Laman

Senin, 22 Januari 2018

Tata Cara Pendaftaran Vaksinasi Online 2018

Pendaftaran Vaksinasi Online – Bagi calon jamaah umrah maupun jamaah haji yang ingin berangkat ke Tanah suci, sebagai syarat utama dari Pemerintah yang mewajibkan kepada seluruh calon jamaah untuk melakukan suntik vaksinasi meningitis. Vaksin meningitis juga tidak di sediakan oleh travel-travel pemberangkatan umrah dan haji, tidak pula tersedia di semua rumah sakit umum pemerintah maupun rumah sakit swasta. Pemerintah kita hanya kewenangan di beberapa tempat yang hanya bisa untuk melayani suntik meningitis itupun jumlah pendaftrannya dibatasi. Jika kita ingin memperoleh pelayanan suntik vaksin meningitis, kita tidak dapat datang sesuai dengan jam layanan dibuka.  Menurut pengalaman yang terjadi ada ketika datang tepat di waktu layanan dibuka, biasanya sudah tidak mendapatkan formulir pendaftaran, dikarenakan formulir telah habis oleh mereka yang datang lebih awal. 

Tata Cara Pendaftaran Vaksinasi Online 2018

Melakukan vaksinasi meningitis merupakan salah satu hal yang tidak boleh dilewatkan sama sekali dalam merencanakan perjalanan haji dan umrah. Berhubung kini sudah segalanya di berikan kemudahan, adapun cara melakukan pendaftaran vaksinasi online.

Pendaftaran vaksinasi online bagi calon jamaah haji maupun umrah kini telah tersedia di beberapa Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Adapun beberapa prosedur pelayanan registrasi International Certificate Vaccination (ICV) sebagai berikut:

1.Waktu pelayanan dibuka pada hari Senin-Jum’at pukul 08.00-13.00 waktu setempat.
2.Seluruh tempat yang menyediakan pelayanan KKP mempunyai kuota alokasi pelayanan vaksinasi internasional yang berbeda.
3.Bagi yang tidak memiliki paspor silahkan bisa datang langsung ke KKP tujuan terdekat untuk melakukan pendaftaran.
4.Pada setiap permohonan akan dilakukan verifikasi oleh para petugas KKP, permohonan yang dilakukan dianggap sah. Jika telah diverifikasi dan mendapatkan konfirmasi email.
5.Bagi pendaftar yang telah melakukan pendaftaran namun belum mendapatkan email konfirmasi, silahkan Anda mengkonfirmasi ulang di menu regitrasi vaksinasi Internasional dengan menu pelayanan.

Alur Proses Pelayanan

A.Pendaftaran Vaksinasi Online
1.Bagi pendaftar vaksinasi dapat melakukan pendaftaran dengan melalui form registrasi vaksinasi online.
2.Memilih tanggal permintaan pelayanan dan tanggal rencana keberangkatan 
3.Memilih lokasi KKP yang terdekat dengan Anda untuk melakukan pelayanan
4.Melakukan pengisian secara detail keterangan pendafataran yang lainnya.
5.Upload paspor hasil scanning dalam bentuk format jpeg/jpg/png.
6.Mengisi alamat email pribadi untuk mendapatkan notifikasi hasil verifikasi pendaftaran oleh petugas KKP dengan melalui email tersebut.
7.Setelah melakukan pendaftaran secara online, nantinya pendaftar akan memperoleh tanda terima dan file formulir pendaftaran dari Kemenkes Simkespel.

B.Pelayanan Vaksinasi
Bagi  mereka para pendaftar vaksinasi online yang telah melakukan pendaftaran vaksinasi secara online diwajibkan kepadanya utuk datang pada tanggal pelayanan yang telah dipilih, kemudian menunjukkan tanda terima ICV dan formulir pendaftaran dalam bentuk hardcopy kepada petugas KKP. Setelah itu, pendaftar membawa paspor dan dokumen identitas diri. Petugas KKP akan melakukan verifikasi pendaftar dan bagi pendaftar yang telah diverifikasi akan diberikan pelayanan vaksinasi oleh petugas KKP.

C.Penerbitan dan Pengesahan ICV
1.Petugas KKP akan melakukan vaksinasi kepada pasien. 
2.Jika seluruh proses vaksinasi telah selesai maka langkah selanjutnya petugas KKP akan melakukan penerbitan dokumen ICV yang baru jika pendaftar belum memiliki dokumen ICV atau dokumen ICV yang sebelumnya ada tapi telah habis.
3.Apabila pasien telah memiliki ICV yang sebelumnya maka akan dilakukan pengesahan oleh petugas KKP dengan cara mengisi data pelayanan yang telah di lakukan. 

Jumat, 19 Januari 2018

Komplikasi Meningitis Pada Anak atau Radang Selaput Otak

Komplikasi Meningitis Pada AnakInfeksi yang dapat menyebabkan radang selaput yang menyelubungi otak dan sumsum tulang belakang (meninges) disebut dengan meningitis. Menurut penelitian yang dilakukan para ahli, bahwa ada lebih dari 50 persen remaja yang telah bertahan dari infeksi meningitis alami dan komplikasi setelahnya. Sebab radang pada otak dan sumsum tulang belakang dapat disebabkkan karena adanya virus, bakteri atau mikroorganisme lain yang menyerang dan walaupun jarang sekali terjadi disebabkan oleh obat tertentu. Meningitis merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian sebab radang yang terjadi pada otak dan sumsum tulang belakang. Sehingga, dalam kondisi ini dapat diklasifikasikan sebagai kedaruratan medis.

Komplikasi Meningitis atau Radang Selaput Otak

Untuk gejala umum dari meningitis adalah sakit kepala dan leher terasa kaku dan disertai dengan demam, kebingungan atau perubadahan kesadaran, muntah-muntah dan kepekaan terhadap cahaya (fotofobia) atau suara keras (fonofobia). Gejala meningitis yang terjadi pada anak-anak biasanya itu hanya menunjukkan gejala nonspesifik, seperti lekas marah dan mudah mengantuk. Selain itu, didapat juga ruam merah dapat memberikan petunjuk penyebab dari meningitis. Contohnya meningitis yang disebabkan oleh bakteri meningkokus yang dapat ditunjukkan oleh adanya ruam merah. Ada beberapa kompilkasi meningitis pada anak yang bisa terjadi kapan saja.

Komplikasi terjadi lebih umum setelah bakteri meningitis dan sangat jarang terjadi ditemukan setelah virus meningitis. komplikasi meningitis pada anak mungkin saja dapat terjadi secara sementara maupun permanen. Mereka juga bisa dalam jangka waktu pendek atau panjang. Risiko komplikasi akan makin tinggi jika infeksi meningitis semakin parah. Dan komplikasi ini lebih sering terjadi pada kasus meningitis bakterialis dari pada kasus meningitis virus. 

Komplikasi meningitis secara umum dapat meliputi dibawah ini:
1.Di sekitar seperempat dari orang-orang yang mengalami penyakit meningococcal mungkin saja dapat mengembangkan infeksi septicaemia atau aliran darah dan menegmbangan beberapa komplikasi
2.Kehilangan pendengaran, bisa secara persial atau total. Hal inilah yang sangat ditakuti. Pasien meningitis biasanya diberikan saran oleh dokter untuk melakukan tes pendengaran untuk diperiksa apakah terjadi masalah.
3.Masalah terjadi juga pada daya ingat atau konsentrasi penderita meningitis.
4.Kesulitan dalam belajar, terkadang bisa bersifat sementara atau bahkan permanen.
5.Ada yang dapat pendek atau panjang istilah masalah dengan melakukan koordinasi dan keseimbangan.
6.Masalah dalam berbicara dan hilang penglihatan, bisa saja terjadi hanya sebagian atau total.
7.Munculnya gangrene jika ada septicaemia karena meningitis. gangrene merupakan jaringan yang telah rusak dan baru akan mati. Dimana pada jaringan ini dirusak oleh racun yang dihasilkan bakteri yang masuk ke dalam darah. Jika jaringan yang rusak sangat parah sekali, maka kemungkinan besar anggota badan diperlukan amputasi karena untuk gangrene.
8.Bermasalah pada depresi, kebingungan, kecemasan,kelelahan dapat diditeksi sebagai alat komplikasi dari meningitis tersebut.

Sedangkan komplikasi meningitis yang terjadi pada anak-anak adalah:

1.Ketika anak yang baru lahir, kemungkinan besar ada risiko kerusakan pada otak. Hal ini yang dapat menyebabkan serangkaian gejala yang dapat mempengaruhi gerakan dan koordinasi.
2.Meningitis pada umumnya itu dapat mempengaruhi anak-anak yang disana, kemungkinan besar kesulitan belajar yang sifatnya sementara maupun permanen.
3.Banyak anak-anak yang terkena meningitis dapat mengembangkan epilepsi yang mengarah ke serangan yang berulang.

Kemudian adapun efek dari meningitis setelah anak-anak bertarung dengan pemyakit tersebut yakni anak menjadi semakin lengket karena tidak ingin ditinggalkan sendiri, mengembangkan gangguan tidur, Bed-wetting, mudah marah, Moody, mengalami mimpi buruk, merasa rendah dan rasa takut dokter serta rumah sakit.

Kamis, 18 Januari 2018

Epidemiologi Penyakit Meningitis di Indonesia

Epidemiologi Penyakit MeningitisInfeksi meningokokal banyak kita jumpai di seluruh dunia yang dijadikan sebagai infeksi endemik dan disebabkan oleh Neisseria Meningitis yang menyerang, terutama anak-anak yang sehat dengan insidens dan angka mortalitas yang cukup tinggi yakni sekitar 10 persen. Secara eksklusif kuman ini terdapat dalam tubuh manusia, dimana kuman ini memiliki bentuk yang bulat dan berpasangan seperti biji kopi dan diliputi oleh suatu membran yang terdiri dari lemak, protein dan lippolisakarida. Dengan melalui pengujian serologic, kuman ini dibagi menjadi beberapa grup (serogrup) yang seluruhnya berjumlah 13 dan 20 tipe (serotipe). Galur (strain) yang termasuk dalam serogrup B dan C merupakan penyebab utama terjadinya radang selaput otak atau biasa dikenal dengan penyakit meningitis.

Epidemiologi Penyakit Meningitis di Indonesia

Meningitis terjadi di negara-negara maju. Sedangkan, galur dari serogrup A dan sebagian kecil C banyak ditemukan di berbagai negara yang berkembang. Pada penentuan serotipe ini sangat penting sekali dipandang dari segi strategi pengembangan vaksin, akan tetapi tidak memadai untuk tujuan epidemiologi modern. Dengan mencoba untuk menggunakan cara pendekatan genetik, terutama dengan menggunakan cara multilocus enzyme electrophoresis ini, dapat diperoleh dari suatu gambaran atau bayangan yang lebih baik lagi mengenai epidemiologi penyakit meningitis dan ekspansi klonal penyakit yang disebabkan karena adanya Neisseria Meningitidis ini.

Meningitis yang terjadi di daerah Afrika sub-Sahara memiliki pola epidemiologi penyakit meningitis yang khusus dan disebut sebagai meningitis belt yang meliputi kurang lebih 10 negara diantaranya adalah Togo, Benin, Burkina Faso, Ghana, Chad, Nigeria, Sudan, Cameroon dan Republik Afrika Tengah. Di daerah tersebut, infeksi meningkokus yang disebabkan oleh serogrup A timbul secara berulang-ulang di setiap tahunnya sebagai suatu gelombang. Dimana derajat serangan penyakit yang terjadi dapat terus terjadi peningkatan pada akhir musim kering dan secara cepat juga akan menurun setelah musim hujan mulai. Ketika sudah puncak terjadinya epidemik, insidens penyakit dapat mencapai 1000/100.000 penduduk.

Sejak akhir tahun 1960, telah terjadinya epidemi yang lebih luas yang disebabkan karena galur-galur Neisseria meningitidis yang secara genetik mereka saling berasal dari Cina bagian utara dan terus menyebar ke selatan dan kemudian keseluruh dunia. hal itu disebabkan oleh dua jenis klon (clones) yang berasal dari serogrup A yakni subgroup I dan III. Klon Subgrup III akan menyebar ke bagian subkontinen India pada tahun 1987, klon ini mencapai ke daerah Timur Tengah, kemudian menyebar ke tempat-tempat yang lebih jauh lagi dan menimbulkan epidemi yang lebih luas di Jazirah Arab dan Afrika. Kemudian, pada tahun sekitar 1990, wabah ini bergerak ke bagian lebih selatan dari daerah yang tradisional, meningitis belt bisa sampai mencapai ke Afrika Selatan di tahun 1996. Di tahun itu terdapat lebih dari 150.000 kasus dan sedikitnya 16.0000 orang meninggal dunia.

Banyak di negara yang maju, galur serogrup B ini terus bertahan selama lebih dari 30 tahun lamanya. Kebanyakan pada galur ini termasuk dengan kompleks klonal yang telah dikenal sebagai ET-5 dan ET-37. Di bagian barat laut Eropa yakni Norwegia, Inggris dan Belanda, infeksi hiperendemik dengan derajat serangan 4 sampai 50/100.000 terus bertahan sudah sejak sekitar pertengahan tahun 1970, derajat serangan penyakit yang cukup tinggi dan persisten ini disebabkan oleh galur serogrup B yang termasuk didalamnya adalah ET-5. Galur ini terus beredar di antara para penduduk setempat dengan transmisibilitas rendah tetapi derajat virulensinya tinggi.

Pada galur grup B dengan memiliki karakteristik ET-5 yang telah ditemukan di Cina pada tahun 1974, serta pada tahun 1980 juga ditemukan di Jepang, Cuba, Thailand, Spanyol, Brazilia dan Cili. Sedangkan sekitar tahun 1990 galur ini terus menyebar luas ke Afrika Utara dan Australia. Di Amerika banyak berbagai kasus yang telah dilaporkan dijumpai pada imigran yang berasal dari Kuba, tetapi sangat jauh berbeda dengan bagian barat laut Eropa, di sini tidak terjadi wabah yang terlalu besar. 

Pada saat dilaporkan terjadinya wabah oleh ET-5 di seluruh dunia, galur yang juga termasuk dalam klonal kompleks dari serogrup B yang lain dari ET-24 dan ET-25 kemudian timbul di Eropa. Awal tahun 1980 ditemukan di Belanda, klon yang sangat dominan sekali saat menjelang akhir tahun 1990. Setelah itu terus menyebar ke seluruh Eropa. Galur yang juga termasuk ET-37 menjadi penyebab wabah di antara personil militer yang ada di Amerika. Salah satu varian dari ET-37 adalah ET-15 yang muncul pada akhir tahun 1980 di Amerika Utara. Sehingga menjadi penyebab terjadinya peningkatan angka pada serangan infeksi meningkokal di daerah tersebut. 

Sebagian daerah yang ada di Amerika, serogrup Y, muncul sejak tahun 1990 dan menjadi penyebab penting dari kasus-kasus endemis. Kurang lebih sekitar sepertinga berbagai kasus yang ada di daerah tertentu di Amerika yang disebabkan oleh serogrup Y ini, sepertiganya lagi disebabkan karena adanya serogrup C dan sisanya lagi oleh serogrup B. Pada studi epidemiologis dengan menggunakan metode molekuler yang telah menunjukan suatu gambaran yang kompleks mengenai kelompok klon meningokokal patogenik yang sehingga menyebabkan wabah yang menyebar ke seluruh dunia ini.

Selasa, 16 Januari 2018

Jenis Kejang Pada Meningitis Orang Tua Wajib Tahu

Jenis Kejang Pada MeningitisMeningitis adalah peradangan dari meningen yang sehingga dapat menyebabkan terjadinya gejala perangsangan seperti sakit kepala, kaki kuduk, fotofobia yang disertai dengan adanya peningkatan jumlah leukosit pada liquor cerebrospinal (LCS). Berdasarkan durasi yang ada dari gejalanya, meningitis dapat dibagi menjadi dua yakni akut dan kronik. Pada meningitis akut dapat memberikan sebuah manifestasi klinis dalam rentang jam hingga beberapa hari saja, sedangkan untuk meningitis kronik memiliki onset dan durasi sampai yang berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Kebanyakan kasus yang ada, gejala klinik meningitis saling tumpang tindih disebabkan oleh etiologi yang sangat bervariasi. Meningitis juga dapat dibagi berdasarkan dari etiologinya. Sedangkan, meningitis bakterial akut itu sendiri merujuk kepada bakteri sebagai penyebabnya. Meningitis yang jenisnya seperti itu akan memiliki onset gejala pleositosis dan meningeal yang sifatnya akut. Penyebab dari itu antara lain adalah Streptococcus Pneumoniae, Haemophilus influenzae dan Neisseria meningitidis. Jamur dan parasit juga dapat menyebabkan meningitis seperti Cryptococcus, amoeba dan Histoplasma.

Jenis Kejang Pada Meningitis Orang Tua Wajib Tahu

Meningitis aseptik ialah sebutan umum yang menunjukkan respon selular nonpiogenik yang disebabkan oleh agen etiologi yang berbeda-beda. Bagi penderita biasanya menunjukkan gejala meningeal akut, demam, dan pleositosis LCS yang didominasi oleh limfosit. Jenis kejang pada meningitis itu bermacam-macam. Setelah melakukan pemeriksaan laboratorium beberapakali, telah didapatkan penyebab dari meningitis aseptik ini, kebanyakan yang berasal dari virus, di antaranya adalah Enterovirus, Herpes Simplex Virus (HSV).

Kejang dapat terjadi kapan dan dimana saja dan oleh siapa pun. Sebab kejang dapat terjadi akibat dari lepas muatan proksismal yang berlebihan dari sebuah fokus kejang atau jaringan normal yang terganggu akibat dari suatu keadaan patologik. Aktivitas kejang sebagian bergantung pada lokasi lepas muatan yang terlalu berlebihan. Thalamus, lesi di otak tengah, dan korteks serebrum yang kemungkinan besar bersifat epileptogenik, sedangkan lesi yang ada di serebelum dan batang otak pada umumnya tidak dapat memicu terjadinya kejang. Jenis kejang pada meningitis itu berbeda-beda. 

Kejang juga dapat diklasifikasikan sebagai parsial dan generalisata yang berdasarkan apakah kesadaran utuh ataukah lenyap. Parsial adalah kesdaran utuh walaupun mungkin dapat berubah, fokus di satu bagian tetapi dapat menyebar ke bagian yang lainnya. sedangkan, generalisata adalah hilangnya kesadaran, tidak adanya awitan fokal, bilateral dan simetrik dan tidak ada aura. Parsial dan generalisata dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yakni:

Parsial terbagi menjadi 2 jenis:
1.Parsial Sederhana, dapat bersifat sensorik (merasakan, membaui dan mendengar sesuatu yang abnormal), autonomik (takikardia, takipnu kemerahan,bradikardia dan rasa tidak enak di epigrastium), motorik (gerakan abnormal unilateral), psikis (disfagia, gangguan pada daya ingat). Biasanya berlangsung kuran dari satu menit.
2.Persial Kompleks, awalnya itu dimulai sebagai kejang parsial sederhana, akan terus berkembang menjadi perubahan kesadaran yang didasari oleh gejala motorik, gejala sensorik, otamatisme (mengecap-ngecapkan bibir, menarik-narik baju dan mengunyah. Beberapa kejang pada parsial kompleks mungkin berkembang menjadi kejang generalisata dan biasnaya itu berlangsung selama 1-3 menit.


Generalisata terbagi menjadi 6 jenis:
1.Tonik-Klonik, splasma tonik-klonik otot, inkontinensia urin dan alvi. Menggigit lidah fase pascaiktus.
2.Absence, tatapan kosong, kepala sedikit lunglai, kelopak mata bergetaratau berkedip secara cepat, tonus tidak dapat hilang dan berlangsung dalam beberapa waktu.
3.Mioklonik, kontraksi mirip dengan syok mendadak yang terbatas di beberapa otot atau tungkai, cenderung singkat. 
4.Klonik, jenis yang merupakan gerakan yang menyentak, repetitive, tajam, lambat, dan tunggal atau multiple di lengan, tungkai atau turso.
5.Atonik, hilangnya secara mendadak tonus otot yang disertai dengan lenyapnya postur tubuh (drop attacks).
6.Tonik, peningkatan mendadak tonus otot menjadi kaku dan kontraksi. Wajah dan tubuh pada bagian atas serta fleksi lengan dan ekstansi tungkai. Mata dan kepala mungkin berputar ke satu sisi. Sehingga dapat menyebabkan henti nafas.

Dari seluruh jenis tersebut, kejang tonik-klonik yang sering disebut sebagai kejang demam yang paling sering terjadi pada anak yang masih berusia kurang dari 5 tahun. Teori memberikan saran bahwa kejang ini disebabkan oleh hipertermia yang muncul secara cepat yang berkaitan dengan infeksi virus atau bakteri. Kejang ini pada umumnya berlangsung secara singkat dan mungkin terdapat predisposisi familial. Pada beberapa kasus yang ada, kejang juga dapat berlanjut melewati masa anak dan anak mungkin akan mengalami kejang nondeman pada kehidupan yang selanjutnya.

Kejang tonik-klonik dahulunya itu disebut dengan grand mal yakni kejang epilepsy yang klasik. Kejang tonik-klonik yang diawali dengan hilangnya kesadaran dengan cepat. Akibat dari ekspresi paksa yang disebabkan oleh spasme toraks atau abdomen, biasanya pasien akan bersuara menangis. Selain menangis, juga akan kehilangan posisi berdirinya dan mengalami gerakan tonik kemudian klonik dan inkontinensia urin atau alvi (maupun keduanya), yang disertai dengan difungsi autonomy. Pada fase tonik, otot-otot berkontraksi dan posisi tubuh mungkin akan berubah. Fase ini hanya berlangsung beberapa detik saja. 

Pada fase klonik memperlihatkan berbagai kelompok otot yang berlawanan, bergantian, berkontraksi dan melemas sehingga terjadinya gerakan-gerakan yang menyentak. Jumlah kontraksi secara bertahap akan berkurang namun kekuatannya tidak berubah. Lidah mungkin dapat tergigit, hal ini terjadi pada sekitar separuh pasien spasme rahang dan lidah. Dari keseluruhan kejang yang berlangsung selama 3 hingga 5 menit dan diikuti oleh periode tidak sadar yang mungkin berlangsung hingga beberapa menit sampai selama 30 menit. Setelah si pasien tersadar mungkin akan tampak kebingungan, agar stupor atau bengong. Pada tahap ini dapat disebut sebagai periode pascaiktus. Pada umumnya pasien tidak dapat mengingat kejadian saat dia mengalami kejang.

Untuk dapat mempertahankan hidup pasien, sel otak membutuhkan energy yakni senyawa glukosa yang didapat dari proses metabolisme. Membran yang mengelilingi sel-sel otak dalam keadaan yang normal maka membran sel neuron dapat dilalui tanpa ada kesulitan oleh ion Kalium (K+) dan akan sangat sulit sekali bila dilalui oleh ion Natrium (Naa+) dan elektrolit lain kecuali Clorida (CI-). Akibatnya konsentrasi ion K di dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi ion Na rendah. Keadaan yang sebaliknya terjadi di luar sel neuron. Sebab perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam maupun di luar sel tersebut maka akan terjadi beda potensial yang disebut dengan Potensial Membran Sel Neuron.

Kemudian, untuk dapat menjaga kesimbangan potensial membran sel diperlukan juga energy dan enzim Na-K-ATP ase yang terdapat di permukaan sel. Dimana keseimbangan pada potensial membran sel yang dipengaruhi oleh:

1.Perubahan pada konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
2.Rangasnagan yang datangnya secara mendadak baik itu dari rangsangan mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya.
3.Perubahan patofisiologi dari membran yang disebabkan dari penyakit atau faktor keturunan. Seseorang dalam keadaan demam dengan kenaikan suhu hingga mencapai 1 celcius akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15 % dan peningkatan kebutuhan oksigen bisa sampai 20%.

Jadi, pada kenaikan suhu yang tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membrane sel, akibat dari lepasnya muatan listrik yang demikian besar sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun ke membran sel tetangga dengan bantuan neurotransmitter dan terjadilah kejang. Lalu, pada anak yang sedang dalam ambang kejang yang rendah kenaikan suhu hingga 38 celcius sudah terjadi kejang-kejang, namun pada anak dengan ambang kejang yang sangat tinggi, kejang baru terjadi ketika anak pada suhu diatas 40 celcius. 

Senin, 15 Januari 2018

Penyakit Cryptococcal Meningitis Dapat Ditangani

Penyakit Cryptococcal Meningitis – penyakit meningitis merupakan penyakit yang dapat mengakibatkan peradangan pada membran (meninges) di sekitar otak dan sumsum tulang belakang, biasanya infeksi pada penyakit ini akan terus menyebar. Pembengkakan yang terkait dengan meningitis seringkali memicu tanda dan gejala dari kondisi yang seperti ini, antara lain demam, leher kaku, sakit kepala dan siapa pun yang masih berusia dua tahun ke atas. Selain itu, banyak juga kasus meningitis yang disebabkan oleh beberapa faktor yakni oleh infeksi virus, bakteri jamur. Setiap tahun virus dapat menyebabkan meningitis yang lebih besar dari pada  bakteri. Sedangkan meningitis akibat jamur tidak dapat menyerupai acute bacterial meningitis. 

Penyakit Cryptococcal Meningitis Dapat Ditangani

Crytococcal meningitis adalah jamur. Dimana kuman ini sangat lazim berada di tanah. Jamur ini kemudian masuk ke dalam tubuh kita saat menghirup debu atau kotoran burung yang kering. Tampaknya juga kuman ini tidak menyebar dari orang ke orang. Penyakit Cryptococcal meningitis dapat menginfeksi kulit, paru dan bagi tubuh yang lainnya. Risiko infeksi Cryptoccal yang paling tinggi itu jika jumlah CD4 dibawah 50.

Penyakit Cryptococcal Meningitis adalah salah satu infeksi oportunistik terkait dengan HIV yang paling penting, terutama di negara yang berkembang. Dalam sebuah penemuan baru memperkirakan bahwa ada satu juta kasus pada setiap tahunnya. Meningitis sejenis ini memiliki tanda-tanda yang diawali dengan demam, leher pegal, kelelahan, demam, mual, muntah, kebingungan, penglihatan kabur dan kepekaan pada cahaya dan suara yang keras. Gejala ini muncul secara perlahan. Kalau sakit kepala seringkali dialami pada bagian depan kepala dan tidak mampu diredakan oleh paracetamol.

Penyakit Cryptococcus meningitis dapat diobati dengan obat anti jamur. Beberapa dokter biasanya memakai flukonazol. Obat ini tersedia dalam bentuk pil atau infus. Flukonazol lumayan efektif dan biasanya itu mudah ditahan. Selain itu, Intrakanazol juga kadang kala dipakai untuk orang yang tidak tahan dengan flukonazol. Dokter lain pun memilih kombinasi amfoterisin B dan kapsul flusitosin. Adapun obat yang sangat manjur yakni Amfoterisin B. obat ini dapat disuntikkan atau diinfus secara perlahan dan dapat mengakibatkan efek samping yang berat.

Namun, efek berat tersebut dapat dikurangi dengan obat semacam ibuprofen setengah jam sebelum amfoterisin B dipakai. Amfoterisin B sudah ada sudah ada versi yang barunya, dengan obat yang dilapisi selaput lemak menjadi gelembung kecil yang disebut dengan Liposom. Versi ini kemungkinan dapat menyebabkan lebih sedikit efek samping.

Cryptococcus meningitis dapat kambuh kembali setelah kejadian pertama pada kurang lebih separuh orang. Untuk mengurangi rasa kambuhnya itu dapat menggunakan obat anti jamur. Sebuah penelitian baru telah menemukan bahwa meningitis tidak kambuh pada Odha dengan jumlah CD4 yang mengingat menjadi lebih dari 100 dan memiliki viral load tidak terdeteksi selama tuga bulan. Untuk beberapa orang, pada cairan sumsum tulang punggung yang harus disedot setiap hari untuk beberapa waktu agar dapat mengurangi tekanan pada otak.

Jika seseorang mengalami penyakit Cryptococcus meningitis, ada beberapa pengobatan yang dapat Anda pilih. Diobati dengan obat anti jamur seperti amfoterisin B, flukonazol dan flusitosin. Sedangkan, Amfoterisin B adalah obat yang paling manjur, akan tetapi obat ini dapat merusak ginjal. Kalau obat yang lainnya tadi dapat mengakibatkan efek samping yang lebih ringan, tatapi kurang efektif untuk memberantas Cryptococcus. Jadi meningitis didiagnosis cukup dini, dimana penyakit ini dapat diobati dengan tanpa obat amfoterisin. Akan teapi pengobatan yang umumnya itu adalah amfoterisin B untuk dua minggu dan diikuti dengan flukonazol oral (pil).

Selebihnya, jika mengalami Cryptococcus meningitis, diagnosis dini mungkin dapat membolehkan pengobatan dengan obat yang kurang beracun. Namun, lebih baik segera untuk menghubungi dokter jika mengalami sakit kepala, bermalasah pada penglihatan, leher pegal, mual, atau muntah dan masalah lainnya. Jika sebelumnya pernah merasakan penyakit meningitis, harus memakai obat anti jamur yang terus menerus untuk mencegah kambuhnya.

Jumat, 12 Januari 2018

Terapi Meningitis Bakteri Sekilas Pengobatannya

Terapi Meningitis BakteriMeningitis merupakan salah satu perdangan akut selaput pelindung otak dan saraf tulang belakang yang biasa disebut sebagi meninges. Terjadi peradangan ini disebabkan oleh adanya infeksi virus, bakteri atau mikroorganisme lainnya dan konsusmi obat-obatan tertentu. Meningitis yang diderita oleh seseorang dapat mengancam keselamatan jiwa sebab peradangannya dekat sekali dengan otak dan sumsum tulang belakang. Oleh sebab itu, kondisi seperti itu dikualifikasikan sebagai suatu keadaan darurat medis. Pada umumnya gejala meningitis itu adalah sakit kepala dan kekakuan leher masih terkait dengan demam, hilang kesadaran, kebingungan, muntah, dan ketidakmampuan dalam melihat cahaya (takut pada cahaya), dan masih banyak lainnya.

Terapi Meningitis Bakteri Sekilas Pengobatannya

Sebelum membahas terapi meningitis bakteri, Meningitis yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis atau biasa dikenal sebagai ‘Meningitis Meningkokus’ dapat dibedakan dari meningitis dengan penyebab lain dengan ruam yang cepat menyebar luas. Ruam memiliki ukuran yang kecil, tidak teratur, berwarna merah bintik-bintik atau ungu pada ekstremitas bawah, conjunctiva, mukosa, dan telapak tangan atau telapak kaki. Ruam kulit yang ada tidak hilang jika ditekan dengan menggunakan jari dan gelas kaca. Pada penyakit meningitis biasanya jaringan otak dapat membengkak dan dapat meningkatkan tekanan di dalam tengkorak. Selain itu, kejang juga dapat terjadi sebab banyak berbagai alasan seperti meningitis pada anak-anak umumnya kejang di tahap awal meningitis (30% kasus) dan tidak serta merta menunjukkan penyebab yang mendasari.

Penyebab dari kelainan saraf kranial adalah akibat dari peradangan meninges yakni dari sekelompok saraf yang timbul dari batang otak yang kemudian menyuplai daerah kepala dan leher serta yang mengendalikan itu semua, antara lain fungsi, otot-otot wajah, gerakan mata dan pendengaran. Meningitis biasanya juga disebabkan oleh infeksi mikroorganisme. Namun sebagian besar infeksi yang biasanya disebabkan oleh virus, bakteri, jamur dan protozoa yang menjadi penyebab paling umum berikutnya. Meningitis jenis tersebut biasanya diakibatkan oleh virus akan tetapi bisa juga karena infeksi bakteri. Ketika bakteri telah menghilang dari meninges atau patogen menginfeksi ruang yang berdekatan dengan meninges. ada terapi meningitis bakteri sekilas dengan pengobatannya.

Penyebab meningitis bakteri dari berbagai macam jenis bakteri yang bervariasi menurut kelompok umur individu terinfeksi. Pada orang dewasa, Neisseria meningitidis dan Streptococcus pneumoniae bersama-sama menyebabkan 80% kasus meningitis bakteri. Listeria monocytogenes dengan risiko infeksi akan terus terjadi peningkatan pada seseorang yang sudah berusia lebih dari 50 tahun. Penggunaan vaksin pneumokokus telah menurunkan tingkat meningitis pneumokokus pada anak-anak dan orang dewasa. Sedangkan, Pada bayi prematur dan bayi baru lahir hingga umur tiga bulan, penyebab umumnya adalah streptokokus group B (subtipe III yang biasanya menghuni vagina dan terutama penyebab infeksi selama minggu pertama kehidupan) dan bakteri yang biasanya menghuni pencernaan seperti Escherichia coli (membawa K1 antigen). Listeria monocytogenes (serotype IVb) dapat mempengaruhi bayi dan terjadi dalam epidemi.

Meningitis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang terjadi pada seseorang dari negara dimana tuberculosis endemik disebut meningitis tuberculosis. Tetapi juga dapat dijumpai pada seseorang yang sedang mengalami masalah mengenai kekebabalan tubuh, seperti AIDS. Penyakit meningitis bakteri yang terus berulang-ulang bisa juga disebabkan oleh cacat anatomi bertahan, baik itu dari bawaan atau faktor dapatan maupun gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Penyebab yang paling umumnya itu adalah patah tulang tengkorak, terutama fraktur yang memberikan pengaruh dasar tengkorak atau memperpanjang menuju sinus dan paramida petrosa.

Mungkin selama ini kita hanya mengetahui bahwa meningitis itu terjadi dan menyebar akibat dari penularan tapi ternyata ada juga meningitis yang dapat terjadi sebagai hasil dari beberapa penyebab yang tidak menular, yakni penyebaran kanker ke meninges ganas atau neoplastic meningitis dan obat-obatan tertentu terutama obat non-steroid anti-inflamasi, antibiotik dan immunoglobulin intravena. Beberapa kondisi inflamasi yang ada akibat dari meningitis aseptik, seperti Sarkoidosis, gangguan jaringan ikat seperti lupus eritematsus sistemik dan bentuk-bentuk tertentu vaskulitis, seperti penyakit Behcet’s. Kista epidermoid dan kista dermoid dapat menyebabkan meningitis dengan melepaskan iritan ke ruang subarachnoid.

Untuk beberapa penyebab meningitis yang terjadi, perlindungan dapat diberikan dalam jangka panjang dengan melalui vaksinasi atau dalam jangka pendek dengan penggunaan antibiotik. Adapun beberapa langkah-langkah perubahan perilaku juga yang mungkin efektif. Meningitis dapat mengancam nyawa seseorang jika tidak segera diobati. Keterlambatan dalam melakukan pengobatan telah dikaitkan dengan hasil yang buruk. Dengan demikian dalam proses pengobatan dengan penggunaan antibiotik spektrum luas tidak boleh tertunda sementara itu tes konfirmasi masih sedang dilakukan. Cairan intervena harus diberikan apabila terdapat hipotensi atau tekanan darah rendah dan shock.

Ventilasi mekanik mungkin akan sangat diperlukan bila tingkat kesadaran sangat rendah atau jika ada kegagalan pernapasan. Jika memang mendapati tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial, langkah-langkah untuk memantau tekanan dapat diambil, meliputi optimalisasi tekanan perfusi serebral dan berbagai perawatan untuk dapat mengurangi tekanan intrakranial dengan obat. Kejang dapat diterapi dengan antikonvulsan.

Penjelasan mengenai terapi meningitis bakteri,

1.Steroid
kortikosteroid dapat digunakan sebagai pengobatan tambahan biasanya deksametason telah menunjukkan beberapa manfaat yang telah dilakukan, seperti mengurangi kehilangan pendengaran dan hasil neurologis jangka pendek yang lebih baik. Steroid tampaknya akan membawa kemanfaatan untuk mereka yang sedang meningitis tuberkulosis, setidaknya orang yang negatif HIV.

Menurut pedoman profesional yang telah memberikan saran untuk permulaan deksametason atau kortikosteroid serupa sebelum dosis pertama antibiotik diberikan, dan terus selama empat hari. Mengingat bahwa sebagian besar manfaat yang dihasilkan dari pengobatan terbatas kepada mereka yang menderita dengan pneumokokus meningitis, menurut dari beberapa pedoman yang ada memberikan saran bahwa deksametason dihentikan jika penyebab meningitis telah diidentifikasi.

2.Meningitis jamur
Meningitis jamur, seperti cryptococcal meningitis, diobati dengan anti jamur dosis tinggi, seperti Amfoterisin B dan flusitosin.

3.Meningitis virus
Meningitis virus biasanya hanya membutuhkan terapi suportif. Meningitis virus cenderung lebih jinak dari meningitis bakteri. Varicella zoster virus dan Herpes simplex virus mungkin dapat meresponsif dengan menggunakan obat-obat antivirus seperti aciclovir, tetapi tidak ada uji klinis yang telah melakukan dan menyatakan secara khusus membahas apakah pengobatan ini efektif. Adapun beberapa kasus meningitis virus ringan yang dapat diobati di rumah dengan langkah-langkah yang konservatif seperti cairan, bedrest dan analgesik.

4.Antibiotik
Antibiotik empiris harus dimulai dan dilakukan dengan segera, bahkan sebelum hasil pungsi lumbal dan analisis CSF diketahui. Pilihan dalam melakukan pengobatan awal itu tergantung pada jenis bakteri yang dapat menyebabkan meningitis di tempat tertentu dan populasi. Misalnya di beberapa negara, seperti di Inggris pengobatan empiris terdiri dari cefalosporin generasi ketiga seperti cefotaxime atau ceftriaxone. Di Amerika Serikat, dimana resistensi terhadap cefalosporins semakin ditemukan pada streptokokus, penambahan Vankomisin untuk pengobatan awal dianjurkan. Kloramfenikol, baik tunggal atau dalam kombinasi dengan ampicillin, dapat diberikan dengan pertimbangan tertentu.

Kamis, 11 Januari 2018

Askep Meningitis yang terjadi Pada Anak

Askep MeningitisMeningitis merupakan penyakit yang tergolong penyakit yang serius dan dapat mengakibatkan kecatatan hingga kematian. Meningitis adalah inflamasi yang terjadi pada meningen otak dan medulla spinalis, dimana gangguan ini biasanya merupakan komplikasi bakteri seperti sinusitis, otitis media, pneumonia, endorkaditis atau osteomyelitis. Penderita penyakit tersebut yang dapat bertahan hidup akan menderita kerusakan pada otak sehingga terjadi kelumpuhan, tuli, epilepsi dan reterdai mental. Penyakit meningitis dan pneumonia telah membunuh jutaan balita yang ada di seluruh dunia. Menurut data WHO menunjukkan bahwa dari sekitar 1,8 juta kematian anak balita di seluruh dunia pada setiap tahun, labih dari 700.000 kematian anak terjadi ni negara yang berada dalam kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

Askep Meningitis yang terjadi Pada Anak

Dalam askep meningitis didapati bahwa ada tiga macam bakteri penyebab meningitis yakni Stretococcus, pneumonia, Haemophilus influenzae tipe b dan Niesseria meningitides. Dari ketiga bakteri penyebab meningitis itu, Streptococcus pneumonia (pneumokokus) ialah salah satu bakteri yang paling sering sekali memyerang bayi di bawah usia 2 tahun. Dengan masa inkubasi kuman tersebutsangat pendek yakni sekitar 24 jam. Bakteri pneumokokus ialah salah satu penyebab meningitis yang paling parah dibanding yang lainnya.

Penelitian yang diungkapan oleh konsulat penyakit menular dari  Leicester Royal Roya Infirmary dalam askep meningitis, Inggris, Dr Martin Wiselka, hasilnya menunjukkan bahwa 20-30 persen  pasien dengan penyakit meningitis meninggal dunia hanya dalam waktu 48 jam. Angka kematian yang terbanyak itu terjadi pada bayi dan orang lanjut usia (lansia). Sedangkan, pada pasien yang terlanjur koma saat dibawa ke rumah sakit, sulit juga untuk dapat bertahan hidup. Anak lebih sering terkena infeksi virus dibanding orang dewasa sebab tubuh pada anak itu belum dapat memproduksi antibody yang dapat melawan bakteri tersebut. Dan anak daya tahan tubuhnya masih lemah.

Sedangkan, pasien yang berhasil sembuh meski biasanya itu mengalami kerusakan otak permanen yang berdampak pada kehilangan pendengaran, kelumpuhan atau keterbelakangan mental, ada sebanyak 50 persen. Komplikasi penyakit tersebut akan timbul secara perlahan dan semakin parah setelah beberapa bulan.

Penyebab-penyebab dari meningitis dapat meliputi:
1. Bakteri Piogenik, yang disebabkan oleh bakteri pembentuk pus, terutama pneumokokus, meningkokus dan hasil influenza.
2. Virus yang disebabkan karena adanya agen-agen virus yang sangat bervariasi.
3. Organisme jamur.

Meningitis dapat disebabkan juga oleh berbagai macam organisme seperti Bakteri yang meliputi Haemofilus influenza tipe B, streptococcus pneumonia, nisseria meningitides, ß-hemolytic streptococcus, staphylococcus aureus dan eschericia coli. Faktor predidposisi di mana jenis kelamin laki-laki lebih sering dari pada wanita. Faktor meternal yang berakibatkan rupture membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan. Faktor imunlogi yang diakibatkan oleh defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobuin, dan anak yang mendapatkan obat imunosupresi. Dan anak dengan kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persyarafan. Pasien umumnya yang mengidap meningitis akan mengalami faktor predisposisi seperti infeksi, fraktur tulang tengkorak, operasi otak atau sum-sum tulang belakang.

Dampak yang ditimbulkan dari perkembangan meningitis adalah sakit kepala dan demam yang merupakan gejala awal yag paling sering muncul, perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi seperti hilang responsive dan koma, hilang kesadaran, kaku leher, fotofobia terhadap cahaya, peka terhadap suara keras, mudah mengantuk, kejang-kejang, muntah/mual, ruam pada kulit, dan masih banyak lainnya.

Otak yang dilapisi dengan tiga lapisan yaitu durameter, arachnoid dan piameter. Cairan otak yang dihasilkan di dalam pleksus choroid ventrikel bergerak atau akan terus mengalir dengan melalui sub arachnoid di dalam sistem vertikuler serta seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi dengan melalui villi arachnoid yang memiliki struktur seperti jari-jari di dalam lapisan subarachnoid. Virus dan bakteri yang dapat menyebabkan meningitis, memasuki cairan otak dengan melalui aliran darah di dalam pembuluh darah otot. Secret telinga atau sekret hidung (cairan hidung) yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat mengakibatkan meningitis sebab dari hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan luar, mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak dan ventrikel.

Meningitis bakteri dapat dimulai sebagai infeksi jalan nafas pada bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh dari imunologis. Nasofaring posterior yang dilalui dengan Saluran Vena, telinga bagian tengah dan saluran mastoid yang menuju otak dan dekat sekali dengan saluran vena-vena meningen. Semuanya itu sebagai penghubung yang dapat menyokong perkembangan bakteri.

Organisme yang masuk kedalam tubuh dan terus mengalir ke aliran darah sehingga dapat menyebabkan  adanya reaksi radang di dalam meningen serta di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah darah serebral. Pada jaringan serebral ini nantinya akan mengalami gangguan metabolisme yang diakibatkan dari vaskulitis, eskudat meningen, dan hipoperfusi. Eskudat purulen dapat terus menyebar hingga ke dasar otak dan medula spinalis. Radang juga dapat menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Penyakit meningitis yang diakibatkan oleh bakteri dapat dihubungkan dengan adanya perubahan secara fisiologis intracranial yang terdiri dari peningkatan daerah pertahanan otak, permeabilitis pada darah, peningkatan TIK dan edema serebral.