Laman

Senin, 12 Juni 2017

Hindari dan Lakukan Ini Agar Tidak Terkena Meningitis

Hindari dan lakukan ini, Penyakit radang selaput otak atau biasa dikenal “Meningitis” hingga saat ini menjadi momok untuk balita. Penyakit yang sangat kejam pasalnya tidak ada harapan sehat bagi penderita meningitis. Hampir 50 persen penderita yang terkena meningitis meninggal dan jika sekalipun ada yang selamat pasti akan mengalami kecacatan atau keterbelakangan. Penyakit meningitis itu menyerang pada selaput otak dengan angka kematian mencapai 50 persen. Kalupun ada seorang penderita meningtitis lolos dari maut, untuk balita akan mengalami bebagai gejala dari sisa penyakitnya seperti tuli, lumpuh, lamban, epilepsi dan retardasi mental.

Hindari dan Lakukan Ini Agar Tidak Terkena Meningitis

pengertian dari meningitis adalah suatu peradangan pada selaput otak yang disebut dengan meninges, yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Meningitis juga dapat disebabkan oleh berbagai macam virus dan bakteri yang menyerang. Sudah dilakukan sebuah penelitian prospektif di beberapa rumah sakit yang ada di Indonesia, hasilnya menunjukkan bahwa 10 persen dari penyebab meningitis yang dialamai oleh balita adalah bakteri pneumokokus, yang angka kesembuhannya cukup rendah dan bisa mengakibatkan cacat permanen. Hindari dan lakukan ini agar tidak terkena meningitis.

"Hindari dan lakukan ini agar bakteri meningitis yang hidup dan diam di tenggorokan orang yang dalam keadaan sehat," ungkap Dr Hardiono Pusponegoro, Sp.A(K). Bakteri pneumokokus memang dapat hidup dan diam pada tenggorakan hanya ada 10 persen orang sehat, baik bayi, balita dan individu dewasa.

Apabila daya tahan tubuh dalam keadaan rendah atau sedang tidak stabil, bakteri dalam tenggorokan tersebut dapat masuk dengan mudah .100000 yang masuk ke dalam tubuh, darah dan otak sehingga menyebabkan penyakit meningitis. Dengan adanya ha; siuk sangat rentan terjadi pada bayi dan anak, karena daya tahan tubuh mereka yang belum kuat.

Selain itu, untuk cara penularan bakteri pneumokokus sangat mudah karena carrier (balita dan orang dewasa) akan menyebarkannya melalui udara, pertukaran dari pernapasan dan sekresi-sekresi tenggorokan.

"Pengertian bakteri pneumokokus yaitu pembunuh balita terbesar di Indonesia," terang Dr Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, ynag merupakan Sekretaris Satgas Imunisasi PP-IDAI dan Ahli Tumbuh Kembang Anak dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak di FKUI-RSCM.

Gejala klinis meningitis pada umumnya seperti demam tinggi, kejang-kejang, penurunan kesadaran dengan ditandai berkurangnya respons atau tanggapan terhadap rangsangan. Gejala pada bayi seperti demam ada sebesar 62 persen, hipotermia dimana tubuh merasa sangat kedinginan, letargi (penurunan kesadaran), muntah-muntah, kesulitan minum, sesak napas, diare, kejang atau ubun-ubun besar membenjol.

Sedangkan gejala yang terjadi pada anak-anak, seperti demam, kejang, nyeri kepala, penurunan kesadaran, leher terasa kaku pada 75 persen.

Orang yang berisiko tinggi terjangkitnya penyakit akibat bakteri pneumokokus adalah sebagai berikut dibawah ini:

a. Bayi atau anak yang sudah berusia di bawah 2 tahun
b. Bayi yang lahir kurang bulan/prematur dan berat lahir rendah
c. Bayi yang hanya diberi ASI (air susu ibu) sebentar atau sedikit
d. Kawasan hunian padat dan banyak penduduk
e. Sering terpapar dengan asap rokok
f. Penitipan anak (day care)
g. Sering mengalami infeksi virus pada saluran pernapasan
h. Sering mendapat antibiotik yang dosisnya tidak kuat dan tinggi
i. Penderita penyakit kronis
j. Sistem kekebalan rendah, seperti penderita HIV

Dr Soedjatmiko menerangkan bahwa perlu ada upaya yang keras untuk melakukan pencegahan meningitis, karena sekali bakteri tersebut sampai masuk ke selaput otak, maka tidak ada harapan untuk sembuh total bagi si penderita.

Berikut dibawah ini merupakan upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu:

Nutrisi
Dengan pemberian ASI yang cukup, makanan lengkap dan juga seimbang, vitamin A, Zinc, dan juga yang lainnya.

Perilaku hidup sehat
1. Tutup mulut atau hidung ketika batuk dan bersin dengan menggunakan kain kecil atau masker
2. Hindari mencium bayi dengan mulut
3. Hindari infeksi virus berulang seperti flu yang berulang-ulang
4. Hindari polusi yang bertebaran seperti asap dapur, asap rokok, asap kendaraan dan lainnya.

Vaksinasi dan imunisasi
a. Serta yang sangat terpenting vaksinasi pneumokokus: PCV 7 dan PCV 13
b. Dengan rutin melakukan imunisasi: BCG, DTP, Campak, Hib, Influenza