Laman

Kamis, 22 Juni 2017

Vaksin Yang Aman dan Efektif Hindari Meningitis dan Lainnya

Vaksin yang aman dan efektif, vaksin merupakan bahan antigenic yang dapat digunakan untuk dapat menghasilkn kekebalan aktif terhadap suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus, sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami ataupun liar. Vaksin juga dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan, sehingga tidak menimbulkan penyakit. Selain itu, vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurninnya.

Vaksin Yang Aman dan Efektif Hindari Meningitis dan Lainnya

Dengan menggunakan Vaksin yang aman dan efektif, tedapat 10 Penyakit Berbahaya Ini Dapat Anda Cegah. Salah satu cara dalam meningkatkan imunitas tubuh serta terhindar dari penyakit yang mematikan dan ganas adalah dengan pemberian vaksin. Tidak perlu khawatir dan galau lagi tentang keamanan vaksin karena terbukti secara ilmiah.

Berikut dibawah ini merupakan lima fakta yang perlu Anda ketahui tentang vaksin yang aman dan efektif seperti yang telah disampaikan dokter Sekretaris Utama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yakni, Piprim Yanuarso :

1. Vaksin aman dan efektif
Kepada Orangtua tidak perlu ragu lagi dalam mengantarkan sang buah hati untuk mendapatkan vaksin. "Tidak perlu ragu dan khawatir lagi tentang keamanan dan efektivitas vaksin karena sudah melalui uji klinik. Ini akan lebih aman dari obat," jelasnya.

2. Vaksin mencegah penyakit mematikan
Dengan pemberian vaksin pada anak dapat mencegah kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan imunisasi. Misalnya polio, batuk rejan, tetanus, campak, pneumonia, dan meningitis.

3. Vaksin bikin tubuh kebal
"Vaksin juga menyediakan kekebalan yang lebih bagus dari kekebalan yang alami sesudah terinfeksi," tutur Piprim.

Lanjutnya,  Piprim mengungkapkan bahwa ketika ada seseorang yang terinfeksi campak atau cacar air misalnya, tubuhnya memang akan kebal. "Namun, kalau misalkan kenanya polio bagaimana? Walaupun akan menjadi kebal tapi harus lumpuh dulu. Masa terjadi lumpuh dulu baru kebal. Karena dapat kehilangan fungsi sangat penting," paparnya.

4. Vaksin kombinasi itu aman
Sudah terbukti bahwa penggunaan vaksin kombinasi itu aman. Bahkan pemberian vaksin kombinasi dapat mengurangi anak yang drop out atau tidak memperoleh vaksinasi lanjutan.

5. Bahaya setop vaksinasi
Bahaya pasti akan datang bila banyak orangtua antivaksin pada anaknya. Berbagai macam jenis penyakit ganas dan berbahaya bisa kembali mewabah apabila banyak anak tidak mendapatkan vaksin

"Bila terdapat 40 persen orang galau untuk memvaksin anaknya, maka penyakit tersebut akan datang kembali bangkit lagi dari kubur," terang Piprim.

Selasa, 20 Juni 2017

Waspadai Hewan Peliharaan Dirumah Agar Terhindar dari Meningitis

Waspadai hewan peliharaan, Waktu masih dalam usia tiga minggu, bahwa Sparkle Anderson didiagnosa oleh dokter mengidap meningitis dan berisiko meninggal dunia. Penyakit yang diderita oleh  bocah malang itu disebabkan oleh kucing peliharaan yang berada di rumah sang ibu, seringkali menyatroni si bocah dan menjilati botol susunya si bocah tersebut.

Waspadai Hewan Peliharaan Dirumah Agar Terhindar dari Meningitis

Ann Dodd yang berusia 21 tahun menceritakan. Ketika melihat kondisi si buah hati, hatinya sungguh miris sekali dan itu sungguh menakutkan. Bagaimana bisa, anak yang masih berusia tiga minggu didiagnosa penyakit yang cukup membahayakan juga mematikan itu? Oleh sebab itu, waspadai hewan peliharaan yang ada dirumah.

Di hari kejadian setelah diketauhi penyakitnya, Ann melihat Anderson tidak berhenti menangis. Setelah mencoba melakukan berbagai macam cara, bocah itu tidak kunjung menghentikan suara tangisannya. Bahkan, tangisannya semakin pecah dan memberontak. Waspadai hewan peliharaan.

"Setelah beberapa jam kemudian, saya memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Naluri saya sebagai ibu kandungnya mengatakan pasti ada yang tidak beres dalam dirinya," terang Ann.

Setiba di rumah sakit Musgrove Park, berada di Taunton, Anderson langsung ditangani oleh tim medis yang ada disana, dan menjalani serangkaian tes. "Hati saya semakin hancur, ketika harus melihat anak itu terhubung dengan banyak selang. Ketika mereka menyatakan bahwa anak saya meningitis, hati saya merasa sakit," jelas Ann menambahkan.

Selama ini dalam merawat anaknya itu Ann tidak pernah menemukan ruam di tubuh anaknya. Maka dari itu, dia sempat tidak percaya ketika mengetahui hasil yang dibacakan langsung oleh dokter.

Setelah diumumkan bahwa ada bentuk lain dari ciri-ciri seorang anak yang terkena meningitis, dan hanya ada 39 kasus yang terjadi seperti ini, barulah Ann percaya itu. "Saya sangat terkejut sekali, terlebih ketika ditambah anak saya dapat mati bila tidak segera diselamatkan," tutur Ann.

Untuk dapat menyelematkan Anderson, tim medis melakukan beberapa serangkaian pemeriksaan tambahan. Guna, mencari tahu apa penyebabnya yang dideritanya. Sampai pada akhirnya, tim doktercpun menemukan sumber meningitis yang dialami oleh Anderson, yakni bersumber dari kucing peliharaan yang ada di rumah.

"Anak tersebut tertular virus berbahaya yang disebut dengan nama pasteurella multocida," jelas Ann.

bakteri ini biasa bersarang di hewan peliharaan yang ada dirumah seperti anjing dan kucing. Bakteri yang ditransfer ke dalam tubuh manusia dengan melalui gigitan, goresan, dan air liur. Hanya saja, jarang yang menyebabkan penyakit hingga meningitis.

Juru bicara dari Meningitis Research Foundation menerangkan, bahwa meningitis dapat disebabkan oleh organisme seperti virus, bakteri atau jamur yang dapat menginfeksi cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (meninges). Oleh karena itu, kasus meningitis yang diakibatkan oleh infeksi yang diwariskan dari kucing dinilai langka.

Ann mejelaskan, bahwa sudah sejak kejadian itu, dirinya digelayuti oleh rasa bersalah yang teramat dalam. Dan sejak saat itu juga, Ann lebih berhati-hati lagi untuk mendekatkan Anderson dengan hewan peliharaan yang ada dirumah.

Setelah dua bulan lamanya di rumah sakit, akhirnya Anderson dinyatakan sembuh dan diizinkan untuk pulang. Sekarang, Anderson telah tumbuh menjadi anak yang menggemaskan dan juga sehat

Senin, 19 Juni 2017

Keong Sawah Mengintai Kesehatan Diantaranya Meningitis

Keong sawah, Apakah Anda termasuk penggemar masakan keong sawah atau tutut? Dilihat dari sisi kandungan gizi, keong sawah memag memiliki nilai protein sebesar 12 persen, kalsium 217 mg, rendah kolesterol, 81 gram air dalam 100 gram keong sawah dan sisanya itu mengandung niacin serta folat, energi, protein, karbohidrat, kalsium, phosfor, dominasi vitamin A dan vitamin E serta zat gizi makronutrien yakni zat protein dalam kadar yang tinggi dan zat mikronutrien yang berupa mineral dalam bentuk kalsium.

Keong Sawah Mengintai Kesehatan Diantaranya Meningitis

Pada intinya bahwa keong sawah adalah salah satu sumber protein hewani yang sangat bermanfaat bagi manusia. Dibalik nilai gizi yang terkandung dalam keong sawah, adapun risiko yang mengintai kesehatan Anda. Adapun tiga risiko keong sawah bagi kesehatan yakni:

1. Menyebabkan Cacingan

Jika keong sawah diolah dengan tidak benar, dapat berakibatkan penyebar cacing pada manusia. Keong selain nilai gizinya yang tinggi  juga menjadi salah satu inang perantara cacing Trematoda. Cacing ini dapat berkembang dalam tubuh manusia, cacing tersebut berbentuk seperti daun dan dapat berkembang dalam usus manusia.

Untuk dapat menghindari penularan cacing pada manusia sebaiknya keong sawah dimasak benar dan secara sempurna. Hal ini disebabkan karena masih terdapat beberapa budaya masyarakat yang masih menyukai dan mengonsumsi keong sawah dalam keadaan yang masih mentah sebagai bahan campuran wine/anggur maupun sate. Daging keong sawah sangat  tidak diajurkan dimasak setengah matang, sama halnya dengan daging bekicot, karena terdapat bahaya makan daging bekicot.

2. Infeksi Kronis

Schistosomiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing Schistosoma. Schistososmiasis urogenital dapat menyebabkan kerusakan pada sistem kemih, ureter, kerusakan pada ginjal dan bahkan hingga gagal ginjal. Cara kerja Cacing schistosoma dengan masuk melalui pori-pori kulit.

Sedangkan schistosomiasis usus dapat menyerang sistem pencernaan dengan gejala yang ditimbulkan ialah sakit perut, diare dan tinja berdarah. Jika infeksi usus didiamkan saja dan terus terjadi dapat menyebabkan hati menjadi membesar dan akumulasi cairan dalam rongga peritoneal bisa terjadi.

Penyakit schistosomiasis tergolong dalam daftar penyakit yang cukup berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada penderitanya. Penyebarannya itu selain melalui konsumsi keong sawah juga bisa melalui dengan penggunaan air yang telah tercemar cacing yang berkembang biak pada kerbau dan manusia.

3. Meningitis

Penyakit meningitis yang diderita oleh seseorang salah satunya disebabkan oleh cacing Angiostrongylus Cantonensis. Cacing yang berjenis seperti itu dapat masuk dalam tubuh manusia apabila keong sawah tidak dimasak secara matang hingga sempurna atau bahkan dikonsumsi dalam keadaan yang masih mentah. Selain itu cacing juga dapat menular dengan melalui cara tersebut dilakukan untuk membunuh bakteri/cacing yang ada pada keong sawah.

Jaga selalu kebersihan tubuh Anda dari berbagai penyakit melalui virus dan kuman dengan cara cuci tangan, kaki dan anggota tubuh lain yang terkena kontak langsung dengan keong sawah ataupun ketika Anda terkena lumpur menggunakan sabun yang memiliki antiseptik terhadap kuman dan bakteri. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir masuknya cacing pada tubuh manusia. Jangan luga untuk selalu menggunakan air higenis pada saat mencuci bahan makanan, tidak sembarang memilih sumber air untuk dikonsumsi.

Sabtu, 17 Juni 2017

Gejala Meningitis Selalu Terabaikan

Gajala meningitis selalu terabaikan, Sudah memasuki 2 tahun berjalan, Indonesia telah dikejutkan dengan kematian Olga Syahputra, yang merupakan salah satu comedian paling besar yang pernah dipunyai oleh Negeri ini. Sebelumnya sempat absen selama satu tahun lebih dari dunia layar kaca yang sudah menaikkan namanya dan diketahui diserang dengan penyakit yang sungguh misterius. Banyak spekulasi soal penyaitnya, sebab tidak pernah ada kabar resmi yang menyebutkan nama penyakitnya. Masyarakat hanya mengetahui suhu tubuh Olga yang tidak teratur, sering demam tinggi dan kelelahan. Tidak lama kemudian kepergiannya. Berhembus kabar di berbagai media nama penyakitnya meningitis.


Gejala Meningitis Selalu Terabaikan


Meningitis adalah infeksi pada selaput pelindung (meninges) yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang. Pada saat peradangan terjadi, meninges akan membengkang disebabkan infeksi yang terjadi. Sistem saraf dan otak dapat merusak ke beberapa kasus. Adapun tiga gejala meningitis selalu terabaikan. Oleh sebab itu, yang harus selalu diwaspadai adalah demam tinggi, sakit kepala dan leher terasa kaku.

Gejala meningitis selalu terabaikan begitu saja, karena serupa dengan masalah kesehatan lain, seperti sakit kepala dan flu sehingga dianggap hal yang biasa. Namun, adapun sejumlah gejala lain yang perlu diwaspadai oleh masyarakat luas. Agar tetap selalu menjaga kesehatan dan peduli akan kesehatan.

Dr Sudhir Kumar, yang merupakan konsultan senior ahli saraf dari Institute of Neurosciences, Hyderabad, memapaparkan apa saja gejala-gejala meningitis yang harus diwaspadai:

1. Kejang
Dalam kasus yang terbilang parah, bahwa meningitis bermanifestasi sebagai kejang. Hal itu dikaenakan oleh bakteri atau virus yang telah memengaruhi wilayah yang mengendalikan kesadaran. Bahkan, hingga tidak sadarkan diri. Itu merupakan salah satu gejala yang sangat umum dari meningitis yang sering sekali diabaikan.

2. Kebingungan
Jika diantara Anda ada mengalami atau merasakan kesulitan dalam berkonsentrasi dan kebingungan, yang disertai dengan sakit kepala, maka harus selalu waspada. Karena, kondisi tersebut menunjukkan adanya radang atau infeksi pada otak atau jaringan yang menyelimuti menutupi otak.

3. Sensitif cahaya
Serupa seperti kasus lain yang masih terkait dengan sakit kepala, orang yang tidak suka dengan pancaran cahaya lampu dan lebih memilih tinggal di dalam gelap. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan sebagai gejala meningitis, terutama jika digabungkan dengan tanda-tanda yang lainnya.

4. Ruam kulit
Dalam beberapa kasus yang sudah terjadi, infeksi yang disebabkan oleh virus atau bakteri meningokokus. Hal ini sebagian besar terjadi pda orang dewasa yang aktif secara seksual dan hanya terjadi pada 30 persen kasus keseluruhan meningitis yang telah terjadi. Sedangkan, untuk infeksi yang terjadi dikarenakan oleh bakteri pneumokokus, hampir 60 persen tidak menyebabkan ruam apapun.

Rabu, 14 Juni 2017

5 Fakta Mengenai Meningitis

5 fakta mengenai meningitisMeningitis merupakan penyakit yang cukup membahayakan, bagi si penderita meskipun dinyatakan sembuh pasti akan meninggalkan bekas dari meningitis tersebut. pasalnya banyak kasus meningitis yang berakhir dengan kelumpuhan/kecacatan dan mematikan. Untuk mengetahui apa itu Meningitis, berikut dibawah ini adalah fakta-fakta soal Meningitis!

5 Fakta Mengenai Meningitis


1. 120 Ribu Kematian di Dunia Akibat Meningitis

Berikut fakta pertama dari 5 fakta mengenai meningitis. Menurut catatan yang sudah ada mengenai Meningitis, pada setiap tahunnya, Meningitis merupakan salah satu penyebab utama 120 ribu kematian di dunia. 1,2 juta penderita lainnya mengalami kelumpuhan permanen akibat virus ini. Kebanyakan kasus yang terjadi berasal dari negara-negara yang masih berkembang seperti di Indonesia ini.

2. Kemungkinan Meninggal Cukup Besar

Virus Meningitis memaksa para penderitanya agar menyerah menghadapi penyakit tersebut dan menyerah dengan keadaan yang terjadi padanya. Ini salah satu 5 fakta mengenai meningitis. Dalam catatan para ahli yang membidangi Meningitis, kemungkinan mereka meninggal 24 sampai 48 jam usai didiagnosa cukup besar, yaitu 10 persen. Kalau pun berhasil ditangani, mereka akan memiliki kemungkinan lumpuh otak sebesar 20 persen.

3. Sembuh Bukan Akhir Segalanya

Inipun merupakan salah satu diantara 5 fakta mengenai meningitis. Kemampuan adanya virus meningitis dalam diri tepatnya pada otak yang akan merusak kinerja otak sangatlah kuat. Meski pun sang penderita mampu untuk selamat dari kematian, namun efek dari meningitis pun tidak dapat dianggap remeh begitu saja. Dapat mengakibatkan tuli permanen hingga kerusakan otak bakal jadi konsekuensinya.

4. Menyerang Anak Muda

Ada satu dari 5 fakta mengenai meningitis, berikut pada orang dewasa gejala yang paling sering itu adalah sakit kepala hebat, leher terasa kaku, fotofobia (intoleransi terhadap cahaya yang terang), demam tinggi dan lain sebagainya, Banyak kasus meningitis yang terjadi pada usia anak-anak. Namun, pada salah kaprah dalam mengetahui Meningitis. Karena virusnya hanya menyerang pada manusia dewasa saja. Namun kenyataannya, dialami oleh 15-19 justru punya resiko terkena meningitis. Sedangkan, pada anak kecil, gejala yang telah disebutkan seringkali tidak tampak. Dan hanya dengan berupa rewel dan kelihatan tidak sehat.

5. Dimulai Dari Demam

Pada proses masuknya virus Meningitis memang nggak dapat untuk diprediksi. Namun, untuk gejalanya masih bisa dideteksi. Kebanyakan kasus menigitis pasti dimulai dari demam tinggi yang nggak ada akhirnya. Kemudian, sakit kepala yang hebat akan membuat pikiran mengalami kebingungan. Rasa pegal-pegal juga akan muncul, terutama di bagian leher terasa kaku. Inilah terakhir dari 5 faktor mengenai meningitis.

Selasa, 13 Juni 2017

Waspada Kosmetik Lama Anda Bisa Jadi Meningitis dan Sejenisnya

Waspada kosmetik lama, Coba Ingat-ingat kembali kapan terakhir kalinya Anda membongkar tas kosmetik dan menyortir peralatan makeup yang sudah lama tidak terpakai? Bahkan menambah koleksi make up yang baru, padahal yang lama saja sudah tidak terpakai lagi dan jumlahnya masih banyak. Itulah kebiaaan yang dilakukan dari sebagian wanita yang hobi mengoleksi make up. Alhasil karena sudah ada yang make up yang baru, make up lama tidak dipakai lagi, sehingga kosmetik pun menjadi kedaluwarsa dan tidak layak lagi untuk digunakan.

Waspada Kosmetik Lama Anda Bisa Jadi Meningitis dan Sejenisnya

Meskipun seperti itu, masih ada saja yang menyimpan bahkan masih menggunakannya tanpa ia sadari akan menimbulkan bahaya yang mengintai dirinya.waspada kosmetik lama Anda bisa jadi meningitis dan sejenisnya. Ada sebuah tes laboratorium yang pernah dilakukan di London ini mungkin akan membuat para wanita yang memiliki kebiasaan menyimpan kosmetik lama setelah mengetahui pasti akan segera menyingkirkan peralatan kosmetiknya yang sudah tidak layak untuk dipakai. Produk makeup yang sudah lama disimpan hingga kadaluwarsa ternyata menyimpan banyak bakteri yang sangat berbahaya, salah satunya yang terdapat pada make up tersebut adanya bakteri penyebab radang selaput otak atau meningitis yang mematikan yaitu enterococcus faecils.

Adapun hadir para peneliti dari London Metropolitan University yang telah melakukan pemeriksaan lima produk kosmetik seperti blush-on, foundation dan lip gloss dan menemukan bahwa semuanya itu menyimpan banyak bakteri yang berbahaya jadi waspada kosmetik lama Anda.

Selain dengan enterococcus faecalis, seluruh peralatan kosmetik yang sudah kedaluwarsa juga menyimpan bakteri yang berbahaya lainnya yaitu eubacterium. Eubacterium adalah yang bisa menyebabkan bacterial vaginosis (ketidakseimbangan floradan bakteri pada Miss V) dan aeronoma, penyebab gastroenteritis dan infeksi yang terjadi pada luka. Tidak hanya itu saja, para peneliti juga menemukan adanya staphlyoccocus epidermidis, bakteri  yang menjadi  penyebab jerawat yang kebal terhadap antibiotik, juga enterobacter yang menyebabkan infeksi saluran lubang hidung a dan pernapasan.

Studi yang dilakukan semata-mata hanya saja ngn mengetes lima produk kecantikan yang dikirimkan oleh wanita dan beauty blogger dari seluruh Britania Raya. Yaitu blush-on, foundation, lipstik, lip gloss dan maskara. Rata-rata produk kosmetik yang diperiksa sudah kedaluwarsa empat hingga sembilan bulan. Untuk mpat produk kosmetik pertama yang disebutkan sebelumnya, setelah dites positif terpapar bakteri enterococcus faecalis.

Alat make up Blush-on yang kita miliki apabila sudah sembilan bulan kedaluwarsa akan mengandung bakteri yang paling banyak, sementara maskara yang telah empat bulan kedaluwarsa berada di urutan kedua. Lip gloss yang sudah berumur satu tahun tapi belum kedaluwarsa tetap saja mengandung bakteri ketiga paling banyak. Lip gloss memang lebih rentan sekali terpapar bakteri karena digunakan pada mulut, dimana banyak bakteri yang berkumpul di situ.

Sementara itu, untuk foundation yang dijadikan sebagai alas bedak yang memiliki kedaluwarsa empat bulan berada di urutan keempat yang menyimpan bakteri yang paling banyak. Sedangkan untuk lipstik yang sudah berumur 10 bulan sejak dibeli, akan mengandung bakteri paling sedikit di antara kelima jenis kosmetik yang diuji tadi.

"Biasanya kebanyakan wanita benar-benar dirinya tidak menyadari bahwa kosmetik mereka tersebut berpotensi mengembangbiakkan bakteri yang mematikan. Penelitian ini juga sungguh mengejutkan kami dan menunjukkan terdapat risiko kesehatan yang cukup tinggi di sini," ungkap Rakesh Aggarwal, CEO Escentual, retailer kecantikan online yang memprakarsai penelitian ini,

Memiliki risiko bahaya tinggi untuk di jauhi . mengurus bayi. Sebab bakteri penyebab meningitis banyak ditemukan dalam beberapa kosmetik yang sudah kedaluwarsa. Di Inggris, Enterococcus faecils sudah tercatat sebagai bakteri yang dapat membunuh lebih banyak pada usia anak-anak di bawah usia lima tahun ketimbang bakteri infeksi lainnya di Inggris.

"Secara keseluruhan  , produk makeup berupa foundation, lip gloss dan lipstick yang ah dites di bawah pengawasan ketat laboratorium positif mengandung enterococcus faecalis. Bakteri tersebut memiliki potensi besar dapat mematikan yang menyebabkan meningitis dan septicaemia adalah salah satu yang paling banyak membunuh bayi-bayi baru lahir," jelas Ahli mikrobiologi Paul Matewele dari London Metropolitan University.

Jadi sangat disarankan, kosmetik yang kira-kira sudah 10 bulan atau setahun lebih tidak dipakai, sebaiknya disingkirkan saja. Pilih dengan cerdas dan bijak dalam membeli kosmetik, pastikan Anda akan memakainya secara rutin sehingga bisa habis pada waktunya. Hilangkan kebiasaan menumpuk kosmetik lama karena bisa sangat berbahaya.

Senin, 12 Juni 2017

Hindari dan Lakukan Ini Agar Tidak Terkena Meningitis

Hindari dan lakukan ini, Penyakit radang selaput otak atau biasa dikenal “Meningitis” hingga saat ini menjadi momok untuk balita. Penyakit yang sangat kejam pasalnya tidak ada harapan sehat bagi penderita meningitis. Hampir 50 persen penderita yang terkena meningitis meninggal dan jika sekalipun ada yang selamat pasti akan mengalami kecacatan atau keterbelakangan. Penyakit meningitis itu menyerang pada selaput otak dengan angka kematian mencapai 50 persen. Kalupun ada seorang penderita meningtitis lolos dari maut, untuk balita akan mengalami bebagai gejala dari sisa penyakitnya seperti tuli, lumpuh, lamban, epilepsi dan retardasi mental.

Hindari dan Lakukan Ini Agar Tidak Terkena Meningitis

pengertian dari meningitis adalah suatu peradangan pada selaput otak yang disebut dengan meninges, yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Meningitis juga dapat disebabkan oleh berbagai macam virus dan bakteri yang menyerang. Sudah dilakukan sebuah penelitian prospektif di beberapa rumah sakit yang ada di Indonesia, hasilnya menunjukkan bahwa 10 persen dari penyebab meningitis yang dialamai oleh balita adalah bakteri pneumokokus, yang angka kesembuhannya cukup rendah dan bisa mengakibatkan cacat permanen. Hindari dan lakukan ini agar tidak terkena meningitis.

"Hindari dan lakukan ini agar bakteri meningitis yang hidup dan diam di tenggorokan orang yang dalam keadaan sehat," ungkap Dr Hardiono Pusponegoro, Sp.A(K). Bakteri pneumokokus memang dapat hidup dan diam pada tenggorakan hanya ada 10 persen orang sehat, baik bayi, balita dan individu dewasa.

Apabila daya tahan tubuh dalam keadaan rendah atau sedang tidak stabil, bakteri dalam tenggorokan tersebut dapat masuk dengan mudah .100000 yang masuk ke dalam tubuh, darah dan otak sehingga menyebabkan penyakit meningitis. Dengan adanya ha; siuk sangat rentan terjadi pada bayi dan anak, karena daya tahan tubuh mereka yang belum kuat.

Selain itu, untuk cara penularan bakteri pneumokokus sangat mudah karena carrier (balita dan orang dewasa) akan menyebarkannya melalui udara, pertukaran dari pernapasan dan sekresi-sekresi tenggorokan.

"Pengertian bakteri pneumokokus yaitu pembunuh balita terbesar di Indonesia," terang Dr Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, ynag merupakan Sekretaris Satgas Imunisasi PP-IDAI dan Ahli Tumbuh Kembang Anak dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak di FKUI-RSCM.

Gejala klinis meningitis pada umumnya seperti demam tinggi, kejang-kejang, penurunan kesadaran dengan ditandai berkurangnya respons atau tanggapan terhadap rangsangan. Gejala pada bayi seperti demam ada sebesar 62 persen, hipotermia dimana tubuh merasa sangat kedinginan, letargi (penurunan kesadaran), muntah-muntah, kesulitan minum, sesak napas, diare, kejang atau ubun-ubun besar membenjol.

Sedangkan gejala yang terjadi pada anak-anak, seperti demam, kejang, nyeri kepala, penurunan kesadaran, leher terasa kaku pada 75 persen.

Orang yang berisiko tinggi terjangkitnya penyakit akibat bakteri pneumokokus adalah sebagai berikut dibawah ini:

a. Bayi atau anak yang sudah berusia di bawah 2 tahun
b. Bayi yang lahir kurang bulan/prematur dan berat lahir rendah
c. Bayi yang hanya diberi ASI (air susu ibu) sebentar atau sedikit
d. Kawasan hunian padat dan banyak penduduk
e. Sering terpapar dengan asap rokok
f. Penitipan anak (day care)
g. Sering mengalami infeksi virus pada saluran pernapasan
h. Sering mendapat antibiotik yang dosisnya tidak kuat dan tinggi
i. Penderita penyakit kronis
j. Sistem kekebalan rendah, seperti penderita HIV

Dr Soedjatmiko menerangkan bahwa perlu ada upaya yang keras untuk melakukan pencegahan meningitis, karena sekali bakteri tersebut sampai masuk ke selaput otak, maka tidak ada harapan untuk sembuh total bagi si penderita.

Berikut dibawah ini merupakan upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu:

Nutrisi
Dengan pemberian ASI yang cukup, makanan lengkap dan juga seimbang, vitamin A, Zinc, dan juga yang lainnya.

Perilaku hidup sehat
1. Tutup mulut atau hidung ketika batuk dan bersin dengan menggunakan kain kecil atau masker
2. Hindari mencium bayi dengan mulut
3. Hindari infeksi virus berulang seperti flu yang berulang-ulang
4. Hindari polusi yang bertebaran seperti asap dapur, asap rokok, asap kendaraan dan lainnya.

Vaksinasi dan imunisasi
a. Serta yang sangat terpenting vaksinasi pneumokokus: PCV 7 dan PCV 13
b. Dengan rutin melakukan imunisasi: BCG, DTP, Campak, Hib, Influenza

Sabtu, 10 Juni 2017

Hindari Cium Si Kecil Karena Dapat sebabkan Meningitis

Hindari cium si kecil, Banyak para orangtua yang begitu sayang dengan anaknya, dengan mencium bayinya berulangkali di seluruh bagian pipi. Tingkah bayi yang lucu dan selalu menggemaskan, seringnya melampiaskannya lewat ciuman. Namun ternyata, kebiasaan yang seringkali dilakukan dengan mencium bayi terbukti akan membahayakan kesehatan bagi sang bayi itu sendiri.

Hindari Cium Si Kecil Karena Dapat sebabkan Meningitis

Pasalnya, hindari cium si kecil karena terdapat banyak kuman dan virus penyebab penyakit yang dapat ditularkan melalui percikan ludah dan penyebaran di udara sehingga dapat terhirup oleh bayi. "Yang lebih dikhawatirkan lagi dari cium itu adanya air ludah yang mengandung banyak sekali virus yang bisa saja akan tertular melalui udara. Kalau di luar negeri, ada larangan mencium anak oleh sembarang orang,” kata Product Manager PT Wyeth Indonesia dr. Theresia Adhitirta.

Hindari cium si kecil. Lalu, apa saja penyakit yang dapat mengancam bayi bila sering dicium, berikut di bawah ini antaranya

1. Ancaman Penyakit IPD
Jelas dr. Theresia, mengatakan bahwa kebiasaan yang selalu dilakukan oleh seseorang adalah mencium bayi. Hal itu berpotensi menyebabkan bayi tersebut terkena penyakit Invasive Pneumococcal Disease (IPD), yang merupakan sekelompok penyakit infeksi pneumokokus seperti radang paru (pneumonia), infeksi darah (bakteremia), dan radang selaput otak atau meningitis.

Lebih bahayanya lagi, penyakit ini termasuk berisiko kematian tinggi dan mengalami kecacatan pada balita. "Nilai tingkat kematian penyakit ini terbilang tinggi hingga mencapai 50 persen," ujarnya.

Sambungnya, sudah banyak kasus yang ditemukan bahwa penyakit ini menyerang anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun. Di samping itu, anak-anak yang telah dititipkan di tempat penitipan anak atau play group cenderung akan lebih berisiko tinggi terpapar penyakit ini.

Kemudian, untuk bayi yang lahir secara prematur, tidak mendapatkan ASI, tinggal di tingkat yang berpolusi, lingkungan yang penuh dengan asap rokok, serta tempat hunian padat termasuk di sekolah, pasar dan mall juga sangat beresiko tinggi. "Sebaiknya untuk anak-anak jangan terlalu sering dibawa jalan-jalan ke mall atau tempat keramaian," tuturnya.

2. Terkena Batuk dan Flu
Ingatlah, pada saat mencium si kecil, kuman seperti batuk dan flu ikut berpindah dari mulut ke pipi atau bibir si kecil. Akibatnya, si kecil pun akan ikut tertular, sehingga beberapa waktu yang akan datang, ia akan terjangkit penyakit tersebut.  Ingat, penyakitnya timbul seperti flu dan batuk, sakit kepala, menular melalui percikan ludah. Saat Anda sedang bersin, batuk, bernapas, termasuk mencium bayi, kuman  akan ikut terbang dan menulari orang yang ada di sekelilingnya.  

3. Rawan demam
Beberapa macam penyakit dengan gejala demam tinggi dapat ditularkan dengan melalui berciuman, termasuk beberapa penyakit demam. Entah itu flu, radang tenggorokan, atau yang lalinnya. Apalagi imunitas si kecil juga belum berkembang dengan  baik,  sehingga ia dengan mudah terserang penyakit dan menyebabkannya jadi sakit.

4. Ancaman Radang Otak Bila Bayi Sering Dicium
Kesehatan pada seseorang yg usia dewasa sudah tidak dapat dilihat dari penampilan fisik. Artinya, boleh saja kalau ia terlihat sehat-sehat saja, padahal di tubuhnya sedang digerogoti penyakit menular. Salah satu penyakit menular yang rawan hinggap pada tubuh si kecil adalah radang otak, alias meningitis. Gejala awal meningitis yang ditandai dengan demam tinggi, sakit kepala, mual, muntah.Oleh karena itu, jangan enggan untuk menolak tamu yang datang untuk menengok si kecil tapi hendak mencium.

5. Terkena penyakit CMV
Cytomegalovirus atau yang lebih dikenal dengan singkatan CMV yang merupakan salah satu bentuk virus yang menyerupai virus herpes. Bagi penderita yang terinfeksi oleh Cytomegalovirus maka gejala yang ditimbulkan itu menyerupai flu bahkan beberapa mengalami tanpa gejala. Virus ini juga bisa menyebar lewat air liur. Bila si kecil dicium oleh penderita yang terkena CMV, kemungkinan besar si kecil akan mengalami CMV juga. Penyakit ini sangat berbahaya, bahkan mematikan.

6. Terserang virus herpes
Virus ini merupakan Infeksi menular seksual yang dapat ditularkan melalui berciuman. Celakanya, virus ini juga dapat bersarang di dalam tubuh seseorang semasa hidupnya. Maka dari itu, dapat cegah dengan menolak secara halus bagi setiap tamu yang akan mencium si kecil.

7. Cacar air
Cacar air yang disebabkan oleh virus varicella-zoster. Dimana virus ini dapat sampai kepada seseorang dengan kontak langsung pada seseorang yang terinfeksi. Selain itu juga dapat menular. Padahal pada orang-orang yang sebelumnya tidak ada yang menderita atau mengalami cacar air karena belum mempunyai imunitas terhadap cacar air.

Ada yang lebih berbahaya lagi, cacar air ini bisa menyebar dengan mudah melalui udara ketika si penderita cacar air batuk atau bersin, dimana tetesan-tetesan kecil cairan yang dikeluarkan mengandung banyak virus. Jadi penularannya itu mirip dengan penyakit flu yang sama-sama disebabkan oleh virus. Jadi sudah bisa dibayangkan apabila penderita mencium si kecil, virusnya pun sudah pasti akan berpindah, sehingga menyebabkan si kecil ikut terkena sakit cacar.

Jumat, 09 Juni 2017

Waspada Meningitis Menjelma Sakit Telinga

Waspada meningitis menjelma sakit telinga, Ada seorang ibu yang dirawat di salah satu Rumah Sakit (RS) dengan keluhan sakit telinga. Namun, pada akhirnya lima hari kemudian ibu tersebut meninggal dunia. Ternyata, ia mengidap penyakit meningitis. Jo Graham namanya, ibu dari tiga anak ini, mendatangi Rumah Sakit Universitas Coventry pada bulan Desember lalu karena ia merasakan sakit di telinganya yang begitu intens sekali. Namun, sangat disayangkan wanita yang berusia 36 tahun ini gagal merespon berbagai pengobatan yang diberikan padanya hingga kemudian ia mengalami koma.

Waspada Meningitis Menjelma Sakit Telinga

“Suaminya, yang bernama Mark, pada akhirnya memutuskan untuk mematikan alat pendukung hidupnya, setelah dokter memberikan pernyataan bahwa tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan dirinya,” tulis Daily Mail. Semula, tidak terdeteksi bahwa meningitis menyerang dalam tubuh Jo. Namun, dari pemeriksaan lebih lanjut untuk deteksi penyakit apa sebenarnya yang di derita, ternyata penyakit inilah yang merenggut nyawa istrinya sendiri. Waspada meningitis menjelma sakit telinga.

Meningitis terjadi karena infeksi meninges. Meninges merupakan selaput dinding atau pelindung yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Infeksi ini yang dapat menyebabkan meninges menjadi meradang hingga membengkak dan dapat merusak saraf dan otak. Yang terjadi pada Jo awalnya hanya sakit telinga. Namun, siapa sangka berakhir dengan kematian. Oleh karena itu, waspada meningitis menjelma sakit telinga. Gejala umum yang seringkali muncul adalah demam tinggi, sakit kepala hebat, muntah-muntah, leher terasa kaku, pobia cahaya, napas cepat dan ruam yang tak kunjung reda.

Meningitis memilki dua jenis, yakni meningitis virus dan meningitis bakteri. Meningitis bakteri merupakan yang sangat serius dan meningitis bakteri ini juga harus diperlakukan sebagai keadaan darurat medis. Sementara untuk meningitis virus yang lebih umum terjadi dan lebih mudah untuk dapat disembuhkan. Virus meningitis juga akan sembuh dalam beberapa minggu saja. Namun, meningitis bakteri membutuhkan penanganan serius dengan penggunaan obat antibiotik.

Meningitis juga merupakan penyakit yang sangat sulit untuk dideteksi, sebab datangnya secara tiba-tiba. Dan, seringkali dianggap sebagai flu biasa. Bahkan, dalam kasus Jo ini, meningitis menjelma menjadi sakit telinga (siapa yang menyangka?), yang terlihat penyakit biasa ternyata berakhir kematian. Oleh sebab itu, gejala aneh apapun yang dirasakan pada tubuh seharusnya jangan pernah disepelekan begitu saja, jika tidak ingin menyesal di kemudian hari.

Kamis, 08 Juni 2017

Jurus Ampuh Tangkis Meningitis

Jurus ampuh tangkis meningitis, Dari Divisi Alergi Imunologi Klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo yakni Dokter Iris Rengganis, berbagi tips untuk menangkis penyakit yang berbahaya, meningitis. Meningitis yang merupakan penyakit akibat infeksi yang terdapat pada meninges (selaput pelindung) yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang. Pada saat meradang, meninges terjadi pembengkakkan karena infeksi yang terjadi itu.

Jurus Ampuh Tangkis Meningitis

Beberapa kasus yang telah ditemukan bahwa sistem saraf dan otak bisa rusak. Adapun tiga gejala meningitis yang patut untuk diwaspadai adalah demam tinggi, sakit kepala hebat dan leher terasa kaku. Adapun jurus ampuh tangkis meningitis.

Iris mengungkapkan, ada jurus ampuh tangkis meningitis, untuk beberapa kasus meningitis yang ada selama ini, untuk perlindungan jangka panjang dapat dilakukan dengan melakukan tindakan pemberian vaksinasi atau dalam jangka pendek dengan penggunaan antibiotik.

“Beberapa perubahan perilaku yang terjadi dapat juga efektif,” tutur Iris

Bakteri dan virus meningitis bersifat menular. Namun, keduanya itu tidak semenular seperti selesma atau flu. Bakteri dan virus juga dapat ditularkan dengan melalui droplet dari sekret pernapasan selama kontak dekat seperti ciuman, batuk atau bersin, tapi tidak dapat disebarkan hanya dengan menghirup udara saja di mana seorang penderita meningitis berada.

“Selain itu, meningitis virus itu biasanya disebabkan oleh enterovirus dan yang paling sering disebarkan dengan melalui kontaminasi tinja,” papar Iris.

Risiko infeksi bisa saja diturunkan dengan mudah yaitu dengan cara mengubah perilaku yang dapat menyebabkan penularan. Mengenai vaksinasi, sudah sejak tahun 1980-an, banyak negara yang sudah memasukkan imunisasi terhadap Haemophilus influenzae B dalam program vaksinasi rutin untuk anak.


Hal tersebut secara praktis sudah menghilangkan patogen jenis seperti ini sebagai penyebab meningitis pada anak di negara-negara tersebut. Lalu, bagaimana dengan pemberian antibiotik? Untuk pemberian antibiotik jangka pendek adalah sebuah metode dengan menggunakan pencegahan lain, terutama khusus untuk meningitis meningokokus.

Pada kasus-kasus yang terjadi mengenai meningitis meningokokus yang ditemukan, pengobatan yang diberikan pada orang yang mengonsumsi antibiotik, misalnya; rifampisin, siprofloksasin atau seftriakson, itu semua dapat menurunkan risiko terkena penyakit ini, tapi tidak dapat melindungi terhadap infeksi di kemudian hari.

Resistensi terhadap rifampisin sudah mulai meningkat tinggi sejak digunakan, sehingga dianjurkan untuk dapat mempertimbangkan penggunaan antibiotik yang lain,” jelas Iris. 

Jurus ampuh dalam menangkis meningitis:

Vaksin

Untuk langkah pertama yang bisa untuk di lakukan untuk dapat mencegah penyakit meningitis adalah dengan cara melakukan vaksinasi

“Untuk dapat melakukan vaksinasi tersebut ketika sudah berusia antara 11 hingga 12 tahun atau antara 16 hingga 21 tahun,” jelas Iris. Dengan usia-usia itu merupakan umur yang sangat rawan terkena meningitis.

Jangan tukaran Barang

“Selain meningitis yang disebabkan oleh bakteri. Meningitis juga dapat menular dengan melalui air liur serta ingus si penderita,” papar Iris. Lebih baik agar menggunakan peralatan milik sendiri dan pastikan untuk membersihkannya secara benar.

Jaga Jarak

Menjaga jarak dengan si penderita meningitis sangat dibutuhkan. “Karena bakteri dan virus yang terdapat pada cairan hidung maupun mulut dapat menular dengan cepat ketika batuk atau bersin,” kata dia.

Rajin Cuci Tangan

Biasakan untuk rajin mencuci tangan sebelum atau sesudah melakukan sesuatu karena itu merupakan salah satu cara dalam melakukan pencegahan penyakit meningitis. Hal ini wajib sekali untuk dilakukan ketika Anda baru saja dari kamar mandi, memegang uang, berada di tempat yang ramai atau baru saja bersin dan batuk atau hal lainnya.

Jaga Kekebalan Tubuh

Pola hidup sehat dapat ditunjukkan dengan mengonsumsi makanan yang sehat juga seperti sayur, buah-buahan dan makanan berprotein dapat membantu menjaga kekebalan tubuh.

Selainnya, sangat disarankan agar melakukan olah raga secara teratur agar tubuh semakin kebal terhadap bakteri dan virus penyebab penyakit. “Istirahat/tidur yang cukup juga sangat penting untuk menjaga tubuh agar tetap fit, sehat dan kuat,” kata Iris.

Rabu, 07 Juni 2017

Bayi Prematur Lebih Rentan Meningitis

Bayi prematur lebih rentan meningitis, Infeksi yang terjadi pada meninges (selaput pelindung) yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang atau meningitis. Meninges yang membengkak karena infeksi yang terjadi.pada anak banyak sekali faktor risikonya. Awalnya bayi terkena infeksi kian meningkat, dapat dilihat dari sejak lahir, termasuk bayi yang lahir dalam keadaan prematur dan berat badan lahir rendah.

Bayi Prematur Lebih Rentan Meningitis

Khusus Spesialis Anak dari RS Evasari Jakarta yakni dr Darmady Darmawan SpA memaparkan, bahwa ada beberapa faktor risiko yang dapat memengaruhi bayi prematur lebih rentan meningitis. Di masa kehamilan, seorang calon ibu wajib menjaga kandungannya dengan baik agar bayi tetap lahir dengan tepat waktu dan normal.

"Adapun beberapa Faktor risiko meningitis yakni diantaranya dari jenis kelamin yang akan berpengaruh, bayi yang pada saat dilahirkan dalam keadaan prematur atau memiliki berat badan yang rendah. Oleh sebab itu, bayi prematur lebih rentan meningitis. Beda jika dibandingkan dengan bayi yang lahir tepat waktu lebih jarang terkena meningitis," jelas dr Darmady.

Sebab, Pada bayi yang lahir prematur, menurut dr Darmady, lebih memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih buruk dibandingkan dengan bayi yang lahir tepat waku. Sehingga, anak pun akan menjadi rentan sakit sampai dia tumbuh besar nanti.

Jika para orangtua tidak menginginkan anaknya lahir prematur, tentu saja orangtua harus selalu  menjaga kandungannya dengan baik selama kehamilan hingga tiba lahir. Bisa saja bayi yang baru dilahirkan sudah menderita meningitis akibat dari ibunya yang telah terkena infeksi terlebih dulu.

"Meningitis dideteksi sejak dini pada saat masih masa dalam kandungan itu tidak bisa dilakukan. Sebabnya ialah bahwa seorang bayi atau anak harus melakukan pemeriksaan fisik terlabih dulu, jika didapatkan ternyata ada kelainan saraf atau tidak, melakukan periksa darah, dan lain sebagainya," sambungnya.

Untuk sementara dapat melakukan pencegahan sudah dapat dilakukan sejak bayi. Orangtua harus memberikan vaksin pencegah meningitis yang dapat disuntikkan dari usia dua bulan.

Tentu dengan melakukan vaksin, prevalensi meningitis dapat menurun. Meskipun biaya vaksin yang tidak cukup murah melainkan sedikit mahal, tapi dengan melakukan tindakan vaksin untuk anak sudah melindungi anak dari penyakit infeksi mematikan tersebut.