Laman

Sabtu, 30 Desember 2017

Meningitis Neonatal Pada Bayi Baru Lahir

Meningitis NeonatalMeningitis merupakan peradangan yang menyelubungi dan mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini terjadi pada bayi, terutama bayi yang baru lahir dan terbilang penyakit yang mematikan. Kondisi meningitis akan menjadi sebuah kondisi yang sangat serius dan dapat menyebabkan kematian ini apabila si penderita tidak segera di tangani dengan segera dan tepat. Untuk bayi yang usianya itu kurang dari dua atau tiga bulan, penyakit ini disebut dengan meningitis neonatal. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan Anda sebagai orang tua justru akan menjadi lebih waspada dengan penyakit yang membahayakan ini. selain itu, Anda pastinya akan segera mengambil tindakan ketika gejala mulai nampak pada bayi Anda. Berikut ini adalah ulasan mengenai meningitis neonatal pada bayi.

Meningitis Neonatal Pada Bayi Baru Lahir

Meningitis neonatal adalah sebuah penyakiy meningitis yang seringkali ditemukan pada bayi yang baru lahir. Meningitis pada jenis ini disebabkan oleh salah satu virus atau infeksi yang diakibatkan dari paparan bakteri. Virus yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit meningitis pada bayi disebut dengan herpes simplex dan coxsackie. Sementara itu, untuk kelompok bakteri itu sendiri menjangkit pada bayi yang baru lahir merupakan hasil dari kelompok B, bakteri E. Coli, Haemophilus influenza atau Listeria atau juga biasa dikenal dengan sebutan HiB. Bakteri meningitis neonatal ini sangat membahyakan sekali sebab dapat menular dengan melalui plasenta saat bayi masih berada di dalam Rahim atau selama dalam proses persalinan.

Sementara itu, gejala yang ditimbulkan dari penyakit neonatal pada bayi yang baru lahir umumnya tidak terlalu jelas. Namun, ada beberapa gejala yang mungkin para orang tua dapat menjadikannya sebagai acuan dalam mendeteksi apakah anaknya itu terjangkit penyakit yang mematikan ini atau tidak. Sebab, umumnya itu anak yang menderita penyakit meningitis neonatal ini, memiliki gejala yang dapat ditimbulkannya yakni mudah marah atau tempramen, terlihat lesu dan hilang nafsu makan. meningitis neonatal ini tidak dapat diatasi dengan mudah dan cepat justru dapat mengakibatkan beberapa gejala lainnya seperti muntah, menggigil, ruam pada kulit, demam tinggi, sakit kuning dan bahkan beberapa bayi yang mengalami gejala penyakit tersebut juga akan merasakan kejang-kejang.

Apabila anak ternyata positif terjangkit meningitis neonatal, segeralah lakukan penanganan dan rawat inap yang intensif sebagai penanganan awal. Pada umumnya, untuk pasien bayi terlebih dulu pemberian antibiotik spectrum sambil menunggu dokter mengeluarkan hasilnya. Namun, jika meningitis itu disebabkan oleh bakteri, maka dokter pastinya akan memberikan penaganan berupa pemberian antibiotik khusus untuk bakteri. Lain halnya dengan virus, maka akan dilakukan pengobatan dengan menggunakan anti virus obat asiklovir. Kasus virus meningitis yang banyak terjadi itu memiliki respon yang sangat baik terhadap pemberian antibiotik, oleh sebab itu dalam pengobatan ini dapat dilakukan untuk meringankan gejala dan menjaga bayi agar tetap mendapatkan kehangatan dan terhidrasi.

Dalam pencegahan yang dilakukan ini tergantung pada perawatan postnatal dan prenatal serta dapat menghindari makanan yang mungkin saja dapat terkontaminasi bakteri Listeria atau E. coli selama masih dalam masa kehamilan. Selai itu juga, sebagai tindakan pembantu untuk dapat menghindarkan resiko bayi yang terjangkit virus dan bakteri yang menyebabkan timbulnya meningitis neonatal, nanti dokter juga akan melakukan tes grup B strep ketika calon ibu akan memasuki minggu terakhir masa kehamilannya. Ketika melakukan tes tersebut ternyata bayi diketahui terkena infeksi virus, calon ibu dapat mengkonsumsi obat-obatan anti viral sebelum menjelang persalinan atau memilih ambil tindakan bedah Caesar untuk dapat mencegah terjadinya infeksi virus pada bayi.

Itulah pengetahuan yang harus diketahui oleh para orang tua untuk menambah wawasan dan mencegah serta mewaspadai meningitis neonatal yang dapat menyerang kapan dan dimana saja. Jika anak didiagnosa terjangkit penyakit mematikan ini, alangkah baiknya untuk segera membawanya ke rumah sakit agar segera mendapatkan penanganan dan perawatan langsung dari dokter. 

Jumat, 29 Desember 2017

Lebih Memahami Meningitis Pada Si Kecil

Lebih Memahami MeningitisMeningitis merupakan istilah medis yang digunakan untuk memberikan gambaran infeksi atau radang yang terjadi pada selaput pelindung (meninges). Selaput yang dapat melindungi otak dan saraf tulang belakang. Penyakit meningitis itu biasanya disebabkan oleh bakteri dan virus. Dimana bakteri dan virus tersebut terus bergerak menuju meninges dengan melalui aliran darah. Tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja yang dapat terjangkit penyakit ini, meningitis pada anak juga dapat terjadi kapan dan dimana saja.

Lebih Memahami Meningitis Pada Si Kecil

Oleh sebab itu, sebagai orang tua harus lebih memahami meningitis pada anak agar dapat mengantisipasinya. Sebab, meningitis yang terjadi pada anak itu ditularkan dengan melalui virus yang disebarkan melalui udara dari orang yang sedang bersin atau batuk berdekatan dengan si kecil. Selain itu, dapat disebabkan karena tidak menjaga kebersihan. Sedangkan meningitis yang disebabkan oleh bakteri dapat disebarkan jika si kecil tinggal bersama, disentuh, dicium pasien penderita meningitis.

Si kecil kapan dan dimana saja dapat tertular penyakit meningitis. Pengidap meningitis saat batuk dan bersin di dekat anak dapat menularkan penyakitnya itu, atau bisa juga dengan menggunakan peralatan makan, minum atau barang-barang pribadi lainnya secara bersamaan dengan pengidap meningitis. Lebih memahami meningitis pada anak itu akan lebih baik.

Tanda-tanda awal atau gejala meningitis pada anak yang disebabkan oleh adanya bakteri maupun virus seringkali serupa. Dan bahkan, ada beberapa gejala yang serupa dengan penyakit lain, seperti flu. Pada umumnya gejala meningitis yang ditimbulkan pada anak jika penyakit tersebut sudah parah.

Oleh sebab itu, disarankan pada orang tua agar segera melarikan si buah hati ke instansi gawat darurat, apabila anak menunjukkan tanda-tanda menangis, merintih atau mengerang tidak seperti biasanya, timbul bintik-bintik atau ruam pada kulit, pernapasan cepat, kejang-kejang, demam, kaki dan tangan dingin, nafsu makan hilang, lesu, wajah terlihat pucat, mengantuk, sakit kepala, kebingungan, leher kaku dan peka terhadap cahaya dan suara keras sehingga merasa terganggu.

Meningitis yang terjadi pada anak yang disebabkan oleh virus biasanya tidak akan menimbulkan komplikasi yang lebih bahaya dari meningitis bakteri. Dan bahkan, gejala meningitis virus dapat membaik dan hilang dengan sendirinya dalam jangka waktu 10 hari hingga dua minggu. Sehingga, Anak-anak yang meningitis tersebut dapat diobati dengan cara rawat jalan di rumah. 

Sedangkan, meningitis pada anak yang disebabkan oleh bakteri dapat menimbulkan komplikasi yang cukup serius dan dalam jangka waktu panjang. Misalnya, gangguan pada pendengaran (tuli), gangguan pada penglihatan (buta), sulit berbicara, masalah otot, kejang-kejang, gangguan pada jantung dan ginjal serta kelenjar, keterlambatan perkembangan dan penurunan fungsi mental hingga dapat berakibatkan pada kematian.

Penyakit meningitis yang disebabkan oleh bakteri ini dapat dengan cepat berkembang dalam hitungan jam saja. Apabila terjadi keterlambatan, dapat mengakibatkan kematian meskipun telah menggunakan perawatan medis yang paling mutakhir. Akan tetapi, dalam kasus yang sangat langka ini, meningitis yang terjadi pada anak-anak yang disebabkan oleh bakteri masih bisa disembuhkan. Itupun jika si buah hati segera diobati dan ditangani dengan cepat dan tepat. Bahkan, anak mungkin akan benar-benar pulih setelah diobati atau direhabilitasi selama beberapa minggu.

Hindarkan anak dari penderita meningitis. Jika si kecil ternyata mengalami gejala-gejala seperti yang diatas tadi, segeralah untuk menghubungi dokter atau membawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan cepat agar penyakit meningitis pada anak dapat segera disembuhkan. 

Kamis, 28 Desember 2017

Balita Meningitis Kehilangan Dua Lengan dan Kaki

Balita MeningitisBalita perempuan berusia tiga tahun bernama Harmonie harus kehilangan kedua kaki dan lengannya akibat dari penyakit meningitis yang telah menyerangnya ketika ia masih bayi. Dan ketika itu ia hampir saja meninggal dan diberi kesempatan bertahan hidup hanya 10 persen saja, itu artinya kesempatan hidup sangat kecil. Penyakit meningitis menyerang dirinya saat berusia sembilan bulan. Dia terus berusaha mengalahkan itu semua untuk terus bertahan, namun kedua kaki diamputasi di lutut dan kedua lengannya dilepas di siku. Tapi, kini dia sudah terlihat sangat baik, setelah melihatnya turun ke es di Glice Rink di Avon Valley Adventure and Wildlife Park di Keynsham, Somerset.

Balita Meningitis Kehilangan Dua Lengan dan Kaki

Balita meningitis itu sudah terlepas dari penyakit yang mematikan. Dia dilengkapi dengan liner di kaki palsunya yang dapat membantunya untuk meluncur melintasi es sintetis. Bersama dengan kedua orang tuanya, Freya dan Ross, menuturkan bahwa Harmonie telah menggunakan liner di ujung kakinya agar bisa meluncur dan melintasi es.

Dan bahkan, dokter pun memberikan nasihat kepada kedua orang tuanya bahwa Harmonie dapat melakukan sesuatu yang lebih dari es ini, sepertinya dia sangat suka dengan alam es seperti alam biasanya. Balita meningitis tersebut kini sudah terbebas dari meningitis.

Kata ayah dan ibunya Harmonie, Liner yang dia kenakan itu memiliki bantalan yang khusus pada bagian bahwa sehingga dia tidak mudah tergelincir dan jatuh. Harmonie juga belum suka memakai prostetik di sepanjang waktu, jadi itu sangat baik sehingga membuatnya menjadi tegak dan lurus.

Prostetik merupakan pasangan pertama yang dibeli oleh orang tuanya Harmonie secara pribadi sebab dokter saat itu harus mengamputasi kedua lengan dan kakinya untuk menyelamatkan hidupnya. Namun, ternyata Liner lebih berguna saat dia masih belum terlalu tertarik untuk mengenakan prostetiknya. Dengan liner membantunya mengembangkan gerak berjalan dan membangun otot-ototnya.

Pada saat awal pemasangan, ibunya menuturkan itu menakjubkan saat melihat putrinya itu dapat berjalan ke kamar bayi. Setelah mengalami penyakit meningitis yang menyerangnya pada bulan September 2015 saat masih berusia Sembilan bulan dan Harmonie hanya mendapatkan kesempatan hidup 10 persen saja.

Dan dokter pun mengungkapkan bahwa hal ini merupakan kasus terburuk yang pernah dilihatnya, harus diamputasi anggota tubuhnya hanya untuk dapat menyelamatkan hidupnya. Tapi, saat ini Harmonie sudah sehat dan menjalankan hidup seperti orang-orang pada umumnya. Meski, setiap enam sampai Sembilan bulan dia membutuhkan kaki palsu dengan kaki yang lurus dan sederhana saja, sebelum dia dapat bergerak ke versi bersendi dengan lutut.

Rabu, 27 Desember 2017

Libur Panjang Suntik Meningitis Sebelum Berangkat

Libur Panjang Suntik Meningitis – Tujuan wisata, tanggal cuti, libur sekolah, tiket, paspor, semuanya sudah siap. Sepertinya kamu dan keluarga sudah siap banget untuk pergi liburan, ya? Tapi, jangan sampai lupa untuk mempersiapkan kesehatan semuanya. Selain menyiapkan obat-obatan ringan, obat penyakit bawaan dan vitamin, kamu dan keluarga juga harus mengantisipasi lingkungan tujuan wisata atau negara yang akan kamu tuju. Apalagi, banyak beberapa destinasi wisata yang paling diminati di dunia dan terkenal dengan beberapa binatang atau virus yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit yang dapat menyerang tubuh kapan saja. Mulai dari penyakit demam kuning, malaria, polio dan bahkan penyakit yang paling bahaya pun dapat menyerang seperti meningitis. sehingga, semua itu dapat mengganggu masa liburan Anda bersama keluarga. 

Libur Panjang Suntik Meningitis Sebelum Berangkat

Kini sebagian orang, menganggap bahwa traveling itu tidak hanya dijadikan sekedar hobi saja melainkan menjadi pelengkap gaya hidup seseorang. Hal itu diperkuat berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan Indonesia (ASTINDO) yang telah mencatat bahwa jumlah wisatawan Indonesia pada tahun 2013 yang lalu mencapai 8,7 juta. Dengan angka pencapaian sebesar itu dapat kita bayangkan di tahun 2017 ini lebih meningkat lagi jumlahnya. Maka dari itu pentinglah bagi kita saat libur panjang suntik meningitis sebelum ke luar negeri.

Banyaknya perjalanan yang harus ditempuh sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit yang mematikan akan semakin besar. Oleh sebab itu, selain menyiapkan finansial, barang dan obat-obatan sebelum melakukan perjalanan jauh ke luar negeri, pastikan Anda sudah melakukan vaksinasi terlebih dahulu. Mengingat libur panjang suntik meningitis itu diperlukan saat berpergian ke luar negeri.

Mungkin hal ini yang sering sekali disepelekan oleh kalian yang memiliki hobi traveling ke luar negeri, padahal vaksinasi sebeblum melakukan perjalanan jauh itu penting dilakukan untuk mencegah terjangkit atau tertularnya penyakit mematikan yang dapat menyerang wisatawan kapan dan dimana saja.

Salah satunya adalah penyakit meningitis, yang disebabkan oleh infeksi bakteri meningkokus yang menyerang selaput otak dan sumsum tulang belakang. Dimana pada penularan penyakit tersebut dapat terjadi dengan melalui air liur, dahak, ingus, cairan bersin dan cairan tenggorokan si penderita. Bakteri ini dapat menyebar dengan melalui pertukaran udara dari pernafasan. Jika selama dalam 24 jam setelah terkena infeksi, meningitis dapat menyebabkan kelumpuhan hingga kematian bagi penderita penyakit tersebut.

Untuk dapat mencegah bakteri meningitis saat berpergian ke luar negeri, simak baik-baik tips berikut ini:

•Sebelum berpergian, hendaknya Anda memperhatikan asupan nutrisi dengan labig banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan.
•Pastikan bahwa negara yang akan Anda kunjungi itu tidak termasuk dalam daftar negara travel warning.
•Lakukan penelusuran secara detail berbagai informasi tentang negara tujuan melalui media-media yang telah tersedia seperti televisi, handphone, radio dan lainnya terutama informasi mengenai musim dan penyakit. Sehingga, kamu dapat mengetahui barang-barang yang perlu dibawa seseuai dengan kondisi yang terjadi pada tempat tujuan.
•Ini yang paling penting, lakukan vaksinasi paling lambat 10-14 hari sebelum keberangkatan ke negara tujuan. Sebab antibody akan terbentuk kurang lebih 2 minggu setelah melakukan penyuntikan. Dan kekebalan vaksinasi akan bertahan selama 2 tahun.

Ingatlah, bahwa mencegah itu lebih baik dari pada mengobati. Saat Anda mengalami gejala penyakit meningitis pada sat kemnali ke Tanah air, pastikan langsung konsultasi ke dokter untuk memperoleh penanganan lebih lanjut, agar bakteri tidak dapat tersebar dengan cepat ke seluruh tubuh, apalagi menular ke seseorang di sekitarnya.

Selasa, 26 Desember 2017

Layanan Vaksin Meningitis Terkendala Dengan Fasilitas

Layanan Vaksin Meningitis – Menteri Agama yakni Lukman Hakim Saifuddin yang sedang bertolak ke Arab Saudi sejak tanggal 22 Desember 2017. Dengan membawa sejumlah agenda yang akan dilakukan olehnya, salah satunya itu adalah pembahasan MoU mengenai tentang haji 1439H/2018M bersama dengan Menteri Haji Arab Saudi. Dalam pembahasan bahan MoU ini tampak diikuti juga oleh Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah yakni Nizar Ali, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri yakni Sri Ilham Lubis, Direktur Bina Haji Khorizi, Direktur Pengelola Dana Haji yakni Ramadhan Harisman dan staf teknis haji Kantor Urusan Haji KJRI Jeddah.

Layanan Vaksin Meningitis Terkendala Dengan Fasilitas

Kesempatannya berada di Arab Saudi juga dimanfaatkan oleh Menag beserta jajarannya untuk mendiskusikan persoalan ibadah umrah. Banyak beberapa persoalan yang teridentifikasi dan dibahas bersama dalam diskusi ini, antara lain ialah masih terbatasnya layanan vaksin meningitis. Selama ini vaksin meningitis itu hanya dilakukan di KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) saja. hal ini lah yang cukup menyulitkan akses masyarakat

Meskipun hal itu msih di luar kewenangan Kementerian Agama (Kemenag), proses diskusi yang terus berlangsung itu memandang bahwa perlunya dilakukan komunikasi dengan berbagai pihak yang terkait agar layanan vaksin meningitis dapat diakses oleh jamaah dengan mudah.

Selain dengan membahas masalah vaksin meningitis, adapun persoalan lainnya yang terus mengemuka yakni terkait dengan tata kelola penyelenggaraan umrah plus wisata. Pada saat biro travel dalam paket umrahnya itu juga melakukan perjalanan ke negara lainnya selain Arab Saudi, maka hal itu juga perlu didudukan menjadi kewenangannya Kementerian atau Lembaga mana?

Isu lainnya mengenai soal layanan dan jaminan kesehatan jiwa bagi setiap jamaah umrah. Menjadi sebuah kewajiban travel untuk dapat memberikan pendampingan kesehatan bagi jamaah umrah, di samping dengan bimbingan ibadah. Lalu bagaimana dengan Travel Haji dan Umrah yang jumlah jamaah umrahnya itu hanya sedikit, tentu ini akan menjadi sebuah beban tersendiri dalam pembiayaan yang lebih berat. Oleh sabab itu, perlu dipikirkan kembali, apakah ada batasan minimal jumlah jamaah umrah dalam satu travel tersebut?

Menag Lukman Hakim juga berpesan agar disiapkan regulasi untuk menjawab sejumlah persoalan yang ada selama ini. Namun dengan demikian, jangan sampai regulasi yang dikeluarkan nantinya justru akan menghilangkan kebebasan masyarakat dalam melaksanakan ibadah umrah.

Senin, 18 Desember 2017

Pembentukan Satgas Mengatasi Meningitis Oleh Majelis Sagnarigu

Pembentukan Satgas Mengatasi Meningitis – Majelis Distrik Sagnarigu yang berada di Northern Region kini telah membentuk sebuah satuan tugas (Satgas) yang diberikan mandat untuk dapat memantau dan mengelola serentetan meningitis yang terjadi baru-baru ini terjadi dan sejauh ini juga telah membunuh beberapa sisawa dari institusi siklus kedua dan dirawat di rumah sakit. Satuan Tugas dari tim kesiapsiagaan epidemi Kabupaten yang mendapatkan tugas untuk mengunjungi asrama dan balai makan dar seluruh sekolah menengah di distrik tersebut untuk dapat memastikan bahwa adanya ventilasi yang tepat.

Pembentukan Satgas Mengatasi Meningitis Oleh Majelis Sagnarigu

Ada seorang siswa dan mahasiswa meninggal akibat dari meningitis. Sedangkan, 6 siswa lainnya masih dalam masa perawatan di rumah sakit. Alasan pembentukan satgas mengatasi meningitis oleh Majelis Sagnarigu untuk memantau dan megelola serentetan meningitis yang ada disana, tidak terdapat wabah di Ghana – GHS.

Pembentukan satgas mengatasi menintis untuk memantau dan mengelola serentetan meningitis yang mencakup tenaga kesehatan dari Direktorat kesehatan kabupeten, anggota majelis dan pemangku kepentingan utama lainnya yang ada dari sektor pendidikan.

Kapala Eksekutif Sagnarigu yakni Mariam Issrisu menggambarkan, bahwa epidemi tersebut sebagai ancaman keamanan manusia, sehingga dalam langkah tersebut masih membatasi penyebarannya di wilayah tersebut.

“Pada dasar dari semuanya itu, tim kesiapsiagaan epidemi distrik diberikan mandat hanya untuk bertemu pada setiap tiga bulan atau selama wabah atau dalam waktu kapan pun ada ancaman wabah. Dan pada saat ini kita mengalami wabah menyusul dari tempat lain,”

Sebagai distrik yang telah membiasakan daerah kantong pendidikan Wilayah Northern Region, dia meminta agar ada pendekatan multifaset dalam menangani situasi di Sagnarigu.

“Kami membawa diri seperti ini hanya untuk dapat mendiskusikan dan menerapkan strategi yang dapat kami lakukan untuk memastikan bahwa kabupaten tersebut tidak terpukul oleh wabah meningitis yang terjadi selama ini.”

“Kami juga telah sepakat bahwa ada kebutuhan untuk melaksanakan pendidikan kesehatan di seluruh sekolah menengah di kabupaten ini. Dan sekali lagi kita juga melihat bahwa ada kebutuhan untuk mengingatkan seluruh rumah sakit di dalam kapubaten untuk bersiap-siap untuk melakukan perawata dini sehingga meski kita mendapatkan wabah atau kasus, kita tidak akan lagi mencatat kematian karena meningitis.”

Mariam Iddrisu disini menekankan, bahwa sebagai Kepala Distrik, saya berpikir bahwa dalam kehidupan masyarakat termasuk tanggung jawab saya juga. Jadi jika dari kita sendiri dapat menghindari dan mencegah kematian dari perawatan dini, penting sekali untuk mengingatkan seluruh rumah sakit agar siap dalam keadaan yang sehat.

Lanjut dia, kami juga melihat bahwa perlunya mengingatkan anggota tim suveilans untuk dapat melihat tanda dan gejala tertentu di daerah tangkapan air mereka. Untuk kesiapan administrasinya juga untuk membangun teluk sakit di seluruh institusi siklus kedua di kabupaten tersebut agar menjamin kesehatan para siswa.

Menurutnya, kabupaten tersebut sudah memiliki cukup vaksin untuk dapat melayani korban meningitis jika terjadi wabah. Sedangkan Sekolah Menengah Bisinis Tamale (Tamasco), Sekolah Menengaj Bisnis (BISCO), Sekolah Menengah Tamale Islam, Sekolah Bisnis Menengah (NOBISCO) serta institusi tersier seperti Universitas Studi Pembangunan (UDS), Tamale Technical Universitas, Kampus Tamale City, Bagabaga dan Tamale Colleges of Education dan Direktorat Pendidikan Daerah Utara berada di Distrik Sagnarigu.

Sabtu, 16 Desember 2017

Meningitis Menyerang Anak-anak di Pusat Penitipan Anak

Meningitis Menyerang - Beberapa waktu lalu dua anak meninggal saat berada di pusat penitipan anak di kota Miami, dan kini tempat tersebut telah ditutup. Kemungkinan besar kedua anak tersebut meninggal dikarena oleh penyakit meningitis. hal inilah yang perlu kita ketahui untuk dapat membantu melindungi anak Anda. Meningitis merupakan salah satu penyakit yang sangat membahayakan, tidak banyak penderita yang dapat disembuhkan. Gejala yang ditimbulkan juga seperti sedang sakit biasa-biasa saja, seperti flu dan demam. Sehingga, sulit untuk diketahui secara jelas. Banyak penderita meningitis yang terlambat dalam pengobatan dan berakhir dengan kecacatan dan bahkan kematian.

Meningitis Menyerang Anak-anak di Pusat Penitipan Anak

Lalu, apa sih sebenarnya meningitis itu? meningitis adalah penyakit bakteri yang sangat membahayakan dan menular yang seringkali di mulai dengan gejala yang mirip sekali dengan flu seperti demam, kelelahan dan nyeri pada tubuh serta dapat dengan cepatnya kondisi penderita yang semakin memburuk. Hal itu yang dialami anak tersebut, meningitis menyerang sacara tiba-tiba.

Seperti kejadian di Miami, meningitis menyerang anak laki-laki yang berusia 22 bulan hingga meninggal pada tanggal 3 Desember. Pada awalnya diduga menderita pneumonia sebelum dokter yang merawatnya itu memberikan kesimpulan bahwa itu adalah meningitis.

Dr Reynald Jean, Kepala epidemiologi untuk kantor departemen kesehatan negara bagian di Miami-Dade menjelaskan kepada Miami Herald, saat YWCA Carol Glassman Donaldson Center Day Care ditutup. Adapun 2 anak laki-laki lainnya yang menyusul, di pusat kota Miami yang sama, meninggal pada tanggal 10 Desember setelah didiagnosis menderita pneumonia.

Dari petugas kesehatan Florida mengkonfirmasi bahwa pada harI Rabu bahwa ada satu dari dua anak tersebut telah dinyatakan positif menderita meningitis pneumokokus. Anak kedua juga diduga dirinya tertular meningitis. akan tetapi karena anak yang meninggal di luar negara pejabat negara tersebut belum dapat memastikan dengan melakukan tes laboratorium, apakah kedua anak itu juga mengalami meningitis.

Pusat penitipan anak itu dan stasiun bermainnya, yang terletak di dalam pusat pemerintahan, Stephen P Clark di 111 NW First St., sedang melakukan penyadapan dan tempat tersebut akan tetap ditutup sebab negara tersebut masih sedang melanjutkan penyelidikannya.

Sementara itu, menurut National Meningitis Association mengatakan, bahwa penyakit meningkokus itu menular sebab menyebar dengan melalui pertukaran sekresi pernapasan selama kontak secara langsung seperti mencium, batuk pada seseorang. Kemudian, seiring dengan bertambahnya usia anak-anak seperti kelas menengah dan melanjutkan ke kampus, itu risikonya sangat membahayakan sekali, sebab meningitis itu dapat disebarkan dengan berbagai cara, misalnya melalui makanan dan minuman menggunakan peralatan yang sama, merobek bekas rokok temannya atau orang lain, meminjam lipstick teman, hal itu dapat memindahkan penyakit bahaya ini satu sama lain.

Jumat, 15 Desember 2017

Pembedahan Meningitis Tak Terpikirkan Orangtua

Pembedahan Meningitis - Seorang ibu mengambil anak perempunnya yang berusia 2 tahun di sebuah penitipan anak di Miami pada hari Jum’at sore ketika salah seorang staf di sana memberikan selembaran kertas dengan keterangan peringatan keras: “Jangan sampai abaikan tanda-tanda meningitis.” begitulah katanya. “Dia bilang hal itu informasi,” tutur sang ibu, yang meminta agar namanya tidak dipublikasin begitu saja. Dua hari kemudian, pada tanggal 3 Desember, ada seorang laki-laki yang berusia 22 bulan yang ikut mendatangi pusat penitipan anak kemudian meninggal dunia, sebab dugaan meningitis. literasi tersebut berangkat ke orangtua pada hari yang sama dengan regulator negara mengunjungi Pusat Perawatan Anak YWCA Carol Glassman Donaldson untuk apa yang tercantum dalam formulir sebagai inspeksi rutin.

Pembedahan Meningitis Tak Terpikirkan Orangtua

Dalam sebuah brosur yang telah didistribusikan oleh Pusat Perawatan di Miami disentuh rasa ketakutan terhadap penyakit meningitis. pembagian brosur guna pembedahan meningitis dibagikan selama dua hari sebelum anak laki-laki yang berusi 20 bulan itu meninggal sebab telah diduga mnegidap penyakit meningitis, namun pada beberaapa orangtua mengatakan bahwa mereka tidak diberi  tahu bahwa anak tersebut sakit sat mereka telah menerima peringatan tersebut.

Saat ini setelah orangtua melihat kejadian itu sebagai pembukaan awal untuk sebuah drama yang sangat mengerikan setelah seorang anak laki-laki dari pusat YWCA meninggal dunia disebabkan oleh penyakit yang biasa dikenal oleh dokter adalah Pneumonia. Regulator negara itu kini berada di tengah penyelidikan atau pembedahan meningitis untuk mengetahui lebih jelas lagi, apakah korban jiwa terhubung dengan fasilitas pusat kota Miami.

YWCA, yang melakukan pengoperasian pusat di Pusat Pemerintahan Stephen P. Clark Miami-Dade, justru tidak memberi tanggapan pertanyaan tertulis mengenai brosur meningitis yang dibagiakan kepada beberapa orangtua yang ada pada 1 Desember lalu. Dari perwakilan Departemen Kesehatan  negara juga bersedia untuk wawancara pada hari Kamis.

Ada tiga orangtua dari anak-anak yang ikut hadir di tengahnya dan mengatakan bahwa mereka tidak diberi tahu mengenai permasalahan meningitis pada tanggal 1 Desember ketika brosur yang memperingatkan bahwa meningitis itu dapat membunuh berjam-jam telah ditangani.

Salah seorang ibu juga mengatakan, bahwa dia bahkan sama sekali tidak mendapatkan brosur hingga pada hari Senen lalu, sementara yang lainnya mengatakan bahwa tas itu ditempatkan di ransel anaknya pada tanggal 1 Desember. Kemudian, suaminya yang membawa anak perempuan mereka pada hari Jum’at sore dan diberi tahu: “Kami telah memasukkan sesuatu ke dalam ranselnya itu. Dengan maksud agar sang ibu dapat membacanya,” menurut ibu dan orang tua lainnya yang ada disana.

Orangtua keempat, yang seperti orangtua lainnya, tidak ingin dilakukan pengidentifikasian fasilitas yang merawat anaknya, menuturkan bahwa untuk seorang pekerja penitipan anak harus benar-benar memenuhi masalah yang tinggi ketika  dia menyerahkan brosur tersebut pada tanggal 1 Desember. “Mereka pun berkata ada seorang anak sakit,” katanya. “Agar lebih berhati-hati lagi.”

YWCA mengeluarkan sebuah pernyataan pada minggu ini yang mengatakan bahwa untuk seluruh anak yang masih hidup dari pusat yang telah dilakukan pemeriksaan oleh dokter dibebaskan dari masalah medis yang mungkin masih terkait dengan penyakit meningitis.

“Untuk seluruh warga YWCA merasa seperti patah hati sebab kehilangan nyawa yang sangat berharga ini dan mengucapkan belasungkawa yang tuus dari orangtua, keluarga dan teman-temannya,” baca pernyataan tersebut. “Soal kesehatan, keselamatan dan kesejaahteraan keluarga dan staf  YWCA kami adalah perhatian terbesar kami.

Orangtua memberikan gambaran frustasi dalam sekilas informasi di tempat penitipan anak, dengan menggunakan beberapa staf saling berbagi pa yang telah didengar oleh mereka. Namun, manajemen pun harus selalu berhati-hati. Sebuah surat yang diperoleh dari Departemen Kesehatan negara yang dikirim untuk para orangtua pada 7 Desember hanya menyatakan bahwa seorang anak dari pusat YWCA, baru-baru ini telah didiagnosis menderita meningitis pneumokokus. Namun, tidak dapat mengungkapkan bahwa anak tersebut telah meninggal dunia pada empat hari sebelumnya.

Pejabat negara yang berada di pusat pada tanggal 7 Desember dan tersedia untuk bertemu dengan para orang tua. Kepala Epidemiologi yakni Dr Reynald di kantor Departemen Kesehatan Negara bagian Miami-Dade menjelaskan, bahwa pada saat itu sudah jelas bahwa orangtua sangat menyadari atas kematian anak laki-laki tersebut. ini merupakan surat standar yang telah kami kirim.

Selasa, 12 Desember 2017

Meningitis Mendesak Vaksinasi Untuk Melawannya

Meningitis Mendesak Vaksinasi - Orang tua dari seorang anak laki-laki berusia enam tahun, yang meninggal di usianya yang masih anak-anak karena penyakit meningitis B yang diderita oleh anaknya itu. sehingga orang tuanya melakukan kampanye untuk dapat membuat program vaksinasi yang akan diluncurkan ke seluruh anak-anak. Oliver Hall, yang keluarganya itu berasal dari Halesworth telah meninggal dunia pada selasa, 24 Oktober lalu, pada beberapa jam setelah melakukan perawatan di Rumah Sakit Universitas James Paget di Gorleston. Anak mud tersebut juga meninggal dunia di rumah sakit selama dalam waktu 24 jam setelah jatuh sakit, meskipun sudah melakukan upaya  sebaik dan mencoba menyelamatkan hidupnya. Namun, takdir berkata lain, infeksi bakteri yang telah menjadi terlalu berat bagi tubuhnya itu untuk bertahan.

Meningitis Mendesak Vaksinasi Untuk Melawannya

Sejak dari kematian Oliver yang sangat tidak diduga, meningitis mendesak vaksinasi agar tidak lagi memakan korban lagi. Bryan dan Georgie Hall telah melakukan kerjasama dengan meningitis, seluruh badan amal yang telah didedikasikan untuk dapat mengingatkan kesadaran vaksin yang lebih luas lagi.

Vaksin meningitis B telah memberikan persediaan sebagai bagian dari rutinitas NHS untuk bayi yang usianya masih di bawah 12 bulan sejak bulan September 2015. Namun, badan amal tersebut memiliki pendapat bahwa vaksin itu untuk semua orang yang dapat menghemat biaya jika dibandingkan dengan melakukan pengobatan, sebab itulah meningitis mendesak vaksinansi. Untuk selanjutnya yang diperlukan setelah infeksi dikontrak.

Bersama dengan Tuan dan Nyonya meminta kepada pemerintah agar memperluas program vaksinasi, nyonya Hall menuturkan, bahwa Pemerintah mengatakan bahwa mengenai biaya tidak efektif untuk melakukan vaksinasi lebih banyak anak terhadap penyakit ini. amal yang kita kerjakan mengemukakan hal meningitis itu. Tujuan kami adalah untuk dapat membantu meningitis yang terjadi saat ini agar vaksinasi dapat diluncurkan setiap anak dan jumlahnya lebih banyak lagi.

Pada bulan yang lalu, Nyonya Hall bertemu dengan salah satu anggota parlemen dan keluarga lainnya, yang juga telah menderita anak-anak yang meninggal akibat meningitis, di Parlemen itulah untuk meningkatkan kesadaran lebih lanjut. Dan nyonya Hall mengatakan, bahwa di belakang pertemuan itu, mereka mencari cara untuk dapat mendirikan sebuah partai pekerja dengan tujuan utama melihat keefektifan biaya vaksin dan menggulirkannya kepada anak-anak. Itulah yang merupakan langkah positif.

Hall sedang bersama Suffolk Coastal MP, Therese Coffer, mereka berharap dapat bertemu dengan Sekretaris Negara untuk kesehatan , Jeremy Hunt. Nyonya. Hall bertutur, Oliver telah mencapai banyak hal dalam kehidupannya yang singkat. Dia akan slalu mengingatnya. Oleh sebab itu, kami telah mendirikan situs penghormatan Oliver Hall selamanya, yang mendukung penyakit meningitis saat in dan kami juga sangat berterima sekali kepada seluruh pihak yang telah memberikan sumbangannya dan mendukung acara tersebut.

Sabtu, 09 Desember 2017

Suntik Vaksin Meningitis Gencar Pria Gay di Melbourne

Suntik vaksin meningitis - Para pria homoseksual didesak agar mendapatkan vaksinasi terhadap penyakit meningitis setelah usai terjadinya wabah secara tiba-tiba di Melbourne. Para otoritas kesehatan setempat memberikan penawaran untuk melakukan vaksin secara gratis mulai pada minggu depan setelah delapan orang telah terkena penyakit jenis-C ini sejak bulan Mei ini. Wakil Kepala Dinas Kesehatan Victoria yakni Brett Sutton mengatakan, bahwa hampir seluruh pasien didentifikasi sebagai homoseksual atau biseksual (gay).

Suntik Vaksin Meningitis Gencar Pria Gay di Melbourne

“Delapan orang tak terdengar seperti jumlah yang besar, tapi jika hal ini dapat mempengaruhi seluruh Melbourne pada tingkat yang sama seperti yang telah mempengaruhi pria yang melakukan hubungan seks dengan pria juga, kita membicarakan sudah beberapa ratus kasus selama beberapa bulan itu,” terangnya. Suntik vaksin meningitis sangatlah penting untuk keselamatan diri sendiri dan orang lain.

“Pesan dari saya pada kelompok gay ini di tengah masyarakat sederhana saja, jika Anda melakukan suntik vaksinasi meningitis, Anda pastinya akan melindungi diri sendiri dan orang sekitar Anda dengan cara mengurangi penyebaran penyakit meningitis ini,” lanjutnya.

Penyakit meningitis memang dapat dikatakan sebuah penyakit yang jarang terjadi namun dapat mematikan bagi penderita maupun yang tertular. Meningitis adalah penyakit  yang disebabkan oleh peradangan pada selaput pelindung yang menyelimuti seluruh saraf otak dan sumsum tulang belakang, yang biasa dikenal dengan sebutan meninges. Peradangan yang terjadi biasanya itu diebabkan oleh infeksi dari cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.

10 persen dari kasus meningitis yang ada berakibatkan fatal selama dalam waktu 24 sampai 48 jam setelah melakukan diagnosa. Bakterinya itu hidup didalam tenggorokan dan hidung dan diteruskan kembali melalui kontak yang dekat dan berkepanjangan. “Masuk dalam kategori itu juga seperti ciuman yang intim dan kami pikir hal itulah yang dapat mendorong transmisidalam wabah ini,” katanya.

Untuk penderita yang masuk dalam kelompok yang berisiko tinggi akan menunjukan gejala seperti demam tinggi, sakit kepala hebat, mual, muntah, peka terhadap cahaya dan suara keras, segeralah untuk menemui dokter yang ahli pada bidangnya agar mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat. Para pria bisa mendapatkan vaksin dari dokter umum setempat pada hari Senin, 11 Desember.

Jumat, 08 Desember 2017

Survivor Meningitis Berbicara Tentang Imunisasi

Survivor Meningitis - Bulan Agustus merupakan bulan kesadaran Imunisasi Nasional dan mengingat seorang wanita asal Texas yang sedang berjuang untuk membuat seluruh mahasiswa di Amerika Serikat terlindungi dari segala jenis penyakit yang dapat menyerang kapan saja. salah seorang wanita yang telah kehilangan kaki dan sebagian tangannya ke bentuk meningitis yang sangat berbahaya sekali di perguruan tinggi, ia bernama Jamie Schanbaum. Dia mengatakan, bahwa selama ini penyakit yang hampir saja membunuhnya dan misi yang membuat dia berkelahi.

Survivor Meningitis Berbicara Tentang Imunisasi

Dia sebagai survivor meningitis menjadi suara untuk para korban meningitis di seluruh dunia. pada usianya 28 tahun telah membuat nama untuk dirinya sendiri sebagai gadis yang telah menyelamatkan nyawa.

“Saat itu saya benar-benar tidak mengetahui pasti bahwa penyakit yang saya derita itu dapat mengancam jiwa dan tidak tahu bahwa saat itu juga saya berada di kampus, Anda akan berisiko tinggi tertular,” ungkap survivor meningitis, Jamie schanbaum.

Dan saya terus berangkat ke kampus seperti biasanya karena memang saat itu saya tidak mengetahui bahwa saya terjangkit meningitis dan hampir saja kehilangan nyawa saya karena penyakit ini, saya termasuk orang yang beruntung karena termasuk survivor meningitis. Kemudian, pada tahun 2008, masih sebagai mahasiswa di Universitas Texas di Austin, Jamie sudah mengidap penyakit meningococcal meningitis. Meningococcal meningitis adalah pebuah infeksi yang telah menyerang jaringan di sekitar otak dan sumsum tulang belakang.

“Saya merasakan seluruh tubuh saya mengalami ruam merah selama beberapa hari, lalu berubah menjadi ungu hingga menghitam dan membusuk. Jari-jari pun terasa lemas bagaikan kismis dan kaki saya pun menekuk seperti penari balet, hal itu yang membuat saya tidak menyangka,” tuturnya.

Dia harus kehilangan kedua kakinya itu hingga di bawah lutut, kedua tangan dan menghabiskan waktu perawatan di rumah sakit selama tujuh bulan. Pada akhirnya ibunya pun pergi sebelum legislatif Texas melakukan pendesakan anggota parlemen untuk membuat undang-undang yang tertulis mewajibkan para mahasiswa yang tinggal atau berada di kampus untuk mendapatkan vaksin meningitis.

“Pada saat itu saya menderita meningitis B sehingga vaksin yang saya butuhkan terus saya cari namun tidak dapat diketemukan. Jika pada saat itu saya mendapatkan vaksin mungkin saya akan baik-baik saja,” katanya.

Tapi, meski katanya akan cepat tersebar di tempat-tempat seperti asrama, Jamie justru mendapatkannya pada saat masih tinggal di kampus dan belum tahu banyak apa saja yang harus dilakukannya. Jadi pada tahun 2011, setelah seorang mahasiswa A & m Texas mati, yang juga tinggal di luar kampus, dia pun ikut serta dalam membantu membuat undang-undang tersebut diubahnya untuk dapat mencangkup semua mahasiswa di Texas, masa jabatan.

Jamie menuturkan, bahwa bahwa untuk misi berikutnya itu adalah membuat undnag-undang diubah untuk memasukkan vaksin meningitis B sehingga kelima strain meningitis tersebut dapat ditutupi. Gadis yang masih mudah ini dengan sikapnya yang terbendung, melakukan penolakkan untuk membiarkan meningitis merusak hidupnya maupun orang lain.

Rabu, 06 Desember 2017

Dua Kutu Mematikan Seorang Ibu di Missouri

Dua Kutu Mematikan - Ada salah seorang ibu dari satu anak ini telah meninggal dunia dikarenakan oleh penyakit bawaan yang hanya menyerang lima orang saja di Amerika Serikat. Ia bernama Tamela Wilson saat itu masih berusia 58 tahun, semasa hidupnya ia bekerja di Missouri’s Meramec State Park pada bulan Mei saat dia melihat ada dua kutu yang bersarang di tubuhnya. Kemudian dia pun mengusir kutu tersebut dari tubuhnya dan melanjutkan kembali perjalanannya sebagai asisten pengawas taman. Dalam beberapa hari kemudian, tubuhnya semakin lesu, demam dan mual. Cirinya itu seperti penyakit meningitis. Sehingga Dokter pun merasa bingung dan mendiagnosisnya dengan infeksi saluran kemih, selesai itu pulang dengan membawa obat antibiotik yang telah diberikan oleh dokter. 

Dua Kutu Mematikan Seorang Ibu di Missouri

Seminggu kemudian, tepat pada tangga 31 Mei, kondisinya justru semakin menurun secara drastis dan dia pun harus dirawat di rumah sakit. Kondisi yang ditujukkan sama seperti meningitis, membuat kondisi penderita  semakin menurun. Kemudian, setelah hasil tes darah yang dilakukan menunjukkan bahwa dia memiliki virus Bourbon yang diperolehnya dari dua kutu mematikan itu, kondisi yang langka ini dan tidak dapat diobati pertama kali muncul itu pada tahun 2014. 

Dia mengahbiskan waktu selama berminggu-minggu dalam perawatan intensif dan dokter pun terus berjuang untuk semaksimal mungkin dapat menangani penyakit ini. Apalagi ibu satu anak itu juga menderita pneumonia dan limfohistiositosis hemofagositik, sebuah kondisi yang membuat sel kekebalan tubuh bermutasi. Itulah yang dapat membuat Anda menjadi takut akan pergi ke luar rumah. Dua kutu mematikan ini sangat membahayakan sekali.

“Para dokter yang ikut menanganinya selalu berada disampingnya. Mereka bilang itu sangat misteri medis. Setiap hari kita ke rumah sakit untuk melihat kondisinya justru semakin parah. Tidak ada perbaikan,” jelas Geoff, Ayah dari Tamela.

Virus Bourbon itu herannya hanya terjadi pada lima orang Amerika saja hingga saat ini, seluruhnya ada di Midwest dan bagian selatan Amerika Serikat. Kasus pertama Amerika Serikat pertama ini melibatkan seorang pria berusia 68 tahun di Kansas, yakni John Seeted, yang juga meninggal setelah digigit oleh kutu tersebut. sebelum melakukan diagnosis, hanya ada delapan insiden di seluruh dunia, semuanya itu hanya ada di Eropa, Asia dan Afrika.

Virus ini sejenis thogotovirus, namun sangat jauh berbeda. Biasanya, thogotovirus dapat menyebabkan meningitis yang dapat mengobarkan lapisan otak. Namun, virus bourbon menyerang dan menghancurkan sel darah putih pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan sekali.

Untuk sebagai gantinya itu adalah sebuah instansi yang mendesak orang untuk menggunakan repellents serangga, memakai lengan dan celana panjang, menghindari daerah-daerah yang lebat dan berhutan, dan juga melakukan pemeriksaan kutu yang teliti setelah menghabiskan waktu saat di luar rumah. Kasus Tamela ini adalah pertama kalinya dilaporkan dari Missouri. Itu terjadi pada saat negara sedang memerangi wabah Ehrlichiosis, kondisinya itu seperti flu yang ditularkan oleh kutu.

Selasa, 05 Desember 2017

Waspadai Meningitis Saat Liburan Akhir Tahun Ini

Waspadai Meningitis – Anda memiliki rencana untuk liburan akhir tahun ke luar negeri? Atau mungkin saja ingin ibadah umrah bersama keluarga? Apabila Anda telah membuat rencana dan telah menyiapkan segala sesuatunya mulai dari pembelian tiket, booking hotel ataupun lokasi wisata mana saja yang akan dikunjungi, jika Anda merasa telah bebas dari segala tugas yang selalu menumpuk, maka Anda perlu berfikir sejenak. Seperti halnya beribadah umrah yang dapat menenangkan hati dan ditambah dengan tour ke tempat-tempat wisata yang ada di Timur Tengah, seperti Turki, Qatar, Dubai atau lainnya. dengan begitu, Anda juga perlu mewaspadai ada resiko penyakit selama dalam perjalanan kesana. Pada hakikatnya mencegah itu lebih baik dari pada mengobati.

Waspadai Meningitis Saat Liburan Akhir Tahun Ini

Kini sudah banyak macam penyakit yang bertebaran dengan beraneka macam nama dan jenisnya. Apalagi saat berkunjung ke luar negeri. Seperti yang telah kita kenal sebelumnya, bahwa ada penyakit flu burung, flu babi dan meningitis. Sebab, jenis penyakit itu semua sangat berbahaya bagi siapa saja, baik pada anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua. Nah, waspadai meningitis dan penyakit lainnya. Namun, saat ini yang perlu ditekankan adalah meningitis.

Waspadai meningitis saat Anda liburan ke luar negeri. Sebab meningitis adalah jenis penyakit yang sangat berbahaya apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Meningitis yang merupakan penyakit selaput radang otak yang paling banyak mewabah di negara-nagara Afrika. Untuk dapat memberikan penanganan dini terkait dengan serangan penyakit meningitis, Anda patut mengetahui beberapa gejala yang seringkali dialami oleh penderita meningitis, yakni:

1.Demam tinggi
2.Sakit kepala
3.Kejang
4.Muntah
5.Mata sensitive pada cahaya
6.Telinga sensitive pada suara keras
7.Leher kaku

Apabila Anda telah selesai berpergian ke luar negeri dan mengalami beberapa gejala yang diatas, maka saran terbaiknya itu adalah segeralah periksakan ke dokter. Bahaya dari resiko meningitis yang tidak segera ditangani dengan tepat dan cepat dapat meninmbulkan tuli yang permanen dan bahaya kesehatan lainnya atau bahkan dapat kehilangan nyawa.

Adapun beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mencegah resiko terkena penyakit meningitis saat berpergian ke luar negeri, yakni:

A.Melakukan vaksinasi
Dengan melakukan vaksinasi terlebih dahulu sebelum berangkat akan membantu Anda mencegah dari penyakit bahaya tersebut. Dan satu langkah lebih maju untuk menghindarkan Anda dari terserang penyakit meningitis dan lainnya.

B.Bawalah peralatan makan dan minum sendiri
Meningitis itu pada umumnya lebih sering menularkan dengan malalui bersin, dahak ataupun air liur orang lain yang sudah terkena. Oleh sebab itu, jika Anda berpergian ke daerah atau negara yang terena wabah meningitis, maka usahakanlah agar membawa peralatan makan dan minum sendiri, yang mana dengan begitu aka lebih aman daripada Anda menggunakan peralatan makan yang sudah pernah dipakai oleh orang lain.

C.Mencari Info Wabah
Saat Anda akan mengunjungi ke suatu daerah, maka Anda juga perlu untu mencari informasi mengenai wabah meningitis di daerah tersebut. misalnya saja seperti ini, jika Anda berencana melakukan perjalanan umrah atau haji, maka Anda wajib untuk mengetahui informasi mengenai meningitis di Makkah dan Madinah, jika memang beresiko tinggi Anda dapat melakukan vaksinasi terlebih dahulu sebelum keberangkatan dan berkonsultasi dengan pemilik tour & travel tempat Anda melakukan pendaftaran haji maupun umrah, apakah aman untuk terus melakukan perjalanan kesana atau tidak.

Sementara itu, Anda perlu menjaga kesehatan jasmani dan mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi. Jangan sampai lupa untuk selalu menyempatkan diri Anda untuk melakukan olahraga agar resiko tertularnya penyakit menjadi minim karena daya tahan tubuh Anda akan manjadi lebih baik lagi.

Senin, 04 Desember 2017

Bakteri Meningitis Terkandung di Pompa ASI Kotor

Bakteri MeningitisKebersihan merupakan suatu hal yang memang harus selalu dijaga pada saat akan memompa ASI dan mencuci alat pompa ASI. Pompa ASI menjadi alat perang utama untuk mama perah yang harus beraktivitas di luar rumah. Sebagai seorang ibu masih bisa untuk memberikan ASI kepada anaknya meskipun tidak dapat menyusi secara langsung dan bayi tetap mendapatkan nutrisi yang terbaik. Dalam aktivitas memompa ASI juga menjadi suatu yang selalu dilakukan oleh para ibu yang bekerja saat berada di kantor, demi untuk memenuhi akan kebutuhan gizi pada bayi di rumah. Namun, hal yang seringkali terbaikan oleh para mama perah saat akan memompa adalah melakukan pembersihan pada pompa ASI secara maksimal.

Bakteri Meningitis Terkandung di Pompa ASI Kotor

Hal yang paling utama dan harus selalu terjaga saat memompa dan mencuci itu adalah Kebersihan. Pasalnya, dengan begitu kesehatan pada bayi juga akan menjadi taruhannya. Tidak membersihkan pompa ASI dengan baik dan bersih, risikonya pun akan sangat besar, penyakit berbahaya dapat mengintai si kecil, seperti bakteri meningitis. Salah satunya itu adalah infeksi yang disebabkan oleh cronobacter. Dimana bakteri tersebut dapat menyebabkan  radang selaput otak dan usu pada bayi Anda. Hal itu telah diungkapkan oleh tim dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat (AS).

Seorang petugas meningitis dari CDC yakni Anna Bowen mengatakan, bahwa keterkaitan yang sangat erat sekali antara kebersihan alat pompa ASI dengan kesahatan bayi. Terutama pada bayi yang terlahir dalam keadaan yang prematur, itu sangat berisiko akan terkenanya bakteri meningitis yang menyerang.

Oleh karena itu, sangat penting sekali dalam memastikan kebersihan pada alat pompa. Dibawah ini merupakan tahap-tahap yang tidak boleh dilewatkan begitu saja pada saat membersihkan pompa ASI, yakni:

1.Sebelum menyentuh peralatan makan bayi lakukanlah cuci tangan yang bersih dan menggunakan tissue yang disinfektan.

2.Terlebih dahulu lepaskan bagian-bagian pada alat pompa ASI, kemudian cuci bersih dengan menggunakan air yang mengalir. Jangan sampai meletakkan alat pompa ASI di dalam wastafel.

3.Cuci seluruh alat pompa dengan menggunakan campuran sabun dan air yang telah dipanaskan di dalam baskom.

4.Bilaslah alat pompa ASI di baskom yang berbeda.

5.Lalu keringkanlah alat pompa ASI, baskom dan peralatan yang lainnya dengan meletakkannya di tempat yang bersih. Jangan digosokkan pada handuk karena akan menyebabkan penyebaran bakteri.

6.Simpanlah alat pompa ASI di tempat yang bersih dan terlindungi setelah memang benar-benar kering.