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI yakni H.M Subuh menerangkan, bahwa tiga vaksin terbaru ini adalah demonstrated project yang akan dilakukan sebanyak empat provinsi di 2017. Keempatnya diantaranya berada di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Oleh sebab itu, kenali vaksin terbaru di 2017 ini. Adapun tiga vaksin terbaru yang hadir antara lain, sebagai berikut:


1. Rubella

Vaksin Rubella itu dapat berwujud vaksin tunggal atau pun dapat dikombinasikan dengan vaksin virus lainnya. Kombinasi yang biasa ditemukan itu adalah Rubella dengan vaksin pencegah campak (MR); Rubella, vaksin pencegah campak, dan gondok (MMR); dan Rubella, vaksin pencegah campak, gondok, dan varicella (MMRV).  Untuk RCV ini biasa diberikan pada anak dengan usia 12 sampai 15 bulan. Sedangkan MR atau MMR biasanya mengikuti jadwal setelah imunisasi campak. dengan kita wajib kenali vaksin terbaru di 2017 ini sehingga dapat mencegah sejak dini.

Rencananya, vaksin ini akan menggantikan imunisasi campak di tahun 2017. "Anak yang terkena Rubella akan memiliki kelainan kesehatan mulai dari buta, tuli, hingga kelainan jantung. Dibandingkan harus membiayai anak dengan kondisi seperti ini dalam seumur hidup, lebih baik melakukan pencegahan dengan melakukan imunisasi. Vaksin ini bisa membantu," kata Nila F. Moeloek yang merupakan Menteri Kesehatan (menkes).

2. Pneumococcus

Streptococcus pneumoniae atau pneumococcus adalah bakteri penyebab dari pneumonia (radang paru), infeksi pada telinga, sinus, meningitis, dan juga infeksi pada saluran darah. Melihat bahayanya yang di timbulkan dari dampak bakteri ini, rasanya sangat wajar jika kemudian WHO merekomendasikan untuk pemberian vaksin pencegahnya. Pada tahun ini ada vaksin baru yang perlu diberikan oleh anak-anak untuk dapat mencegah risiko terjangkitnya virus pneumococcus.

3. Human Papillomavirus (HPV)

Inilah merupakan vaksin yang sempat menjadi kontroversi pada bulan November 2016 lalu karena dipercayai dapat menyebabkan menopause sejak dini. Namun, pernyataan tersebut dibantah keras oleh Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Depkes RI yakni dr.Elizabeth Jane Soepardi. Menurutnya, hingga 14 tahun keberadaan vaksin HPV di dunia, tidak memiliki bukti ilmiah yang memberikan pernyataan bahwa vaksin ini dapat menyebabkan mati haidh di usia muda (menopause).

"Vaksin ini terbilang mahal oleh karena itu vaksin massalnya harus dapat memiliki persetujuan DPR lebih dulu. Lalu, dari mana kami dapat persetujuan itu? Dengan sudah adanya bukti ilmiah bahwa vaksin ini sangat efektif untuk menangkal kanker serviks," jelas Jane. Vaksin itu sendiri diberikan pada anak yang usia kelas lima dan enam SD. Tujuannya untuk mencegah kanker leher rahim (serviks) sebelum anak-anak ini aktif secara seksual.

Dengan demikian, dari ketiga vaksin di atas tersebut akan melengkapi lima vaksin sebelumnya dalam Imunisasi Dasar Lengkap (IDL). Sedangkan, untuk lima vaksin yang sebelumnya antara lain yaitu:

1. BCG Polio 1

BCG Polio 1 ini berguna untuk mencegah penularan Tuberculosis (TBC) dan polio, biasanya vaksin ini diberikan ketika bayi berusia sebulan.

2. Bulan DPT-HB-Hib 1 Polio 2

Pemberian vaksin itu berguna untuk mencegah polio, difteri, batuk rejan, tetanus, hepatitis B, meningitis dan juga pneumonia. Vaksin ini diiberikan saat bayi berusia dua bulan.

3. DPT-HB-Hib 2 Polio 3

Serupa dengan pencegahan di nomor yang sebelumnya yakni vaksin ini diberikan untuk mencegah polio, batuk rejan, difteri, tetanus, hepatitis B, meningitis, dan pneumonia. Hanya saja vaksin ini diberikan oleh bayi yang berusia tiga bulan.

4. DPT-HB-Hib 3 Polio 4

Masih serupa dengan pencegahan di nomor sebelumnya yakni diberikan untuk dapat mencegah polio, difteri, batuk rejan, tetanus, hepatitis B, meningitis, dan pneumonia. Hanya diberikan pada bayi yang berusia empat bulan.

5. Campak

Untuk dapat mencegah terkenanya campak. Diberikan ketika buah hati sudah berusia sembilan bulan.

Para ibu, kini sudah semakin tahu seputar tentang vaksin yang perlu diberikan oleh si buah hati bukan? Semoga informasi yang diberikan dapat bermanfaat. Pastikan juga agar selalu memberikan perawatan dan melakukan imunisasi terhadap buah hati agar ia senantiasa dalam keadaan sehat dan jauh dari berbagai risiko penyakit yang berbahaya hingga yang menyebabkan kematian

Jumat, 26 Mei 2017

Meningitis Dapat Melumpukan dan Tuli

Meningitis dapat melumpuhkan dan tuli, Vaksinasi meningitis wajb dilakukan bagi calon jemaah haji yang akan melaksanakan ibadah umrah dan haji ke tanah suci. Kementerian Kesehatan menyebut bahwa melakukan vaksinasi memang wajib untuk dilakukan karena penyakit ini sangat berbahaya juga mematikan.

Meningitis Dapat Melumpuhkan dan Tuli


Dari pihak Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan, yakni dr Muchtaruddin Mansyur, MS, SpKO, menjelaskan bahwa benar meningitis dapat melumpuhkan dan tuli, selain itu, meningitis adalah termasuk penyakit yang sangat sulit untuk dapat disembuhkan. Jika dapat disembuhkan pun, kasus yang sudah banyak terjadi bagi pasien yang sudah dikatakan sembuh biasanya tidak total.

"Artinya bisa seperti itu disebabkan oleh adanya penyerangan pada selaput otak. Sehingga meningitis dapat melumpuhkan dan tuli. Meningitis itu juga merupakan radang selaput otak. Sehingga kalau dinyatakan sembuh pun syaraf-syaraf sudah terganggu, dengan begitu pasien dapat mengalami entah lumpuh, entah tuli ataupun entah bisu. Kalau pasien tidak sembuh juga dalam masa pengobatan maupun tidak dapat mengakibatkan meninggal dunia," terang Muchtar.

dalam Situs WebMD juga menyebut bahwa meningitis sejatinya tergolong penyakit yang jarang sekali ditemui. Penyebabnya itu sendiri beraneka ragam, ada yang disebabkan karena adanya virus, bakteri, parasit dan jamur. Meningitis yang bersumber akibat adanya jamur yang tergolong langka karena biasanya jamur itu hanya hidup di permukaan kulit saja dan tidak sampai utnuk dapat masuk ke dalam aliran darah.

Sementara untuk meningitis yang diakibatkan oleh virus biasanya memiliki gejala yang mirip sekali dengan flu dan tidak berakibat fatal. Dengan adanya penanganan dari dokter selama pengobatan berlangsung, meningitis yang diakibatkan oleh virus dapat disembuhkan dengan total dalam waktu 2 minggu. Namun ada juga sebagian kecil kasus virus enterovirus dan herpes, virus yang masuk ke dalam tubuh melalui aliran darah dan menetap di meniges atau selaput pelindung otak dan saraf tulang belakang.

perlu diketahui, bahwa meningitis yang sangat berbahaya adalah yang disebabkan oleh bakteri. Adapula beberapa jenis bakteri yang rentan menyebabkan meningitis adalah Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae dan Listeria monocytogenes. Jika bakteri tersebut sudah menetap di mengines dan dapat menyebabkan peradangan, risiko gangguan pada syaraf pun akan terus meningkat pesat. Yang terakhir adalah meningitis yang di akibatkan oleh parasit. Seperti yang sudah diketahui bahwa parasit atau amuba itu bila sudah masuk ke dalam tubuh akan menjalar ke otak hingga sangat mematikan. Salah satu contohnya itu adalah Naegleria fowleri, yang merupakan amoeba pemakan otak yang biasanya hidup di perairan air tawar.

Sebelumnya sudah pernah diberitakan oleh dr Sheila Agustini, SpS dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dirinya menyebutkan beberapa faktor risiko meningitis ada empat. Pertama pada usia yang masih terlalu muda atau tua (bayi dan lansia), infeksi yang terjadi pada telinga, hidung, tenggorokan dan juga paru-paru, memiliki daya tahan tubuh yang rendah dan paparan asap rokok.

Ia bahkan pernah menyebut hampir 50 persen pasien meningitis akan meninggal dunia, terutama yang lebih diserang itu dari kelompok bayi dan lansia. Apalagi apabila didiagnosis dengan derajat sedang atau besar. Sangat membahayakan sekali meningitis itu.

Rabu, 24 Mei 2017

Selain Diharamkan Babi Mengandung Meningitis

Babi mengandung meningitis, Setelah meningitis dipopulerkan oleh kematian artis Indonesia yakni Olga Syahputra, kabar meningitis di Indonesia tidak pernah meluap ke permukaan lagi. Setidaknya sampai perakhiran bulan Mei 2017 ini, ketika anjuran untuk lebih hati-hati pada penyakit infeksi tersebut kembali diramaikan kembali. Pemerintah Kabupaten Buleleng Bali melalui Dinas Kesehatan (dinkes) telah menemukan 13 kasus yang diduga Meningitis streptococcus suis (MSS) alias meningitis babi yang menjangkiti para warga disana.

Selain Diharamkan Babi Mengandung Meningitis

Meningitis babi itu sendiri merupakan jenis meningitis yang ditularkan oleh babi kepada manusia, dengan melalui mikroorganisme yang hidup di dalam dagingnya. Proses penularan ini baru dapat terjadi jika daging babi tersebut tidak dimasak hingga matang. Babi yang merupakan bintang haram bagi umat Islam baik dipegang maupun dikonsumsi. selain itu, babi mengandung meningitis.

Wakil Bupati Buleleng I Nyoman yakni Sujira menerangkan, bahwa kini pemerintah daerah Bali langsung bertindak cepat dalam mencegah penyebaran penyakit ini secara lebih luas lagi. Setelah mengetahui bahwa babi mengandung meningitis. Pihaknya tersebut langsung menginstruksikan dinas yang terkait untuk dapat melakukan sosialisasi pencegahan MSS kepada seluruh warga lokal. Kita ambil sikap ini karena sebelumnya wabah meningitis sudah pernah menyerang Bali. Jangan sampai berkelanjutan yang lebih panjang lagi, dengan memakan korban yang lebih banyak.

“Kami bersama tim akan segera bergerak cepat karena kasus meningitis babi sebelumnya pernah terjadi di wilayah Desa Bukti Kecamatan Kubutambahan,” jelas Sutjidra.

Untuk secara keseluruhan, perlu diketahui bahwa meningitis merupakan salah satu penyakit yang berbahaya dengan risiko kematiannya yang cukup tinggi. Bahkan sudah banyak juga yang sembuh namun belum tentu tidak terdampak efek yang lainnya. Pasalnya meningitis memiliki potensi cacat seperti tuli, epilepsi, gangguan kecerdasan dan gangguan lainnya yang akan menimpa pasien yang dinyatakan sembuh.

Bagi anak-anak, paling tidak hal tersebut terjadi pada sekitar 15 persen pasien yang dinyatakan sembuh. Sementara ada 14 persen yang kemungkinan orang dewasa mengalami tuli, dan 10 persen lainnya mengalami gangguan kognitif.

Data meningitis di seluruh Indonesia sebenarnya belum ada yang tepat baru hanya dengan perkiraan saja karena kasus meningitis terjadi tidak waktu yang sama dan sekali kejadian saja. Selain di Bali kasus meningitis di Nigeria juga terjadi bahkan banyak menelan korban hingga ribuan. Meningitis sering kai disangka penyakit atau infeksi lain. Sebab penyakit ini memiliki ciri umum seperti demam, batuk dan flu biasa.

Oleh karena itu, sejak tahun 2002, merupakan suatu kewajiban bagi mereka yang akan menunaikan ibadah haji ataupun umrah agar terlebih dahulu melakukan vaksinasi meningitis. Hal tersebut telah diwajibkan oleh pemerintah Arab Saudi untuk dapat meminimalisasi terjangkitnya penyakit meningitis di antara para calon haji ataupun umrah. Vaksinasi biasanya dilakukan satu bulan sebelum jadwal penerbangan. Lakukanlah pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi meningitis sejak dini, agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan dapat diobati dalam waktu dekat, sehingga tidak berdekatan dengan jadwal keberangkatan.

Selasa, 23 Mei 2017

Cuaca Ekstrem Berdampak Buruk Terkena Meningitis

Cuaca ekstrem, cuaca ekstrem yang terjadi di Indonesia merupakan salah satu dampak dari adanya perubahan iklim global. Dengan kondisi tersebut yang akan berdampak buruk terhadap kesehatan pada seseorang, khususnya penyakit yang dapat menular dengan melalui media udara, air, serangga nyamuk, dan dari makanan maupun melalui hal lainnya.

Cuaca Ekstrem Berdampak Buruk Terkena Meningitis

Guru Besar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Prof dr Umar Fahmi Ahmadi menerangkan, bahwa adanya perubahan iklim dengan cuaca ekstrem akan berdampak terhadap semakin meningkatnya tingkat ultraviolet dan heat stresscuaca yang pada akhirnya akan berefek langsung pada penurunan sistem imunitas tubuh manusia dan penuaan yang terjadi akibat kerusakan pada kulit.

”Ada juga hal lainnya yang dapat mempengaruhi yakni cuaca ekstrem juga dapat mengakibatkan adanya bencana alam, seperti banjir dan rob di pantai kota urban dan di wilayah pantai utara, juga menjadi penyebab semakin mudahnya penyebaran penyakit yang dapat ditularkan dengan melalui media air yang sudah terkontaminasi dengan makanan. Seperti penyakit  diare, antraks, leptospirosis, kolera, hanta virus dan typus,” ungkapnya.

Pada saat Umar berbicara dalam forum yang sudah lama diadakan dalam program Aku Anak Sehat 2010 yang digelar oleh Tupperware. Turut hadir juga pada acara tersebut yakni Marketing Director Tupperware Indonesia Yanty Melianty dan Direktur Sekolah Global Mandiri Cibubur Rifa Ariani SE Ak. Pria yang akrab dipanggil dengan sebutan UFA (Umar Fahmi Ahmadi) juga merupakan Mantan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI menambahkan, khusus dari dampak adanya pemanasan global yang berakibat pada terjadinya kekeringan akan mengakibatkan kelangkaan sumber air dan ketersediaan pangan yang sangat dibutuhkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Apabila dalam kondisi yang seperti itu terjadi, maka akan meningkatkan potensi penyakit infeksi pada pencernaan, sanitasi dasar, diare, kontaminasi makanan oleh berbagai penyakit yang ada. Misalnya saja terkena virus typus atau pes akibat dari tangan yang tidak sehat. Ada satu hal yang wajib untuk dicermati dengan kondisi perubahan iklim yang terjadi saat ini, yakni adanya penyakit yang ditularkan dengan melalui nyamuk (vector borne diseases) semakin meningkat dan beragam jenisnya. Misalnya seperti penyakit demam berdarah dengue (DBD), chikungunya, Japanese Encephalitis (akibatkan radang otak), filariasis (kaki gajah), dan juga malaria.
”Selain itu juga, karena adanya peningkatan potensi terjadinya penyakit yang dapat ditularkan dengan melalui udara seperti infeksi saluran pernafasan dan pneumonia,” kata UFA. 

Adanya peningkatan penyakit akibat penularan dengan melalui nyamuk yang terjadi akibat pemanasan global yang dimungkinkan terjadi karena bionomik nyamuk berubah. Misalnya saja seperti nyamuk menjadi lebih menakutkan, frekuensi gigitan nyamuk yang semakin meningkat, keinginan kopulasi-reproduksi larva (jentik) nyamuk akan terus meningkat.

”Begitu juga populasinya yang semakin meningkat. Parasit akan menjadi lebih cepat matang. Adaptasi nyamuk bahkan menyebabkan umur nyamuk akan semakin panjang dan akan tinggal pada populasi dan biting rate yang meningkat,” kata UFA yang juga pengajar visit di Griffith University Queensland Australia sejak tahun 2000. 

“Apabila nanti terjadinya peningkatan populasi nyamuk berkorelasi kuat dengan kondisi sanitasi air yang ada dalam satu wilayah yang sama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (LH) di Indonesia pada tahun 2003 lalu diketahui potret sanitasi air telah menunjukkan banyak rumah tangga di Indonesia yang memiliki sumber air (sumur atau pompa) yang jaraknya itu sangat berdekatan dengan tangki septik (pembuangan kotoran), yakni hanya berjarak 10 meter saja,” ujar UFA.

Kondisi yang demikian dapat menyebabkan sumber air minum rawan akan tercemar bakteri ataupun bahan kimia yang berbahaya. Bila sumber airnya sudah tercemar, secara otomatis akan berpengaruh juga pada hasil makanan olahan yang dibuat dengan menggunakan sumber air tersebut yang sudah tercemar. Selain itu juga, faktor pengolahan dan penyimpanan yang kurang memperhatikan faktor higienis,” tuturnya.

Lebih lanjut UFA juga mengungkapkan, penyebab kematian bagi anak-anak di usia 1–4 tahun adalah disebabkan oleh necroticans entero collitis (NEC) atau dikenal dengan penyakit radang paru (pneumonia) yakni sudah tercatat 10,7 persen. Untuk urutan kedua yakni akibat meningitis atau ensefalitis tercatat 8,8 persen, ketiga kematian anak yang disebabkan oleh demam berdarah dengue (DBD) 6,8 persen, tenggelam 4,9 persen, campak 5,8 persen dan tuberkulosis (TB) yang tercatat 3,9 persen.

“Untuk dapat mengatasi atau paling tidak mengurangi dampak buruk yang akan terjadi kapan saja perlu dilakukan pencegahan. Pencegahan yang dapat dilakukan dengan cara, yakni dengan melakukan upaya mitigasi terhadap sumber pencemaran itu sendiri dan upaya pencegahan secara langsung dengan melakukan adaptasi bila terjadi kondisi yang dapat mengancam kesehatan. Juga sangat diperlukan upaya konkret dalam melakukan pencegahan atas perilaku pencemaran udara. Misalnya efek rumah kaca yang dapat menyebabkan pemanasan global, penggunaan energi yang tidak efektif dan efisien, carbon sink dan carbon trade,” jelas UFA.

”Hal yang terpenting adalah masyarakat proaktif untuk melakukan partisipasi dalam pengendalian penyakit menular yang disebabkan oleh gigitan nyamuk (vector). Gunakan cara sederhananya saja yakni dengan membersihkan daerah-daerah yang berpotensi menjadi perindukan nyamuk. Contohnya ban bekas, botol, sangkar burung, dan saluran got juga genangan air,” tutupnya.

Senin, 22 Mei 2017

Hati-Hati Virus Meningitis di Ponsel

Hati-hati virus meningitis, Ponsel merupakan alat komunikasi untuk jarak jauh, yang sepertinya sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari, khususnya masuk di zaman modern seperti sekarang ini. Kebutuhan akan komunikasi untuk memperoleh informasi menjadikan ponsel sebagai salah satu kebutuhan pokok bagi seseorang. Di samping itu juga memiliki fungsi yang tidak terbatas. Saat ini ponsel sudah semakin canggih dengan berbagai macam tipe, model, kapasitas,fitur dan lainnya.

Hati-Hati Virus Meningitis di Ponsel

Ponsel yang selalu dibawa kemanapun bersama dengan aktifitas sehari-hari. Tanpa disadari ternyata ponsel canggih yang selalu digunakan merupakan salah satu benda yang terbilang sangat kotor dan menjdai sumber penyakit. Pasalnya, ponsel  setiap hari tanpa mengenal waktu terdapat berbagai kuman yang dapat merugikan kesehatan yang bersemayam di ponsel Anda. Harus ekstra hati-hati virus meningitis bisa saja menyerang melalui Ponsel.

Tidak pernah melakukan cuci tangan sebelum menyentuh ponsel, meletakkan ponsel begitu saja di sembarang tempat dan tidak pernah membersihkan ponsel dengan menggunakan kapas dan alkohol, sehingga menjadi penyebab jutaan kuman bersemayam di setiap sisi ponsel Anda. Alhasil, menjadi salah satu sumber penyakit dan sebuah benda yang terbilang sangat kotor. Hati-hati virus meningitis di ponsel. Akibat kotor sehingga dapat menjadi sumber penularan berbagai penyakit yang mungkin dapat membahayakan keselamatan diri.

Berikut dibawah ini merupakan beberapa kuman penyakit yang terdapat di ponsel Anda:

•Escherichia coli

Esacherichia coli dalah bakteri yang normalnya berada pada usus. Namun, tidak jarang ada beberapa strain bakteri ini yang menimbulkan penyakit, misalnya berakibatkan diare dan keracunan makanan. Selain itu juga, bakteri ini dapat menempel pada ponsel Anda karena kondisi tangan yang selalu dalam keadaan kurang bersih ketika Anda memegang ponsel, misalnya kondisi tangan setelah melakukan buang air besar tetapi tidak mencuci tangan dengan sabun setelahnya, ataupun karena ponsel yang diletakkan sembarang di tempat-tempat yang kurang bersih.

•Staphilococus aureus

Staphilococus aureus merupakan bakteri jahat yang berasal dari saluran pernafasan. Yang dapat menyebabkan timbulnya radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis), jerawat, bisul, dan nyeri pada persendian. Gejala yang ditimbulkan olehnya mulai dari tingkatan yang ringan hingga yang paling tinggi dapat menyebabkan kematian. Bakteri tersebut dapat menempel pada ponsel Anda dengan melalui sentuhan tangan penderita yang telah terkontaminasi pada ponsel Anda, ataupun dengan melalui air liur yang terpercik ke ponsel pada saat berkomunakasi.

•Haemophilus influenza

Bakteri ini berasal dari mukosa saluran pernafasan. Yang dapat ditularkan dengan melalui percikan air liur (droplet) yang dapat menempel di ponsel melalui percikan si penderita yang terjadi pada saat ponsel digunakan. Selain itu, dapat menyebabkan terjadinya radang telinga (otitis), infeksi saluran pernafasan, radang persendian, hingga ke radang selaput otak (meningitis). Pada anak-anak yang mengalami infeksi bakteri ini dapat menyebabkan gejala yang cukup berat. Bahkan, meningitis yang terjadi juga dapat menyebabkan kematian pada anak tersebut.

•Virus Influenza

Virus influenza yang merupakan virus dari keluarga Orthomyxoviridae dan virus ini juga merupakan virus yang menyebabkan terjadinya penyakit influenza. Penyakit akibat virus ini sangat mudah menular oleh siapapun karena proses penularannya ini dengan melalui udara. Pada dasarnya, kita ketahui terkadang penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya, jika daya tahan tubuh orang yang terpapar virus tersebut sudah kembali membaik. Gejala penyakit yang ditimbulkan oleh virus ini mulai dari tahap yang ringan hingga berat, bahkan tidak jarang pada saat wabah terjadi, penyakit ini juga banyak yang mengakibatkan korban jiwa.

Virus yang mengakibatkan penyakit influenza ini juga dapat menempel pada ponsel Anda dengan melalui tangan yang sudah terkontaminasi dan melalui partikel-partikel yang keluar pada saat bersin atau batuk.

Demikian penjelasan mengenai beberapa bakteri dan virus yang dapat menempel pada ponsel dan juga yang menyebabkan berbagai jenis penyakit, mulai dari penyakit tingkat ringan hingga penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Pasalnya, jenis mikroorganisme jahat ini yang menempel pada ponsel Anda jauh lebih banyak jumlahnya dari yang telah dijelaskan dan jumlah mereka mungkin tidak terhitung. Hal inilah yang menjadikan ponsel sebagai salah satu benda yang paling kotor, bahkan melebihi toilet.

Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk selalu menjaga dalam kebersihan ponsel dengan rutin dengan menggunakan kapas dan alkohol. Selain itu, Anda juga perlu untuk cuci tangan sebelum dan sesudah dalam menggunakan ponsel Anda. Di sampingi itu, jauhkanlah juga ponsel Anda dari jangkauan anak-anak Anda karena reflek si kecil yang seringkali memasukkan segala benda yang ia pegang ke dalam mulutnya itu.

Sabtu, 20 Mei 2017

Gejala dan Penyebab Meningitis

Gejala dan penyebab Meningitis, Secara sederhana, meningitis merupakan peradangan pada membran yang menyelimuti sekeliling otak dan sumsum tulang belakang. Secara ilmu biologi, membran ini disebut dengan meningen. Peradangan yang disebabk an oleh infeksi dari virus, bakteri, mikroorganisme, atau dalam kasus yang sangat jarang terjadi disebabkan konsumsi obat-obatan tertentu.

Gejala dan Penyebab Meningitis


Menurut studi yang dirilis oleh The New England Journal of Medicine, gejala dan penyebab meningitis ada beberapa. Untuk gejala umumnya yang terjadi dialami oleh penderita meningitis adalah sakit kepala, demam tinggi, flu, kuduk kaku, kebingungan atau perubahan kesadaran, muntah-muntah, fotofobia atau meningkatnya kepekaan terhadap cahaya yang masuk, dan fotofobia alias kepekaan terhadap suara yang juga meningkat.

Namun, ada beberapa gejala dan penyebab meningitis yang dialami dari kasus yang ada sebanyak 696 kasus yang mereka lakukan penelitian, telah ditemukan tiga gejala yang sudah pasti akan muncul pada penderita meningitis, sesuatu yang sudah pasti terjadi, yang bisa dijadikan sebagai indikator pendeteksi dini. Di antaranya adalah demam tinggi secara tiba-tiba, kuduk yang terasa kaku, dan perubahan mental yang mendadak. Ketiganya itu terjadi pada 44 hingga 46 persen bagi penderita meningitis yang disebabkan dari bakteri. Namun, ada sekitar 95 persen pasien yang sudah pasti merasakan dua di antaranya.

Gejala leher yang kaku dialami hingga 70 persen untuk pasien dewasa, termasuk mendiang Olga Syahputra. Sakit kepala yang maha dahsyat yang menyerang secara tiba-tiba itu lalu menjalar mulai dari ubun-ubun hingga ke belakang tengkuk leher, sehingga membuat penderita penyakit itu menegakkan leher dan menekuknya di kuduk.

Pada anak-anak yang mengalami meningitis tidak ada gejala-gejala di atas yang sering kali luput. Biasanya mereka hanya memberikan ciri dengan lebih rewel dan mengeluh sakit kepala saja. Ciri lain juga mungkin muncul yaitu terdapat ruam merah pada kulit.

Meski tak serupa dengan selesma atau flu, meningitis juga dapat menular kepada siapa saja. Biasanya bermula dari ciuman, batuk atau bersin, tetapi tidak dapat disebarkan hanya dengan menghirup udara yang sama dengan penderita meningitis itu.

Dalam penelitian itu telah disebutkan bahwa risiko kematian meningitis yang disebabkan oleh bakteri sangat tinggi, bergantung pada usia si penderita dan penyebab. Sementara itu, meningitis yang disebabkan oleh virus lebih cenderung bisa sembuh dengan sendirinya dan jarang sekali berdampak fatal.

Pada bayi yang prematur dan anak baru lahirkan dengan usia hingga tiga bulan, 20 hingga 30 persen mungkin akan meninggal dunia  jika sudah terkena meningitis bakterial. Menurut catatan WHO, meningitis bahkan termasuk ke dalam catatan lima penyakit yang paling mematikan bagi anak-anak yang baru lahir di dunia. Risiko kematian ini turun sedikit untuk anak-anak yang berusia di atas tiga tahun hingga 16 tahun, hingga mencapai 2 persen, tapi kembali naik sampai 19 hingga 37 persen jika dialami oleh orang dewasa. Ada sekitar 80 persen kasus pada umur ini yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitides dan Streptococcus pneumonia.

Karena salah satu yang menjadi penyebabnya adalah virus, salah satu cara untuk dapat mencegah terkenanya penyakit meningitis adalah dengan melakukan vaksinasi. Sejak pada tahun 1980-an, anak-anak di seluruh dunia mulai diberikan imunisasi terhadap virus Haemophilus influenzae tipe b, satu dari sekian penyebab penyakit meningitis. Vaksin ini juga pasti akan diberikan pada calon jemaah haji yang akan ke tanah suci, mengingat meningitis dapat menular dengan cepat di tempat orang-orang tinggal bersama seperti asrama, atau barak.

Cara lain juga dapat dilakukan yaitu dengan  pemberian antibiotik, untuk kasus meningitis yang disebabkan oleh bakteri. Pemberian ini juga dapat dilakukan meski kondisi pasien belum dipastikan hasil laboratorium yang dilakukan. Sebab, meningitis bakterial bisa bereaksi cepat dan dapat berakibatkan fatal, sungguh sangat berbahaya.

Jumat, 19 Mei 2017

Berikan Vaksin Sejak Dini Guna Cegah Meningitis

Berikan vaksin sejak dini, Terdapat di dalam situs Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebutkan, bahwa meningitis yang disebabkan oleh bakteri sangat berbahaya sekali. Kondisi ini dapat meyebabkan kerusakan otak dan kematian. Kendati berakbibatkan sangat fatal, meningitis dapat dicegah dengan melakukan pemberian vaksinasi. Berikan vaksin sedini mungkin, meningitis atau infeksi yang meradang pada selaput dan cairan yang mengililingi otak adalah penyakit yang sangat berbahaya. Penyakit yang juga cepat menular ini bisa diderita oleh anak-anak sampai orang dewasa.

Berikan Vaksin Sejak Dini Guna Cegah Meningitis

pencegahan terhadap meningitis dengan berikan vaksin sejak dini merupakan hal yang sangat penting. Karena penyebab dari meningitis adalah bakteri dan virus. Namun, meningitis bakteri jauh lebih berbahaya. Anda bisa terinfeksi bakterinya sewaktu seseorang yang terinfeksi (carier) bersin atau batuk.

Tidak hanya itu, cara lain yang dilakukan untuk penyebaran bakteri  itu bisa juga  melalui dari ciuman, menggunakan alat makan secara bergantian, sikat gigi bersamaan, atau rokok yang secara dihisap bergantian. Risiko tinggi tertular juga makin tinggi jika dekat dengan orang yang terkena infeksi, seperti berada dalam satu rumah atau kerja di tempat yang sama. Lakukan pencegahan dengan berikan vaksin sejak dini guna terhindar dari meningitis.

Walau demikian, penyakit ini masih dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi. Bahkan kini sudah ada vaksin yang dapat memberikan perlindungan juga sekaligus terhadap empat atau lima jenis bakteri yang menjadi penyebab meningitis meningokokus.

Menurut dokter penyakit dalam yakni Dr. Iris Rengganis dari FKUI memberikan penjelasan, bahwa vaksin akan diberikan harus sesuai dengan usia dan jenis kuman. Biasanya jenis kuman akan spesifik pada satu tingkat umur saja.

Perusahaan farmasi juga ters melakukan pengembangan vaksin sesui dengan kemampuan kuman yang bermutasi.”pada tahun 1995 hanya ada segrup kuman A dan C yang dapat menyebabkan meningitis. Namun sudah sejak tahun 2004 mulai ada mutasi kuman,” terang Theresia Adhitirta, Vaccine Buiness Manager PT Novartis Indonesia.

Untuk pemberian vaksin tidak hanya disarankan untuk bayi dan balita saja, tapi juga bagi mereka yang akan bepergian ke negara-negara di mana sering terjadi serangan meningitis, seperti Afrika, Amerika, dan Australia. Terutama para jemaah haji juga diharuskan  divaksin meningitis meningokokus paling lambat 2 minggu sebelum tiba di Tanah Suci.

Kamis, 18 Mei 2017

Banyak Kasus Meningitis Hingga Risiko Meninggal Dunia

Banyak kasus meningitis, Tanda paling awam yang dimunculkan adalah demam tinggi secara tiba-tiba, dan sakit kepala yang dahsyat hingga bikin meringis. Penyakit yang memiliki resiko tinggi dan juga mematikan ini dikenal dengan nama meningitis. Indonesia sudah dikejutkan beberapa penderita yang terkena dengan penyakit bahaya itu. Salah satunya ialah Olga Syahputra, salah satu komedian yang namanya melambung tinggi di dunia entertaiment yang pernah dipunyai negeri ini. Dia sering mengalami suhu tubuh yang tidak teratur, sehingga membuatnya sering demam tinggi dan kelelahan. Selain itu juga sering diserang sakit kepala yang maha dahsyat yang membuatnya nangis histeris. Setelah kabar kematiannya mulai berhembus, barulah muncul sebuah nama penyakit yang mematikan itu yang disebut-sebut menjadi penyebab kepergian komedian tersebut. Namanya meningitis.

Banyak Kasus Meningitis Hingga Risiko Meninggal Dunia

Bagi sebagian orang Indonesia, penyakit ini sangat asing sekali di telinga mereka. Ketimbang dngan penyakit demam berdarah atau jenis penyakit tropis lainnya, meningitis memang tidak begitu populer di sini. Tapi, yang merupakan jenis penyakit infeksi, meningitis merupakan satu di antara penyakit infeksi saraf yang paling mematikan dan sering menjadi ancaman bagi negeri maju maupun berkembang, seperti Indonesia ini. Banyak kasus meningitis hingga risiko kematian.

Ada sekitar 1,2 juta kasus meningitis bakteri yang terjadi pada setiap tahunnya di dunia, dengan tingkat kematian yang sudah mencapai 135.000 jiwa. Artinya banyak kasus meningitis hingga risiko kematian. Wabah meningitis terbesar dalam sejarah duniayang tercatat oleh WHO terjadi pada tahun 1996–1997 yang menyebabkan lebih dari 250.000 kasus dan 25.000 kematian. Epidemi terparah juga pernah menimpa Negara Afrika bagian Sahara dan sekitarnya selama satu abad lamanya. Angkanya itu sampai 100 hingga 800 kasus pada 100 ribu orang.

Di Indonesia itu sendiri, menurut data yang dimiliki Kementerian Kesehatan Indonesia, pada tahun 2010 lalu, jumlah kasus meningitis yang dialami oleh laki-laki sudah mencapai 12.010 pasien, sedangkan pada wanita kurang lebih ada sekitar 7.371 pasien, dan dilaporkan pasien yang meninggal dunia sejumlah 1.025.

Di RSUD Dr. Soetomo pada tahun 2010 terdapat 40 pasien yang telah di diagnosis meningitis. Dengan sebanyak 60 persen laki-laki dan 40 persen wanita. Dari angka tersebut, dilaporkan ada 7 pasien yang meninggal dunia. Pada tahun 2011, juga dilaporkan ada 36 pasien yang didiagnosis meningitis. Sekitar 67 persen pasien laki-laki dan sekitar 33 persen wanita. Sebelas di antaranya itu meninggal dunia. 

Jelas, dari angka-angka itu dapat menunjukkan bahwa penyebaran pasien yang di diagnosis meningitis pada tiap tahunnya hampir merata. Melihat adanya risiko kematian yang seringkali belum bisa terprediksi dengan pasti yang menunjukkan betapa kritikalnya penanganan yang dibutuhkan oleh pasien bersama penyakit ini.

Hati-hati Bahaya Meningitis

Hati-hati bahaya meningitis, Meningitis merupakan suatu penyakit yang meradang akut yang terjadi pada selaput pelindung otak. Selaput pelindung otak itu disebut dengan meningens. Peradangan akut pada selaput otak ini biasanya terjadi disebabkan adanya dua faktor kemungkinan, yakni infeksi dan non infeksi. Pada umumnya terjadi peradangan yang disebabkan oleh infeksi yang merupakan jenis meningitis yang paling umum terjadi.

Hati-hati Bahaya Meningitis


Ketika peradangan terjadi akibat infeksi tersebut, meningens akan terjadi pembengkakan. Meningitis adalah penyakit yang benar-benar harus diwaspadai. Hati-hati bahaya meningitis, karena kasus penyakit meningitis yang ditemukan seringkali dianggap penyakit lain dan disepelekan, penderita meningitis yang penanganannya telat akan sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian.

Proses meningitis yang disebabkan oleh infeksi terjadi karena adanya bakteri, virus, atau bahkan jamur yang masuk ke dalam  selaput otak. Infeksi yang masuk ke dalam selaput otak bisa lewat dari dua jalur, dengan melalui aliran darah dan melalui udara yang masuk melalui saluran pernafasan, mata, atau telinga. Sementara dalam proses non-infeksi biasanya dikarenakan oleh reaksi kimiawi akibat obat atau bahan kimia tertentu, alergi obat, reaksi imunitas tubuh terhadap jenis kanker tertentu (paraneoplastic syndrome). Diingatkan kembali agar hati-hati bahaya meningitis.

Untuk penyakit lain pun jika tidak ditangani dengan baik dan tepat akan menjadi pemicu terjadinya meningitis, seperti TBC dan sinusitis. Bakteri atau virus dari kedua penyakit tersebut dapat menjalar dengan melalui aliran darah dan naik ke otak sehingga dapat menyebabkan peradangan.

Penyakit lain yang wajib untuk diwaspadai adalah penyakit gangguan kekebalan tubuh. Ketika kondisi daya tahan tubuh Anda buruk, bakteri dan virus akan semakin mudah menyerang tubuh Anda. Contohnya adalah penyakit HIV/AIDS dan penyakit kanker. Mereka yang mengidap penyakit tersebut daya tahan tubuhnya pasti akan menurun dan mudah teserang oleh bakteri dan virus.

Gejala penderita meningitis ada bermacam-macam, namun terdapat tiga inti gejala meningitis yang patut Anda waspadai. Ketiga gejala tersebut di antaranya adalah nyeri kepala hebat, kaku di bagian leher belakang, serta demam tinggi. Gejala lainnya adalah kejang-kejang, sensitive terhadap cahaya, dan bintik-bintik merah di kulit, meski tidak terjadi pada semua orang. Namun jika Anda merasakan tiga gejala inti tadi, sebaiknya Anda segera memeriksakan diri Anda ke rumah sakit.

Ketika ada mendapati kecurigaan meningitis, Anda harus segera diberi antibiotik agar bakteri tidak berkembang biak di dalam otak. Kedua, bila perlu Anda akan diberi obat anti radang atau steroid. Selanjutnya dokter akan mendiagnosis Anda dengan melalui cek darah dan pemeriksaan cairan otak untuk memastikan apakah Anda benar-benar terkena meningitis.

Selain itu perlu juga dilakukan CT Scan atau MRI kepala. Penderita meningitis harus dirawat secara intensif di rumah sakit dan dimonitor setiap saat mengingat penyakit ini cepat berkembang. Penderita meningitis juga harus istirahat total, banyak makanan yang bergizi dan minum, serta pemberian obat suportif, seperti obat untuk demam dan nyeri kepala.

Penyakit meningitis yang disebabkan oleh bakteri dan virus dapat menular, meskipun tidak semudah penyakit umum lain seperti flu. Keduanya dapat ditularkan melalui cairan ludah saat bersin atau batuk serta makanan yang terkontaminasi oleh bakteri atau virus. Dengan mengubah pola hidup Anda seperti menjaga kebersihan diri, istirahat cukup, serta gizi yang seimbang akan mengurangi risiko penularan.