Laman

Sabtu, 29 April 2017

Bisakah Meningitis Kambuh Lagi?

Apakah penyakit ini bisa kambuh lagi? Jika seseorang sudah berhasil selamat dari meningitis. Penyakit meningitis memang masih jarang sekali terdengar oleh anda, karena penyakit ini tidak seperti dengan penyakit lain yang umum seperti batuk, flu, atau demam biasa. Namun pada kenyataanya meningitis merupakan penyakit yang kejam karena dapat menyebabkan kecacatan atau kematian. 


Bisakah Meningitis Kambuh Lagi?


Dalam penanganan penyakit meningitis ini tergolong sangat sulit sekali, karena penyakit meningitis ini datangnya secara tiba-tiba dan terkadang sulit untuk di diagnosis secara tepat. Lalu, bisakah meningitis kambuh lagi? Jika dinyatakan telah sembuh. "Kalau sudah terkena meningitis masih bisa kambuh lagi atau justru akan terkena infeksi baru," ujar dr Darma Imran, SpS(K) dari FKUI-RSCM.

dr Darma memaparkan hal tersebut dapat terjadi karena penyebab dari infeksi otak yang salah satunya ialah meningitis, dimana meningitis ini ada ratusan atau bahkan ribuan yang terdapat didalam otak dan menyelimutinya, mulai dari virus, bakteri, parasit, jamur hingga cacing pita. Selain itu juga, meningitis itu penyakit yang sangat dekat dengan otak dan tulang belakang, sehingga dapat memberikan dampak kapada kerusakan pikiran, gerak tubuh dan bahkan menyebabkan kematian. Dengan begitu tidak hanya timbul pertanyaan bisakah meningitis kambuh lagi? Melainkan, apakah meningitis penyakit yang mematikan?.

Kondisi ini juga sangat dikhawatirkan oleh Bapak Usman dari Jambi yang anaknya juga pernah terkena meningitis saat berusia 10 bulan. Ketika itu bayinya mengalami demam yang temperaturnya naik turun selama 3 minggu, lalu akhirnya dibawa ke rumah sakit umum dan harus dirawat inap.

"Anak saya baru satu hari dirawat mengalami koma, setelah diambil cairan tulang belakangnya hasil laboratorium yang diperoleh menunjukkan positif mengidap meningitis. Dokter memberikan penjelasan pada saya kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah seperti kerusakan otak, kelumpuhan, kematian dan sebagainya," terang Bapak Usman.

Setelah 12 hari anaknya mengalami koma akhirnya tersadar tapi nyaris seluruh organ tubuhnya tidak dapat berfungsi, misalnya yang tadinya dapat berjalan jadi tidak dapat jalan dan tidak dapat mendengar. Setelah anaknya sadar ia mulai melakukan pengobatan yang ketat, dengan melakukan terapi dua kali seminggu selama satu tahun dan rutin kontrol.

"Saat ini ia sudah berusia 2,5 tahun dan sudah sehat hanya fungsi kaki kirinya saja yang belum sepenuhnya normal dan masih sulit dalam mengendalikan emosinya," ungkapnya.

dr Darma mengatakan salah satu faktor yang terpenting dalam menentukan keberhasilan dalam pengobatan meningitis adalah melakukan diagnosis dengan tepat sehingga dapat diketahui penyebab yang sebenarnya. Pemeriksaan dengan melalui rontgen, CT-scan atau MRI pada umumnya hanya dapat membantu untuk mengenali tanda-tanda radang otak, tapi untuk diagnosis pastinya dengan melalui pemeriksaan cairan otak.

"Dalam proses pemeriksaan ini sifatnya invasif artinya menusuk organ untuk mengambil cairan jadi harus dilakukan dengan hati-hati sekali karena relatif ada bahayanya. Namun manfaat yang diperoleh juga sangat besar, karena dengan begitu dapat melihat siapa yang akan bertanggung jawab terhadap infeksi tersebut," tuturnya.

"Meningitis merupakan gejala peradangan yang mengenai lapisan selaput pelindung jaringan otak dan sumsum tulang belakang, selain itu juga merupakan infeksi otak yang mematikan, meskipun persentase di Indonesia tidak tinggi tapi angka kematiannya yang cukup tinggi yaitu lebih dari 50 persen," jelas dr Darma.

Mengenal Sejarah Awal Adanya Virus Meningitis

Sejarah awal virus meningitis, Sejak tahun 2006 silam dunia telah digemparkan oleh sebuah penyakit yang disebabkan oleh Virus. Penyakit tersebut hingga kini dikenal dengan penyakit Meningitis, dimana virus itu dapat menyebabkan kelumpuhan serta keropos pada tulang. Ada Banyak kasus penderita virus meningitis ini yang tidak tertolong dan pada diakhiri penyakitnya dengan meninggal dunia. Sebab, sudah banyak jumlah penderita yang mengalami penyakit itu tidak tertolong dan pada akhirnya meninggal dunia karena penyebaran virus yang terlalu cepat sehingga penanganan medis cukup singkat. Selain itu, belum ada obat yang tepat untuk penyembuhan.

Mengenal Sejarah Awal Adanya Virus Meningitis

Lantas darimanakah awal virus meningitis ini mulai muncul? Dari sejarah awal meningitis menjelaskan ada beberapa yang mengatakan bahwa Hippocrates mungkin sudah menyadari atas keberadaan meningitis,  dan tampaknya meningisme sudah dikenal oleh para dokter sebelum zaman Renaisans.

Deskripsi meningitis tuberkulosis, yang saat itu disebut dengan “edema di dalam otak”, seringkali dihubungkan oleh dokter Edinburg Sri Robert Whytt di dalam laporan posthumous yang sudah muncul sejak 1768, meskipun hubungan dengan tuberkulosis dan patogennya tidak dibuat sampai abad berikutnya dalam sejarah awal virus meningitis.

Tampaknya epidemik meningitis merupakan fenomena yang cukup baru.  Wabah terbesar untuk pertama kalinya yang tercatat muncul di Jenewa  sejak tahun 1805. Beberapa epidemik lain di Eropa dan Amerika Serikat dideskripsikan sesaat setelah itu dan laporan pertama epidemik muncul di Afrika sejak tahun 1840.

Epidemik Afrika menjadi lebih sering muncul di abad ke 20, dimulai dengan epidemik besar yang telah menyerang Nigeria dan Ghana pada tahun 1905–1908. Laporan pertama yang diperoleh infeksi bakteri yang menyebabkan meningitis adalah oleh seorang bakteriologis Austria Anton Weichselbaum, yang pada tahun 1887 telah mendeksripsikan meningokokus.

Mortalitas dari meningitis sangat tinggi hingga lebih dari 90% pada laporan-laporan awal. Pada tahun 1906, Antiserum diproduksi di kuda; hal ini terus dikembangkan lebih lanjut oleh seorang ilmuwan asal Amerika Simon Flexner dan secara nyata dapat menurunkan mortalitas dari penyakit meningokokus.

Pada tahun 1944, penisilin pertama kali dilaporkan sangat efektif untuk mengobati meningitis. Pengenalan vaksin Haemophilus di akhir abad ke-20 menyebabkan penurunan dalam kasus meningitis yang sudah dikaitkan dengan patogen ini dan sejak tahun 2002, terdapat bukti-bukti yang sudah menunjukkan bahwa pengobatan dengan steroid dapat memperbaiki prognosis virus meningitis.

Jumat, 28 April 2017

Vaksin HIB Penting Untuk Meningitis, Epiglotitis dan Pneumonia

Vaksin HIB penting, Kalau waktu dulu pengobatan bisa dilakukan hanya dengan memberikan antibiotik. Sekarang dengan antibiotik saja tidak cukup ampuh untuk membunuh bakteri tersebut, karena bakteri HIB sudah banyak yang sudah kebal. Bahkan di Amerika diperkirakan 40% bakteri HIB resisten terhadap antibiotik ampisilin. Hal  ini yang menyebabkan para ilmuwan kesehatan pada akhirnya memusatkan perhatian mereka pada upaya pencegahan penyakit HIB. Mereka memutuskan bahwa imunisasi HIB merupakan cara yang paling praktis dan efektif dalam mencegah terjadinya penyakit akibat bakteri HIB ini. Di beberapa negara yang ada, vaksinasi Hib telah dimasukkan ke dalam jadwal imunisasi wajib untuk dapat diberikan kepada bayi dan balita.


Vaksin HIB Penting Untuk Meningitis, Epiglotitis dan Pneumonia


Pemberian vaksin HIB penting sedini mungkin dapat melindungi bayi dan balita dari serangan meningitis, epiglotitis dan pneumonia. Menurut dr. Fransiscus Chandra yang merupakan Direktur Medikal GaxoSmithKline (GSK), Vaksin HIB itu berisi komponen PRP-T (konjugasi polyribosyl-ribitol phosphate dengan tetanus taxoid) yang terbukti dapat memberikan kekebalan tubuh paling optimal dibandingkan dengan cara vaksin konjugasi HIB dengan bakteri lainnya. Vaksin HIB penting untuk meningitis, epiglotitis dan pneumonia. Pemberian vaksin HIB pada saat ini telah direkomendasikan langsung oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Untuk bayi yang usia 2-6 bulan akan diberikan imunisasi HIB sebanyak tiga dosis dengan interval satu bulan saja. Sedangkan untuk bayi yang berusia 7-12 bulan akan diberikan sebanyak dua dosis dengan interval dalam waktu satu bulan.

Sedangkan pemberian untuk anak yang berumur 1-5 tahun cukup dengan diberikan satu dosis. Mengingat HIB lebih sering menyerang kepada bayi kecil (26% terjadi pada bayi yang berumur 2-6 bulan dan 25% pada bayi berumur 7-11). Pemberian vaksin HIB penting, namun tidak dianjurkan untuk diberikan pada bayi yang masih di bawah dua bulan, karena dinilai belum dapat membentuk antibodi. Setelah pemberian vaksin tersebut, efek samping yang kemungkinan akan terjadi biasanya adalah demam, nyeri atau bengkak pada area suntikan. Vaksin HIB penting untuk meningitis, epiglotitis dan pneumonia.

Vaksin HIB yang pertama kali dilisensi adalah vaksin polisakarida murni yang telah dipasarkan di US sejak tahun 1985. Vaksin HIB penting untuk meningitis, epiglotitis dan pneumonia. Respon imun yang diperoleh terhadap vaksin tergantung pada umur orang itu yang diimunisasi. Anak yang berusia di bawah 18 bulan tidak menghasilkan respon yang positif terhadap vaksin ini, sehingga banyak terjadi penyakit HIB pada kelompok umur tersebut. Pada tahun 1988, vaksin ini telah ditarik dari pasar.

Dari hasil penelitian, hasil yang didapatkan ialah bahwa anak yang mulai diimunisasi HIB pada umur di atas 2 tahun, mempunyai kecenderungan akan terkena diabetes mellitus yang lebih tinggi. Peningkatan jumlah penderita penyakit diabetes telah terjadi di Negara Inggris dan Amerika. Vaksin HIB penting untuk meningitis, epiglotitis dan pneumonia.

Mahalnya harga dari vaksin HIB merupakan salah satu penyebab sehingga meningkatnya jumlah penderita meningitis di Indonesia ini. Dengan begitu kita harus mengetahui gejala yang ditimbulkan oleh Meningitis HIB, antara lain :

1.Demam Tinggi
2.Kehilangan nafsu makan dan minum
3.Hilang kesadaran dan kejang
4.Tidak dapat buang air selama 4-6 jam
5.Diare

Beberapa kombinasi dari vaksin HIB dan yang lainnya telah dilisensi di Amerika Serikat. Kombinasi vaksin HIB tersebut dengan diphtheria-tetanus-pertussis– vaksin polio dan vaksin Hepatitis B yang sudah tersedia di AS. World Health Organization (WHO) telah memberikan pengesahan pada beberapa kombinasi vaksin Hib, termasuk pentavalent diphtheria-tetanus-pertussis-hepatitis B-Hib, untuk dapat digunakan di negara-negara berkembang.

Pengenalan pada vaksin HIB di berbagai Negara yang berkembang tertinggal di belakang dengan Negara yang maju karena adanya beberapa alasan. Biaya dari vaksin yang cukup besar dibandingkan dengan harga standar EPI vaksin.  Minimnya pengawasan terhadap berbagai penyakit dan rumah sakit yang tidak memadai untuk dapat mendeteksi penyakit dan banyak para ahli yang percaya bahwa HIB tidak ada di negara mereka. Pada akhirnya, pengawasan kesehatan di berbagai negara telah diusahakan dengan menggunakan  vaksin yang saat ini mereka mencoba untuk sampaikan.

Untuk dapat mengatasi masalah ini, GAVI Alliance akhirnya mengambil peran aktifnya dalam vaksin. GAVI juga menawarkan banyak subsidinya dari vaksin HIB untuk negara-negara yang tertarik dalam menggunakan vaksin, serta dukungan dari keuangan untuk vaksin suntikan dan aman.  Selain itu, GAVI juga menciptakan inisiatif HIB.  Inisiatif HIB dengan menggunakan kombinasi untuk mengumpulkan dan juga menyebarluaskan data yang sudah ada, penelitian dan advokasi untuk dapat membantu ke berbagai Negara dalam mengambil keputusan agar dapat menggunakan vaksin HIB. Saat ini sudah ada 61 dari 72 negara-negara berpenghasilan rendah yang sudah memiliki rencana untuk memperkenalkan vaksin sejak 2009 lalu.

Pencegahan meningitis HIB dapat dilakukan dengan cara ini :

1.Pemberian ASI eksklusif, karena didalam ASI terdapat sejumlah kandungan yang sangat bermanfaat bagi imunitas anak.

2.Vaksinasi. Berikanlah vaksinasi HIB pada bayi yang sudah berusia 2 bulan. Walaupun dengan harga yang relatif mahal, tetap saja ini akan berguna sebagai perisai anak dari kemungkinan terkena serangan meningitis hingga 97%. Imunisasi HIB dapat berupa vaksin PRP-T (konjugasi) siberikan pada anak yang berusia 2, 4 dan 6 bulan an diulang kembali saat usia 18 bulan. Vaksin HIB juga dapat diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi. Apabila anak sudah memasuki usia 1-5 tahun, HIB hanya diberikan satu kali saja. Sednagkan, untuk anak yang masih diatas usia 5 tahun tidak perlu diberikan karena penyakit ini hanya menyerang pada anak yang berusia dibawah 5 tahun. Saat ini, imunisasi HIB telah masuk ke dalam program pemerintah, yaitu vaksin pentabio produksi dari Bio Farma, vaksin HIB diberikan bersama DPT, Hepatitis B.

Wabah Meningitis Serang 300 Orang Nigeria

Wabah Meningitis Serang 300 Orang Nigeria, wabah meningitis cerebrospinal yang telah menyerang otak itu telah dilaporkan terjadi di 15 wilayah. Itu termasuk dalam jenis varian baru, penyakit tersebut juga muncul di Nigeria, yakni dengan varian 'stereotype C' atau tipe C. Melonjaknya angka kematian yang terjadi disebabkan oleh keterbatasan vaksin untuk meningitis tipe C yang tersedia di Nigeria.


Wabah Meningitis Serang 300 Orang Nigeria


"Sebenarnya vaksin meningitis sudah tersedia, tapi untuk tipe C, vaksin itu tidak tersedia disana secara sangat komersil dan kami juga belum meminta kepada WHO, wabah meningitis serang 300 orang Nigeria," jelas Kepala Pusat Pengendalian Penyakit, Nigeria, Chikwe Ihekweazu.

Namun keterangan yang diberikan berbeda dengan yang diujarkan oleh Menteri Kesehatan Nigeria Isaac Adewole. Menteri Kesehatan itu menerangkan bahwa ada sebanyak 1,3 juta vaksin untuk meningitis tipe C yang telah tersedia. Entahlah, namun yang terjadi saat ini wabah meningitis serang 300 orang Nigeria.

"Kita ini memang sudah memiliki 500.000 dosis vaksin meningitis dari WHO dan akan digunakan di Provinsi Katsina dan Zamfara. Ada juga tambahan 800.000 ampul datang dari pemerintah Inggris," terang Adewole.

Sudah terhitung ada 2.000 kasus meningitis yang terjadi di Nigeria. Dan, hanya berjumlah 109 diantaranya yang mendapat perawatan sejak Februari 2017 lalu. Tim respons kesehatan pun sudah dikirim oleh kementerian ke 5 provinsi di barat laut Nigeria.

Nigeria adalah salah satu dari 26 negara yang ada dengan tingkat wabah meningitis yang tinggi di Afrika. Wabah meningitis akan mulai melanda pada musim kering kemarau hingga musim penghujan.

"Meningitis merupakan penyakit yang sangat sulit untuk diobati, terutama apabila sudah masuk pada periode musim kering kemarau hingga penghujan, dan diperparah dengan kepadatan jumlah penduduk, kesadaran kesehatan yang masih rendah dan sistem ventilasi yang sangat buruk," tambah Ihekweazu.

Menurut keterangan WHO, ada 5 hingga 10% pasien dapat meninggal dengan cepat dalam kurun waktu 24 hingga 48 jam masa pengobatan berlangsung. Itu membuktikan bahwa tingkat kesulitan dalam melakukan pengobatan yang cukup tinggi.

Gejala penyakit meningitis ini meliputi leher kaku, demam tinggi, sangat peka terhadap cahaya, merasa kebingungan, sakit kepala hebat dan muntah-muntah.

Pemerintah lokal dan organisasi internasional masih terus berupaya agar dapat menekan fenomena wabah penyakit meningitis yang semakin meluas dan sulit ditangani dengan waktu cepat.

"Kami akan terus berusaha memberikan hal yang terbaik mengenai meningitis dan kami percaya bahwa usaha kami ini akan mampu menekan laju mewabahnya penyakit tersebut di kemudian hari," tutup Ihekweazu.

Mengenal Meningitis Secara Singkat

Apa itu Meningitis?

Mengenal meningitis secara singkat, yang dimaksud dengan meningitis adalah infeksi pada meninges (selaput pelindung) yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang. Ketika sudah meradang, meninges akan membengkak karena infeksi yang terjadi. Ada tiga gejala meningitis yang wajib diwaspadai yaitu demam, sakit kepala, muntah-muntah dan leher terasa kaku.



Mengenal Meningitis Secara Singkat


Apakah meninges?

Meninges adalah system membran yang melapisi system saraf pusat. Meninges tersusun 3 lapisan jaringan ikat. Mengenal meningitis secara singkat. Mereka terdiri dari piamater (yang terdekat ke organ-organ sistem saraf pusat), arachnoid dan duramater (yang jaraknya terjauh dari otak dan sumsum tulang belakang).

Mereka juga termasuk dalam kategori pembuluh darah dan berisi Cairan serebrospinal. Ini merupakan struktur yang terlibat dalam meningitis, peradangan meninges yang terjadi sampai parah kemungkinan akan menjadi ensefalitis, radang otak. Mengenal meningitis dengan singkat, meski hanya singkat, namun banyak manfaatnya yang akan kita tahu.

Gejala meningitis

Gejala meningitis pada umumnya diwujudkan oleh:
•sakit kepala yang dahsyat
•mengalami muntah
demam yang tinggi
kaku pada leher
•sensitivitas dan mata sakit pada paparan cahaya yang masuk
ruam kulit

Gejala meningitis juga dapat berbeda-beda yang dialami oleh anak-anak dan bayi.

Jenis meningitis

Meningitis disebabkan karena adanya bakteri dan virus dan kedua jenis itu memiliki beberapa fitur yang khas. Penyakit meningococcal dapat menular yang juga dapat menyebabkan kematian pada anak usia dini.

Bakteri meningitis

Jenis Bakteri meningitis sangat serius dan harus diperlakukan sebagai darurat medis. Diobati juga mungkin menyebabkan kerusakan pada otak yang parah dan dapat menginfeksi darah yang menyebabkan septicimeia. Bakteri yang dapat menularkan paling umum adalah bakteri meningitidis Neisseria.

Pada tahun 2008 dan 2009 di Inggris dan Wales melihat kasus sebanyak 1.166 meningitis karena bakteri ini. Namun, dengan melakukan vaksinasi sukses dalam melawan bakteri ini yang juga dikenal sebagai meningococcal bakteri jumlah kasus telah menurun. Namun, yang ada saat ini tidak ada vaksin untuk mencegah meningococcal Grup B penyakit, yang merupakan penyebab yang paling umum bakteri meningitis yanag terdapat di Inggris.

Meningitis bakteri yang paling umum pada anak-anak berada di bawah usia lima tahun dan sering hidup dan juga mengancam keselamatan pada bayi di bawah usia satu. Hal ini juga umum di kalangan remaja yang berusia 15-19 tahun. Dari seluruh kasus yang  yang telah ditemukan ada sekitar 15% adalah bakteri meningitis dan 25% mungkin dapat terwujud dengan septicaemia. 60% Dari kasus keduanya tersebut bisa hadir secara bersamaaan.

Meningitis virus

Virus meningitis adalah lebih umum akan tetapi kurang parah jenis meningitis. Jumlah kasus yang ada sulit untuk memperkirakan karena gejala yang tampak mirip dengan serangan flu. Virus meningitis sangat umum pada anak-anak dan lebih luas selama musim panas berlangsung.

Siapa yang mendapat meningitis?

Meningitis dapat menyerang kepada siapa saja dari semua kelompok umur. Bayi dan anak-anak, remaja dan orang tua yang beresiko tinggi. Virus meningitis merupakan penyebab yang paling umum dari kondisi. Setiap tahunnya kurang lebih ada sekitar 2.500 kasus bakteri meningitis, dan sudah hampir 5.000 kasus virus meningitis yang telah ditemukan, yang sudah pernah terjadi di Inggris.

Orang-orang yang paling beresiko tinggi terkena meningitis antara lain yaitu :

•mereka yang memiliki pleuroperitoneal CSF yang ditempatkan dalam otak mereka untuk patologi lain
•orang-orang yang cacat
•menggunakan prosedur tulang belakang (misalnya tulang belakang anestesi)
•penderita penyakit diabetes
•mereka yang memiliki bakteri Endokarditis
•alkoholisme dan hati sirosis
•penyalahgunaan narkoba suntikan yang digunakan
•penyakit ginjal
•cystic fibrosis
•Thalassemia
•splenectomy
•hipoparatiroidisme
•sabit cell penyakit
•dan lain sebagainya

Berkumpul dengan orang yang jumlahnya banyak (misalnya saat berada di sekolah, merekrut militer dan mahasiswa dan di tempat lainnya) dapat menimbulkan risiko meningitis.

Prognosis atau hasil

Meningitis virus biasanya akan membaik dalam beberapa minggu tetapi bakteri meningitis butuh pengobatan yang agresif. Bakteri meningitis perlu diobati dengan menggunakan antibiotik, ke rumah sakit dan bahkan masuk ke unit perawatan yang lebih intensif.

Penyakit Meningococcal (kombinasi antara meningitis dan septicaemia) dapat menyebabkan kematian dalam sekitar 10 kasus. Meskipun obat yang diberikan anak kemungkinan akan terus mengembangkan komplikasi, seperti pendengaran, setelah bakteri meningitis. Pencegahannya hingga saat ini adalah lengkap vaksinasi terhadap infeksi.

Kamis, 27 April 2017

Cara Kunci Menghadapi dan Mencegah Meningitis

Cara kunci menghadapi dan mencegah meningitis, Kita sebagai orangtua, menginginkan anaknya selalu dalam keadaan yang sehat tanpa mengidap penyakit, apalagi penyakit yang terbilang serius. seperti yang sudah kita banyak ketahui kini banyak berbagai macam jenis penyakit. Salah satunya, apakah kita sudah mengetahui beberapa jumlah hal pokok tentang meningitis dan apa yang dapat dilakukan untuk bisa melindungi anak kita?

Cara Kunci Menghadapi dan Mencegah Meningitis

Sally Schoessler, R.N. memaparkan sejumlah hal yang terkait mengenai meningitis, kesulitan untuk diagnosis dan cepatnya perkembangan penyakit itu. Wanita tersebut pernah ikut serta dalam kampanye kesadaran "Voice of Meningitis" di Amerika Serikat. Namun, dikatakan ada cara kunci menghadapi dan mencegah meningitis.

Direktur pendidikan untuk National Association of School Nurses di kota Silver Spring yakni, Maryland juga mengatakan, “Belum juga diketahui jelas cara kunci menghadapi dan mencegah meningitis. Penyakit Meningitis merupakan infeksi bakteri yang sangat jarang tapi cukup serius, infeksi itu juga bisa merenggut nyawa seorang remaja kapan saja yang tadinya masih dalam keadaan yang sehat-sehat saja dalam waktu kurang dari 24 jam,” terangnya.

Meningitis adalah suatu keadaan pada saat “meninges, yaitu jaringan yang terdapat di antara otak dan syaraf tulang belakang mengalami pembengkakan dan terkena infeksi. Muncul juga bakteremia, yang juga merupakan infeksi parah yang terdapat dalam darah dan juga pneumonia.”

Infeksi ini akan menjadi semakin parah dengan cepat dan “sukar mendapat diagnosis karena hanya terlihat seperti flu biasa.” Gejala yang dirasakan pada penderita antara lain demam, kepala pusing, ngilu pada persendian, dan leher yang kaku.

Bukan hanya itu saja, ujarnya, “Bagi para penderita penyakit meningitis yang dapat bertahan hidup akan menderita dampak dalam jangka panjang.”

Dampak yang ditimbulkan antara lain:

1.Amputasi pada lengan, kaki, jari, ataupun jempol.
2.Kerusakan pada neurologis.
3.Ketulian (tidak dapat mendengar).
4.Kerusakan yang dialami oleh ginjal

Infeksi bakteri ini juga dapat menular dengan mudah melalui tetesan pernafasan di dalam ruang yang tertutup, seperti didalam asrama kampus atau kamp musim panas, ketika orang “sedang berbagi alat makan, berbagi botol minum dan saling berciuman.”

Pada pihak pengendali penyakit menular AS (Centers for Disease Control and Prevention, CDC) menganjurkan kepada para remaja agar mendapatkan vaksinasi untuk melawan meningococcal meningitis masuk pada usia 11 atau 12 tahun. Penguat (booster) agar diberikan kepada remaja yang berada pada usia 16 tahun.

Namun, di AS, hanya ada 30 persen dari 78 persen anak yang mendapatkan vaksin telah menerima vaksin kedua untuk sebagai penguat tersebut, demikian telah disebutkan oleh CDC. Tutur Schoessler, “Ada juga yang tidak menyambung di sana, karena daya guna vaksin sudah mulai menurun.”

Untuk dapat mengatasi meningitis, “Perlu adanya pemberian antibiotik yang tepat, tapi perlu juga dengan menggunakan cukup kebijaksanaan untuk mengatakan, ‘Sepertinya ini penyakit meningitis’, karena seringkali hasil uji yang di dapat seringkali terlambat untuk bisa meresepkan antibiotik yang benar dan tepat. Pencegahan adalah kunci dalam menghadapi meningitis.”

ASI Dapat Cegah Meningitis dan Pneumonia

ASI dapat cegah meningitis dan pneumonia, Untuk membantu para ibu yang sedang mengalami kekurangan ASI, berikut tipsnya, Air susu ibu (ASI) telah diketahui mengandung gula guna melindungi bayinya yang baru dilahirkan dari penyakit yang mematikan, dan hal itu dipercaya oleh para ilmuwan. Penelitian terbaru menunjukkan senyawa alami untuk menangkal infeksi Grup B streptokokus, yang juga lebih dikenal sebagai GBS. Itu merupakan infeksi yang dapat mengancam jiwa dan yang paling sering terjadi pada bayi baru yang lahir di Inggris yang menyebabkan meningitis, keracunan darah, dan pneumonia.

ASI Dapat Cegah Meningitis dan Pneumonia

Banyak wanita hamil secara alami namun membawa penyakit dan jumlah infeksi yang terdapat pada bayi pun kian meningkat. Namun belum dimengerti mengapa beberapa bayi yang lahir dengan membawa penyakit bisa tetap sehat. Di duga bahwa ASI dapat cegah meningitis dan pneumonia.

Para peneliti dari Imperial College London telah mempelajari 183 perempuan di Gambia dan para bayinya. untuk memastikan ASI dapat cegah meningitis dan pneumonia tau tidak. Mereka menguji dari DNA ibu untuk gen yang terkait dengan golongan darah dan memainkan peran penting untuk dapat menentukan jenis gula pada ASI nya saat masih mengandung. Tes tersebut juga untuk GBS.

Tim juga menemukan wanita dengan gen yang kurang memiliki GBS dalam usus, bayi mereka juga kurang terinfeksi saat dilahirkan. Namun, para bayi yang terinfeksi merasa lebih mudah untuk melawan kuman jika ASI ibu mereka mengandung gula yang disebut dengan lacto-n-difucohexaose I. jadi ASI dapat cegah meningitis dan pneumonia.

Akhirnya tes yang dilakukan dalam sebuah piring di laboratorium telah menunjukkan bahwa ASI memiliki kandungan gula yang lebih baik dalam membunuh GBS. Peneliti utama, Dr Nicholas Andreas menjelaskan, "Meskipun masih dalam penelitian tahap awal, ini sudah menunjukkan kompleksitas ASI dan manfaat yang mungkin dimiliki oleh bayi."

"Dalam proses penelitian telah menunjukkan gula ASI ini dapat melindungi terhadap infeksi pada bayi yang baru lahir. Diperkirakan juga gula yang terkandung dalam ASI memungkinkan bakteri ramah untuk berkembang, serta dapat bersaing di luar bakteri berbahaya yang mungkin dapat masuk dalam usus anak, seperti Grup B streptokokus," tambahnya.

Bakteri latch ke gula hanya untuk dibuang oleh tubuh manusia. Sehingga, hal ini dapat membantu dalam melindungi bayi dari infeksi sampai ke sistem kekebalan tubuh mereka itu sendiri hingga lebih matang untuk melawannya.